banner 728x250

Terkuak! BMKG Bongkar Biang Kerok Longsor Cilacap, Peringatan Cuaca Ekstrem Makin Mendesak!

terkuak bmkg bongkar biang kerok longsor cilacap peringatan cuaca ekstrem makin mendesak portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya mengungkap serangkaian faktor cuaca kompleks yang menjadi dalang di balik tragedi longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Insiden yang terjadi di Kecamatan Majenang pada Kamis (13/11) ini bukan sekadar akibat hujan biasa, melainkan kombinasi fenomena atmosfer yang mematikan. Peringatan dini pun dikeluarkan, mengingat ancaman cuaca ekstrem masih terus mengintai.

Hujan Bertubi-tubi, Tanah Jenuh Pemicu Longsor

Berdasarkan analisis BMKG, longsor di Cilacap dipicu oleh guyuran hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara berturut-turut selama beberapa hari. Kondisi ini membuat tanah di lereng-lereng bukit menjadi sangat basah dan jenuh air, sehingga kehilangan daya topang dan rentan bergerak.

banner 325x300

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pengamatan di Pos Hujan Majenang mencatat curah hujan yang signifikan. Pada 10-11 November 2025, curah hujan mencapai 98,4 mm per hari dan 68 mm per hari. Meskipun setelah itu intensitas hujan sedikit menurun menjadi ringan, kondisi tanah tetap jenuh air hingga akhirnya memicu pergerakan massa tanah yang berujung pada longsor.

Fenomena Atmosfer di Balik Hujan Lebat

BMKG menegaskan bahwa kondisi atmosfer dalam beberapa hari terakhir memang sangat mendukung pembentukan awan hujan lebat. Salah satu pemicunya adalah aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), sebuah gelombang atmosfer besar yang bergerak dari barat ke timur di wilayah tropis. Kehadiran MJO ini seringkali berkorelasi dengan peningkatan curah hujan di wilayah yang dilaluinya.

Selain MJO, keberadaan gelombang atmosfer lain di wilayah yang sama turut memperkuat potensi hujan. Guswanto juga menyoroti adanya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali. Pusaran angin ini berperan penting dalam menarik massa uap air dan mendukung pembentukan awan konvektif yang membawa hujan deras.

Zona belokan angin di sekitar Pulau Jawa juga menjadi faktor krusial. Belokan angin ini menciptakan area konvergensi, di mana massa udara berkumpul dan naik, mempercepat proses pembentukan serta pertumbuhan awan hujan. Semua kondisi ini secara sinergis mendorong terbentuknya awan konvektif yang masif, yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, seringkali disertai kilat atau petir serta angin kencang.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa kelembapan udara di beberapa lapisan atmosfer tercatat sangat tinggi. Pada level 850 mb, 700 mb, dan 500 mb, kelembapan mencapai 70-100 persen. Tingginya kelembapan ini adalah indikator kuat akan ketersediaan uap air yang melimpah, sangat mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar.

Ancaman Cuaca Ekstrem Susulan: BMKG Beri Peringatan Dini

Kondisi ini belum berakhir. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19-22 November 2025. Peringatan ini merupakan bagian dari kewaspadaan yang telah disampaikan BMKG untuk wilayah Cilacap sejak 11-20 November 2025. Masyarakat diimbau untuk tetap siaga dan waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan.

BMKG Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Penanganan Darurat

Dalam upaya mendukung penanganan darurat pasca-longsor, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan kesiapan untuk menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Inisiatif ini diusulkan untuk mengurangi potensi hujan deras yang bisa memicu longsor susulan atau bahkan menghambat proses evakuasi korban.

Seto menjelaskan bahwa skema penerapan OMC yang disiapkan akan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor. Tujuannya adalah memastikan area Majenang terbebas dari hujan deras, sehingga tim evakuasi dapat bekerja dengan aman dan efektif tanpa terganggu oleh kondisi cuaca yang memburuk. Untuk melancarkan operasi ini, BMKG mengusulkan penempatan posko dan pesawat OMC di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung. Lokasi ini dinilai strategis untuk menjangkau area terdampak di Cilacap.

