Setelah sekian lama menjadi misteri dan sumber kekhawatiran, Gedung Putih akhirnya buka suara terkait nasib algoritma TikTok di Amerika Serikat. Sebuah kesepakatan besar yang mengguncang dunia teknologi kini tengah digodok, menempatkan Oracle sebagai operator dan pengawas utama algoritma paling rahasia milik TikTok. Ini adalah jawaban atas salah satu pertanyaan terbesar dalam saga TikTok-AS yang tak kunjung usai.
Rahasia Algoritma TikTok Terkuak: Oracle Jadi Penjaga Baru
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengonfirmasi rincian penting ini dalam panggilan telepon dengan wartawan pada Senin (22/9) lalu. Berdasarkan kesepakatan yang tengah difinalisasi, algoritma TikTok di AS akan sepenuhnya dioperasikan di Amerika dan diawasi langsung oleh raksasa teknologi, Oracle. Ini adalah langkah monumental yang mengubah lanskap operasional TikTok di Negeri Paman Sam.
Jika kesepakatan ini benar-benar terlaksana, kontrol operasional TikTok di AS—termasuk salinan algoritmanya—akan dialihkan ke sebuah konsorsium yang berbasis di Amerika. Konsorsium ini akan memiliki mayoritas investor Amerika dan dikelola oleh dewan direksi yang juga mayoritas warga AS, memastikan kendali penuh berada di tangan pihak lokal.
Mengapa Algoritma TikTok Begitu Penting? Ini Alasannya!
Algoritma adalah jantung dan jiwa TikTok. Sistem rekomendasi konten inilah yang membuat aplikasi ini begitu adiktif, viral, dan digandrungi miliaran orang di seluruh dunia. Algoritma ini mampu memahami preferensi pengguna dan menyajikan konten yang relevan, menciptakan pengalaman personal yang tak tertandingi.
Namun, di balik popularitasnya, algoritma ini juga menjadi sumber kekhawatiran keamanan nasional yang serius bagi Amerika Serikat. Pejabat AS khawatir ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, bisa dipaksa oleh pemerintahnya untuk memanipulasi algoritma. Hal ini berpotensi memicu ketidakpuasan, menyebarkan propaganda, atau bahkan memengaruhi opini publik di AS, sebuah skenario yang sangat dihindari.
Undang-undang yang melarang TikTok atau mewajibkan penjualannya secara eksplisit melarang "kerja sama apa pun terkait pengoperasian algoritma rekomendasi konten" antara ByteDance dan pihak pemilik baru asal Amerika. Ini menunjukkan betapa krusialnya isu algoritma dalam konflik geopolitik dan teknologi ini.
Bagaimana Oracle Akan Mengawasi Algoritma Ini?
Berdasarkan kesepakatan yang sedang disusun, kelompok kepemilikan baru akan menerima salinan kode algoritma dari ByteDance. Mereka kemudian akan meninjau dan melatih ulang algoritma tersebut menggunakan data pengguna AS. Ini adalah langkah penting untuk memastikan transparansi dan keamanan.
Oracle disebut akan terus mengawasi secara ketat bagaimana algoritma menyajikan konten kepada pengguna di Amerika. Penting untuk dicatat bahwa kendali algoritma ini hanya akan berlaku untuk pengguna TikTok di wilayah Amerika Serikat, sementara operasi di negara lain tetap di bawah kendali ByteDance.
Siapa Saja Pemain di Balik Konsorsium Amerika Ini?
Konsorsium yang akan mengambil alih TikTok AS ini akan diisi oleh pemain-pemain besar di dunia teknologi dan investasi. Oracle dan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake sudah dipastikan akan menjadi bagian integral dari konsorsium ini. Kehadiran mereka menunjukkan seriusnya upaya divestasi ini.
Selain itu, sejumlah perusahaan AS dan global yang sebelumnya telah berinvestasi di ByteDance juga akan bergabung, ditambah beberapa investor baru. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyebut nama-nama besar seperti Michael Dell serta Lachlan dan Rupert Murdoch mungkin terlibat dalam kelompok pemilik baru ini, menambah bobot pada kesepakatan tersebut.
