Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, baru-baru ini menyampaikan kabar penting yang wajib kita simak. Fenomena iklim La Nina, meski dalam kategori lemah, kini sedang berlangsung di Indonesia, tepat menjelang puncak musim hujan. Tentu saja, muncul pertanyaan besar: apa dampaknya bagi kita semua?
Menurut Faisal, La Nina lemah ini diprediksi akan bertahan cukup lama, setidaknya hingga Maret 2026. Namun, jangan salah sangka. Meskipun "lemah," dampaknya terhadap peningkatan curah hujan tetap perlu diwaspadai, terutama saat kita memasuki puncak musim hujan. Ini bukan waktunya untuk lengah!
Apa Itu La Nina Lemah dan Kenapa Penting?
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya La Nina itu? Sederhananya, La Nina adalah fenomena pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ini kebalikan dari El Nino yang menyebabkan pemanasan. La Nina biasanya membawa dampak peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Meski BMKG menyebutnya "lemah," bukan berarti kita bisa mengabaikannya. La Nina lemah tetap memiliki potensi untuk memicu perubahan pola cuaca yang signifikan. Apalagi, saat ini kita sedang menuju puncak musim hujan, di mana intensitas hujan memang sudah tinggi secara alami.
Puncak Musim Hujan Sudah di Depan Mata
Beberapa wilayah di Indonesia sebenarnya sudah memasuki fase puncak musim hujan sejak November ini. Fase krusial ini diprediksi akan terus berlangsung hingga Februari 2026. Jadi, siap-siap ya untuk menghadapi hari-hari yang lebih basah dari biasanya.
Data BMKG hingga akhir Oktober menunjukkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia, tepatnya 43,8 persen atau setara 306 Zona Musim (ZOM), telah resmi memasuki musim hujan. Peralihan musim ini membawa konsekuensi serius, yaitu meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai daerah.
Ancaman Cuaca Ekstrem yang Perlu Diwaspadai
Dengan masuknya musim hujan dan kehadiran La Nina lemah, potensi cuaca ekstrem semakin besar. Mulai dari hujan lebat yang bisa memicu banjir dan tanah longsor, angin kencang yang berpotensi merusak, hingga ancaman siklon tropis yang datang dari arah selatan Indonesia. Semua ini adalah kombinasi yang tidak bisa dianggap remeh.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, curah hujan memang terus meningkat secara signifikan. Sebagian besar wilayah Indonesia kini berada pada kategori curah hujan menengah hingga tinggi, menandakan bahwa atmosfer kita sedang sangat aktif.
Wilayah Mana Saja yang Paling Rawan?
BMKG telah memetakan beberapa wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi. Wilayah-wilayah ini meliputi Indonesia bagian selatan, seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian selatan. Jika kamu tinggal di area ini, tingkatkan kewaspadaanmu!
Sementara itu, selama periode November-Desember 2025, sebagian besar wilayah Indonesia juga masih akan mengalami curah hujan di atas normal. Ini terutama terjadi di Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara. Jadi, tidak hanya di selatan, wilayah lain juga perlu bersiap.
Faktor Lain yang Memperparah Kondisi
Kehadiran La Nina lemah bukan satu-satunya pemicu. Kombinasi faktor global dan regional lainnya turut memperburuk kondisi atmosfer. Salah satunya adalah Dipole Mode negatif (-1,61), yang juga berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah barat Indonesia.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi keberadaan Siklon Tropis Kalmaegi di Samudra Hindia bagian barat daya Lampung. Beberapa sirkulasi siklonik lain juga turut memengaruhi dinamika cuaca nasional. Semua faktor ini membuat atmosfer tetap labil dan sangat mendukung pembentukan awan konvektif yang membawa hujan lebat.
Hujan Lebat dan Angin Kencang di Mana-mana
Kombinasi faktor-faktor tersebut meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah. Beberapa daerah yang perlu sangat waspada antara lain Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, NTB, dan Sulawesi Selatan.
Dalam sepekan ke depan, tepatnya pada 3-9 November, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di pesisir barat Sumatra, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Jadi, pastikan kamu selalu membawa payung atau jas hujan dan berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.
Persiapan Diri Adalah Kunci
Meskipun La Nina disebut "lemah," pesan utama dari BMKG adalah tetap waspada. Puncak musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem adalah hal yang nyata. Penting bagi kita semua untuk mempersiapkan diri dan lingkungan sekitar.
Pastikan saluran air tidak tersumbat, periksa kondisi atap rumah, dan siapkan rencana evakuasi jika tinggal di daerah rawan banjir atau longsor. Selalu pantau informasi terbaru dari BMKG melalui kanal-kanal resmi mereka. Keselamatan adalah prioritas utama.
Bagaimana dengan Prediksi Jangka Panjang?
Untuk periode Februari hingga April 2026, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori menengah dan mulai berangsur normal. Ini membawa sedikit angin segar setelah melewati musim hujan yang intens.
Namun, untuk saat ini, fokus kita adalah menghadapi puncak musim hujan yang sedang berlangsung dan La Nina lemah yang menyertainya. Tetap waspada, tetap siap siaga, dan semoga kita semua bisa melewati periode ini dengan aman dan lancar.


