Namun, pelaksanaan OMC tidak bisa serta-merta dilakukan. Pemerintah daerah perlu terlebih dahulu menetapkan Status Siaga Darurat Bencana. Setelah itu, gubernur harus mengajukan permohonan resmi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa BNPB akan memfasilitasi pendanaan operasional menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) yang memang diperuntukkan bagi penanganan darurat bencana. Sementara itu, pelaksanaan teknis operasi akan disupervisi dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh BMKG.

Dukungan Informasi Cuaca dan Koordinasi Mitigasi

BMKG tidak hanya berhenti pada analisis dan usulan modifikasi cuaca. Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, menyampaikan bahwa BMKG terus memberikan dukungan informasi cuaca harian yang lebih rinci. Informasi ini sangat vital untuk membantu BASARNAS, BPBD, BNPB, dan instansi daerah lainnya dalam proses evakuasi di Desa Cibeunying.

Tim BMKG juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Sabtu (15/11) untuk mendapatkan data dan informasi terkini. Mereka terus memperbarui prakiraan cuaca harian. Pramujo menekankan bahwa informasi meteorologis yang tepat waktu sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya mitigasi dan mengantisipasi kemungkinan longsor susulan. BMKG berkomitmen untuk terus menerbitkan prakiraan cuaca dan peringatan dini terkait potensi hujan lebat serta risiko bencana hidrometeorologi melalui kanal-kanal resmi agar dapat segera ditindaklanjuti oleh semua pihak.

Selain Longsor, Bibit Siklon Tropis Juga Mengintai

Seolah belum cukup, BMKG juga mendeteksi dua Bibit Siklon Tropis, yaitu 97S dan 98S, yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem pada 15-16 November 2025. Meskipun peluang kedua bibit siklon ini untuk berkembang menjadi siklon tropis penuh masih rendah dalam 72 jam ke depan, dampaknya tetap signifikan dan patut diwaspadai.

Guswanto menjelaskan bahwa kondisi pendukung seperti suhu muka laut yang hangat dan aktivitas MJO yang meningkat tetap memicu dampak nyata. Dampak tersebut berupa hujan lebat dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

Dampak Potensial Bibit Siklon: Hujan Lebat hingga Gelombang Tinggi

Bibit Siklon 97S diperkirakan dapat menyebabkan hujan sangat lebat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Angin kencang juga diprediksi melanda NTB dan NTT, serta gelombang sedang hingga 2,5 meter di sejumlah perairan selatan Jawa hingga NTT.

Sementara itu, dampak tidak langsung dari Bibit Siklon 98S juga tak kalah serius. Bibit siklon ini berpotensi menyebabkan gelombang tinggi mencapai 2,5-4 meter di Samudra Hindia, khususnya di wilayah barat Lampung dan sekitarnya. Gelombang sedang juga diperkirakan terjadi di wilayah barat Aceh hingga Bengkulu. Untuk daratan, Bibit Siklon 98S dapat memicu hujan sedang hingga lebat serta angin kencang di Bengkulu, Lampung, Banten, dan Jawa Barat bagian selatan.

Seruan Kesiapsiagaan: Bersama Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Melihat kompleksitas dan potensi ancaman cuaca ekstrem yang terus meningkat, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan. Kejadian longsor di Cilacap dan beberapa daerah lain dalam beberapa hari terakhir menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan. Pemerintah daerah, aparat keamanan, media, dan masyarakat diimbau untuk bersinergi dalam menghadapi dan memitigasi risiko bencana hidrometeorologi yang kian nyata. Tetap pantau informasi resmi dari BMKG dan selalu prioritaskan keselamatan.

banner 325x300