Seorang sumber yang mengetahui proses ini menyebut bahwa yang menjadi investor adalah perusahaan Fox Corp., bukan individu Murdoch secara langsung. ByteDance sendiri dikabarkan akan mempertahankan kurang dari 20 persen kepemilikan di TikTok AS jika kesepakatan disetujui, sebuah indikasi bahwa kontrol mayoritas memang akan beralih. Daftar final investor saat ini masih belum dipublikasikan, namun diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat.
Drama Panjang TikTok di AS: Kilas Balik Konflik Keamanan Nasional
Polemik TikTok di Amerika Serikat bukanlah hal baru, melainkan saga panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak era Presiden Donald Trump, aplikasi ini sudah menjadi sorotan tajam pemerintah AS. Kekhawatiran utama selalu berpusat pada potensi akses pemerintah China terhadap data sensitif pengguna AS dan kemampuan untuk memengaruhi konten yang dilihat oleh jutaan warga Amerika.
Pemerintah AS menganggap TikTok sebagai ancaman keamanan nasional yang serius, bukan hanya karena data, tetapi juga karena pengaruhnya terhadap informasi dan opini publik. Berbagai upaya, mulai dari ancaman pelarangan total hingga paksaan penjualan, telah dilakukan untuk memastikan bahwa TikTok beroperasi di AS dengan jaminan keamanan dan tanpa campur tangan asing.
Kesepakatan yang kini tengah difinalisasi ini adalah puncak dari negosiasi yang sangat panjang dan alot. Tujuannya jelas: memastikan TikTok bisa terus beroperasi di AS, namun dengan kendali penuh atas data dan, yang terpenting, algoritmanya, berada di tangan entitas Amerika. Ini adalah upaya untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan kedaulatan nasional.
Optimisme Gedung Putih dan Tantangan dari China
Meskipun kesepakatan ini terlihat sudah matang dan disetujui oleh pihak AS, masih ada satu rintangan besar yang harus dilewati: persetujuan resmi dari regulator China. Beijing sebelumnya telah menyatakan keberatan terhadap penjualan teknologi inti TikTok, termasuk algoritmanya, yang mereka anggap sebagai aset nasional.
Namun, Gedung Putih menunjukkan optimisme tinggi bahwa kesepakatan ini akan terwujud. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Sabtu (20/9) dengan tegas menyatakan, "Kami 100 persen yakin kesepakatan ini akan tercapai." Ia menambahkan bahwa dokumen final kemungkinan akan diteken "dalam beberapa hari ke depan," menandakan bahwa proses sudah sangat dekat dengan penyelesaian.
Presiden Trump juga disebut akan menandatangani perintah eksekutif pada akhir pekan ini, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memenuhi syarat sebagai divestasi berdasarkan undang-undang yang berlaku. Untuk memberi waktu bagi proses regulasi yang kompleks, Trump juga akan memperpanjang penundaan penegakan hukum selama 120 hari. Pada saat yang sama, ByteDance diperkirakan akan meneken kesepakatan kerangka kerja dengan satu atau lebih investor baru, menunjukkan komitmen dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan saga panjang ini.
Apa Artinya Ini untuk Masa Depan TikTok di Amerika?
Dengan perpanjangan tenggat pelarangan TikTok hingga 16 Desember 2025, finalisasi kesepakatan ini diperkirakan akan terjadi pada awal 2026. Jika rampung, ini akan menutup babak panjang upaya AS untuk mengambil kendali TikTok dari tangan China dengan alasan keamanan nasional, sebuah kemenangan diplomatik dan teknologi bagi Washington.
Bagi jutaan pengguna TikTok di AS, ini berarti aplikasi favorit mereka kemungkinan besar akan tetap ada dan beroperasi seperti biasa, namun dengan jaminan keamanan data dan algoritma yang lebih kuat. Ini juga bisa menjadi preseden penting bagi aplikasi global lainnya yang beroperasi lintas negara, menekankan pentingnya kedaulatan data dan kontrol teknologi inti.
Kesepakatan ini bukan hanya tentang TikTok semata, tetapi juga tentang bagaimana negara-negara menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keamanan nasional di era digital yang semakin kompleks. Sebuah langkah besar telah diambil, dan dunia akan terus mengawasi dampak jangka panjangnya terhadap industri teknologi global dan hubungan geopolitik.


















