Setelah drama panjang dan negosiasi yang alot, nasib TikTok di Amerika Serikat kini menemui titik terang. Pembicaraan divestasi antara Amerika Serikat dan China dikabarkan hampir rampung, membawa angin segar bagi para pengguna aplikasi video pendek populer ini. Kini, bocoran mengenai siapa saja pemilik baru TikTok mulai muncul ke permukaan.
Proses divestasi ini menjadi langkah krusial untuk menyelamatkan TikTok dari ancaman pemblokiran total di AS. Upaya ini melibatkan investasi besar dari sejumlah capital venture, dana ekuitas swasta, dan perusahaan teknologi terkemuka yang berbasis di Amerika Serikat. Mereka siap membentuk konsorsium baru untuk mengoperasikan TikTok secara domestik.
Drama Panjang TikTok di Amerika Serikat
Kisah TikTok di Amerika Serikat memang tak pernah sepi dari kontroversi. Sejak era pemerintahan Donald Trump, aplikasi milik ByteDance asal China ini selalu menjadi sorotan karena isu keamanan data dan potensi intervensi pemerintah Beijing. Kekhawatiran akan data pengguna AS yang bisa diakses oleh pemerintah China menjadi pemicu utama.
Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari ancaman pemblokiran hingga perintah eksekutif yang kontroversial. Namun, TikTok selalu berhasil menemukan celah hukum atau negosiasi untuk memperpanjang napasnya. Kali ini, divestasi kepemilikan menjadi solusi paling konkret untuk memastikan operasional aplikasi tetap berjalan di Negeri Paman Sam.
Negosiasi yang Penuh Liku dan Tensi Tinggi
Kerangka kesepakatan divestasi ini sebenarnya sudah disepakati oleh negosiator AS dan China di Madrid pada pekan ini. Isi kesepakatan tersebut mencerminkan proposal yang pernah diajukan kepada Presiden AS Donald Trump pada April lalu. Sayangnya, rencana tersebut sempat terhenti akibat pengumuman tarif tinggi Trump terhadap China.
Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini memang seringkali merembet ke sektor teknologi. TikTok menjadi salah satu korban dari perang dagang dan teknologi yang berkepanjangan. Namun, dengan adanya kesepakatan di Madrid, diharapkan tensi ini bisa mereda dan memberikan kepastian bagi masa depan TikTok.
Siapa Saja Investor yang Akan Mengambil Alih?
Menurut sumber yang familiar dengan kerangka kerja tersebut, para investor ini akan membentuk perusahaan baru yang berbasis di AS. Perusahaan inilah yang nantinya akan mengoperasikan aplikasi TikTok secara domestik, memastikan data pengguna AS tetap berada di wilayah Amerika. Ini adalah langkah penting untuk memenuhi tuntutan keamanan nasional AS.
Bocoran nama-nama investor yang diperkirakan akan memiliki sekitar 80 persen saham TikTok ini cukup mengejutkan. Di antara mereka, terdapat nama-nama besar seperti Oracle, Andreessen Horowitz, dan Silver Lake. Kehadiran mereka menunjukkan betapa seriusnya upaya penyelamatan TikTok ini.
Peran Penting Oracle dan Larry Ellison
Nama Oracle menjadi salah satu yang paling menonjol dalam daftar calon pemilik baru TikTok. Ketua Eksekutif Oracle, Larry Ellison, yang sempat menjadi orang terkaya di dunia, dikabarkan ikut terlibat aktif dalam pembicaraan untuk membeli aset TikTok di AS. Ini bukan kali pertama Ellison menunjukkan minatnya pada TikTok.
Pada Januari lalu, Trump secara terang-terangan mengatakan akan mendukung Ellison untuk membeli aset TikTok di AS. Bahkan, Oracle sudah memiliki hubungan historis dengan TikTok. Pada tahun 2020, Oracle mulai menghosting data TikTok di AS, dan sempat mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump pertama untuk membeli TikTok, meskipun akhirnya diblokir.
