banner 728x250

Topan Ragasa Menggila! Hong Kong di Ambang Bencana, Indonesia Kena Imbasnya?

Ilustrasi tokoh kartun Mario dengan karakter lain seperti Bowser.
Super Topan Ragasa menerjang Hong Kong, Mario bersiap menghadapi Bowser.
banner 120x600
banner 468x60

Super Topan Ragasa kini menjadi sorotan utama dunia, dengan ancaman serius yang mengarah langsung ke Hong Kong. Badai raksasa ini diperkirakan akan menerjang wilayah tersebut dengan kecepatan luar biasa, memicu kekhawatiran akan dampak yang mengerikan. Namun, bukan hanya Hong Kong yang harus bersiaga penuh, Indonesia pun patut mewaspadai efek tidak langsung dari fenomena alam dahsyat ini.

Hong Kong dalam Cengkeraman Badai

banner 325x300

Hong Kong bersiap menghadapi terjangan Super Topan Ragasa yang diperkirakan tiba pada Senin (22/9) malam. Otoritas cuaca setempat telah mengeluarkan peringatan badai tropis level 1 pada siang hari, dan berencana menaikkannya ke level 3 pada malam hari seiring dengan mendekatnya badai. Kecepatan Ragasa yang relatif tinggi menjadi faktor utama ancaman ini, membuat warga diminta untuk segera melakukan persiapan.

Pada pukul 05.00 waktu Hong Kong, Ragasa terpantau sedang melintasi Selat Luzon dengan kecepatan angin di pusatnya mencapai 230 km/jam. Kekuatan angin ini menunjukkan betapa dahsyatnya potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh topan tersebut. Choy Chun-wing, seorang pejabat ilmiah senior di lembaga peramal cuaca, menegaskan bahwa Ragasa akan menjadi ancaman yang cukup besar bagi pantai Guangdong.

Yang membuat Ragasa lebih berbahaya adalah perkiraan bahwa kekuatannya tidak akan memudar secara signifikan sebelum mencapai kota. Ini berbeda dengan Topan Mangkhut yang melanda Hong Kong pada 2018, yang sempat melemah sebelum mendarat. Oleh karena itu, kata Choy, ancaman dari Ragasa kali ini bisa jauh lebih besar dan lebih serius, menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat.

Ancaman Banjir dan Gelombang Pasang Ekstrem

Peringatan serius juga dikeluarkan terkait potensi gelombang pasang yang signifikan, yang dapat memicu banjir di daerah pesisir. Tingkat permukaan laut diperkirakan akan serupa dengan yang terjadi saat Topan Hato pada 2017 dan Topan Mangkhut pada 2018 menerjang. Kedua topan tersebut memicu sinyal peringatan tertinggi, yakni nomor 10, yang mengindikasikan situasi darurat.

Choy Chun-wing secara tegas menyatakan bahwa wilayah yang pernah terendam banjir akibat Hato dan Mangkhut akan kembali terendam. Daerah-daerah rendah seperti Lei Yue Mun, Heng Fa Chuen, beberapa desa di Tuen Mun, dan Tai O, yang sebelumnya luluh lantak, kini harus bersiap lagi. Warga di wilayah tersebut didesak untuk segera melakukan persiapan mitigasi, termasuk mengamankan barang berharga dan mengevakuasi diri jika diperlukan.

Mengingat kembali kengerian Topan Hato dan Mangkhut, Observatorium mencatat tinggi air laut maksimum di stasiun pasang surut Quarry Bay saat itu masing-masing mencapai 3,57 dan 3,88 meter. Angka ini menjadikannya yang ketiga dan kedua tertinggi dalam sejarah pencatatan, menunjukkan betapa parahnya dampak yang mungkin terjadi. Warga diimbau untuk tidak menunda persiapan, karena waktu yang tersedia sangat terbatas.

Angin Kencang dan Cuaca Buruk yang Mengintai

Warga Hong Kong memang tidak akan memiliki waktu yang lama untuk melakukan persiapan, karena badai tropis ini diperkirakan akan berada paling dekat dengan kota pada Rabu (24/9) pagi. Observatorium juga memperingatkan bahwa angin lokal akan secara bertahap menguat pada Selasa (23/9), dengan kondisi yang diperkirakan memburuk dengan cepat segera setelahnya. Perubahan cuaca yang drastis ini menuntut kesiapsiagaan penuh.

Diharapkan angin berkecepatan badai hingga badai tropis akan mendominasi secara lokal pada Rabu, bahkan angin mungkin mencapai kecepatan badai tropis di lepas pantai dan di daerah dataran tinggi. "Cuaca akan buruk dengan hujan lebat disertai angin kencang dan badai petir," tambah Choy. Situasi ini sangat berbahaya bagi aktivitas di luar ruangan dan dapat menyebabkan gangguan serius pada transportasi dan infrastruktur.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Meskipun Super Topan Ragasa berpusat jauh di Laut Filipina, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah mengeluarkan prediksi mengenai dampak tidak langsungnya. Pada Minggu (21/9), BMKG melaporkan bahwa Siklon Tropis Ragasa terpantau di Laut Filipina timur Pulau Luzon dengan kecepatan angin maksimum sekitar 100 knot (185 km/jam) dan tekanan udara minimum 925 hPa.

BMKG juga memperingatkan bahwa kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Ragasa diperkirakan akan meningkat dalam 24 jam ke depan hingga kategori 5, bergerak ke arah barat menjauhi wilayah Indonesia. Meski tidak berada di jalur langsung, pergerakan siklon ini tetap berpotensi memicu cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Nusantara, akibat dinamika atmosfer yang saling terkait.

Wilayah Indonesia yang diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akibat Topan Ragasa adalah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Ini berarti warga di ketiga provinsi tersebut harus bersiap menghadapi potensi banjir dan tanah longsor, terutama di daerah-daerah yang rentan. Imbauan untuk membersihkan saluran air dan memantau informasi cuaca terbaru menjadi sangat penting.

Selain itu, dampak lain yang patut diwaspadai adalah gelombang laut tinggi. Wilayah perairan Kepulauan Sangihe-Talaud diperkirakan akan mengalami gelombang laut setinggi antara 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi aktivitas pelayaran dan nelayan di area tersebut, menuntut kewaspadaan ekstra dan penundaan perjalanan laut jika kondisi tidak memungkinkan. Keselamatan adalah prioritas utama.

Super Topan Ragasa adalah pengingat akan kekuatan alam yang luar biasa. Hong Kong menghadapi ancaman langsung yang serius, sementara Indonesia merasakan dampak tidak langsung yang juga patut diwaspadai. Kesiapsiagaan dan pemantauan informasi dari otoritas terkait menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan bersama.

banner 325x300