Keterlibatan Oracle menunjukkan bahwa ada upaya serius untuk membangun infrastruktur data yang aman dan terpercaya di AS. Dengan Oracle sebagai salah satu pemilik, diharapkan kekhawatiran mengenai keamanan data pengguna dapat diminimalisir. Ini juga bisa menjadi solusi jangka panjang untuk TikTok di pasar Amerika.
Konsorsium Baru dengan Dewan Direksi Mayoritas AS
Konsorsium baru yang akan mengambil alih TikTok ini juga akan dikelola oleh dewan direksi yang mayoritas anggotanya berasal dari AS. Bahkan, seorang anggota dewan akan ditunjuk langsung oleh pemerintahan Trump. Hal ini semakin mempertegas komitmen untuk memastikan kontrol dan pengawasan aplikasi sepenuhnya berada di tangan Amerika.
Laporan awal mengenai rincian kerangka kerja yang dibahas di Madrid ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal. Meskipun demikian, sumber-sumber mengingatkan bahwa kerangka kerja ini masih dalam pembahasan dan dapat berubah. Kesepakatan final diperkirakan akan ditandatangani secara resmi oleh Trump dan pemimpin China Xi Jinping melalui telepon pada Jumat (19/9).
Seorang pejabat senior Gedung Putih menegaskan bahwa setiap detail mengenai kerangka kerja TikTok hanyalah spekulasi belaka, kecuali jika diumumkan secara resmi oleh pemerintahan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa prosesnya masih sangat dinamis dan bisa saja ada perubahan di menit-menit terakhir.
Batasan Kepemilikan China dan "Win-Win Solution" Versi China
Meskipun Trump sebelumnya menginginkan kemitraan 50-50 antara ByteDance dan pemilik Amerika baru, ada undang-undang baru yang membatasi kepemilikan China. Undang-undang yang disahkan oleh kelompok bipartisan anggota kongres dan ditandatangani oleh mantan Presiden Joe Biden melarang China memiliki saham lebih dari 20 persen pada aset TikTok di AS. Ini adalah batasan yang jelas untuk memastikan kontrol mayoritas ada di tangan Amerika.
Di sisi lain, China menyebut kesepakatan kerangka kerja yang dicapai di Madrid ini sebagai "saling menguntungkan" atau win-win solution. Mereka menyatakan akan meninjau ekspor teknologi TikTok serta lisensi hak kekayaan intelektualnya. Pernyataan ini dimuat dalam surat kabar China People’s Daily, yang dikenal sebagai corong Partai Komunis yang berkuasa.
Artikel tersebut ditandai dengan nama "Zhong Sheng" atau "Suara China", istilah yang digunakan untuk mengemukakan pandangan mengenai kebijakan luar negeri. China menegaskan bahwa kesepakatan ini didasarkan pada prinsip saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan. Ini menunjukkan bahwa China juga melihat adanya keuntungan strategis dari kesepakatan ini.
Masa Depan TikTok di Tangan Pemilik Baru
Setelah bertemu dengan negosiator China di Madrid, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa batas waktu 17 September yang berpotensi mengganggu operasional aplikasi tersebut di AS dapat diperpanjang 90 hari. Perpanjangan ini diberikan untuk memungkinkan kesepakatan diselesaikan dengan lebih matang. Ini adalah kabar baik bagi pengguna TikTok yang sempat khawatir aplikasinya akan diblokir.
Dengan adanya perpanjangan waktu dan kerangka kesepakatan yang hampir rampung, masa depan TikTok di Amerika Serikat terlihat lebih cerah. Meskipun akan ada perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan dan operasional, aplikasi ini kemungkinan besar akan tetap bisa diakses oleh jutaan penggunanya. Ini adalah babak baru bagi TikTok, yang kini akan beroperasi di bawah bendera dan pengawasan mayoritas Amerika.


















