banner 728x250

TERBONGKAR! Nasib TikTok di Tangan Trump & Xi, Siapa Pemilik Algoritma Sebenarnya?

Donald Trump dan tokoh kunci dalam kasus hukumnya.
Perkembangan kasus hukum mantan Presiden AS Donald Trump dan tokoh-tokoh yang terlibat.
banner 120x600
banner 468x60

Drama divestasi platform media sosial TikTok kini memasuki babak baru yang sangat krusial. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan bahwa ia dan Presiden China, Xi Jinping, telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan mengenai kesepakatan besar ini.

Kedua pemimpin negara adidaya itu dikabarkan selangkah lagi menyepakati divestasi TikTok dari ByteDance, perusahaan induk asal China, ke tangan investor AS. Namun, di balik kabar baik ini, ada satu isu besar yang masih menggantung: siapa yang akan mengendalikan algoritma TikTok?

banner 325x300

Trump sendiri enggan mengonfirmasi secara gamblang apakah investor AS akan memiliki kontrol penuh atas algoritma tersebut. Ia hanya menyatakan, "Semua sedang dibahas. Kita akan memiliki kendali yang sangat baik," seperti dilansir South China Morning Post.

Ia menambahkan bahwa sejumlah investor AS yang "terkenal" akan memegang kendali TikTok. Trump juga menegaskan bahwa AS akan memiliki kontrol yang sangat ketat atas algoritma media sosial yang sangat populer ini.

Drama Divestasi TikTok: Hampir Deal, Tapi…

Di sisi lain, Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa pihaknya menghormati keputusan perusahaan. China menyambut baik negosiasi bisnis yang mengikuti aturan pasar dan menghasilkan solusi yang sejalan dengan hukum China. Ini mengindikasikan bahwa Beijing punya batasan tersendiri.

ByteDance, sebagai induk TikTok, juga ikut buka suara terkait perkembangan ini. Juru bicara mereka menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua presiden atas upaya mereka untuk mempertahankan TikTok di Amerika Serikat.

"ByteDance akan bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk memastikan TikTok tetap tersedia bagi pengguna di AS," kata juru bicara tersebut. Pernyataan ini menunjukkan komitmen mereka untuk tetap beroperasi di pasar AS.

Kesepakatan yang sedang diproses ini, menurut laporan CNN, akan memungkinkan TikTok untuk tetap beroperasi di AS. Ini terjadi setelah sebagian besar kepemilikannya dialihkan ke investor asal Amerika, menandai perubahan besar dalam struktur kepemilikan.

Beberapa sumber yang dekat dengan proses divestasi ini membocorkan nama-nama besar yang diperkirakan akan terlibat sebagai investor mayoritas. Mereka adalah perusahaan-perusahaan venture capital dan dana ekuitas swasta raksasa.

Siapa Pemilik Sebenarnya? Investor Kakap AS Siap Ambil Alih

Nama-nama seperti Oracle, Andreessen Horowitz, dan Silver Lake disebut-sebut akan menjadi investor mayoritas. Ini adalah pemain-pemain kelas kakap di dunia teknologi dan keuangan yang siap menanamkan modal besar.

Sementara itu, investor China diperkirakan akan memiliki sekitar 20 persen saham sisa dari perusahaan tersebut. Ini berarti mayoritas kontrol akan berpindah tangan ke pihak Amerika.

Konsorsium baru ini juga akan dikelola oleh dewan direksi yang mayoritas anggotanya berasal dari AS. Bahkan, akan ada seorang anggota yang ditunjuk langsung oleh pemerintahan Trump, memastikan kepentingan Amerika terwakili.

Perubahan kepemilikan ini tentu saja akan mengubah lanskap operasional TikTok secara signifikan. Namun, pertanyaan besar tetap ada: apakah perubahan kepemilikan ini juga mencakup kontrol penuh atas teknologi inti TikTok?

Inilah yang menjadi inti dari perdebatan sengit antara kedua negara. Bukan hanya soal siapa yang punya saham, tetapi siapa yang punya kendali atas "otak" TikTok.

Algoritma TikTok: Harta Karun yang Jadi Rebutan

Ya, inti dari semua pembicaraan ini bukan hanya soal kepemilikan saham, melainkan juga terkait dengan kontrol atas algoritma TikTok. Algoritma inilah yang menjadi faktor utama di balik popularitas luar biasa aplikasi ini.

Algoritma TikTok adalah "mesin" yang mengatur konten apa yang muncul di feed pengguna, menjadikannya sangat adiktif dan relevan bagi miliaran orang. Kemampuannya untuk memprediksi minat pengguna adalah kunci kesuksesannya.

Pemerintah AS sangat khawatir bahwa algoritma tersebut dapat digunakan untuk kepentingan politik atau bahkan menjadi alat spionase. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, mengingat ketegangan geopolitik antara AS dan China.

Bayangkan jika algoritma ini bisa dimanipulasi untuk menyebarkan propaganda atau mengumpulkan data sensitif pengguna. Ini adalah skenario terburuk yang ingin dihindari oleh Washington.

Di sisi lain, China dilaporkan menentang keras untuk menyerahkan algoritma TikTok sebagai bagian dari kesepakatan. Bagi Beijing, algoritma ini adalah aset strategis dan kebanggaan teknologi mereka.

Penolakan China ini menambah kerumitan dalam proses negosiasi. Algoritma ini dianggap sebagai rahasia dagang yang sangat berharga, yang tidak mudah dilepaskan begitu saja.

Tantangan di Balik Kesepakatan: Regulasi dan Teknologi

Meskipun kesepakatan ini berpotensi menguntungkan semua pihak dalam beberapa hal, pertanyaan terbesar yang belum terjawab adalah nasib algoritma TikTok. Inilah yang bisa menjadi ganjalan terakhir.

Ada hukum yang melarang kerja sama antara entitas AS dan ByteDance yang berbasis di China terkait algoritma. Ini berarti, jika algoritma tetap di bawah kendali China, pemilik baru TikTok di AS akan menghadapi masalah teknis dan hukum yang besar.

Para pesaing TikTok selama ini juga kesulitan untuk mereplikasi algoritma yang sangat canggih ini. Ini menunjukkan betapa unik dan berharganya teknologi tersebut, menjadikannya aset yang sulit ditiru.

Jika kesepakatan tidak mencakup transfer kontrol algoritma, maka "TikTok versi AS" mungkin tidak akan seefektif atau sepopuler versi aslinya. Ini bisa menjadi kerugian besar bagi investor AS.

Masa Depan Hubungan AS-China: TikTok Sebagai Kunci?

Meskipun kedua pemimpin telah mencapai kemajuan dalam percakapan mereka, banyak detail teknis yang belum sepenuhnya diselesaikan. Pertemuan puncak APEC yang akan diselenggarakan di Korea Selatan bulan depan bisa menjadi ajang penting.

Trump dan Xi dijadwalkan akan bertemu di KTT tersebut, dan mungkin akan ada pembaruan lebih lanjut setelah pertemuan langsung mereka. Ini adalah kesempatan emas untuk menyelesaikan sisa-sisa negosiasi.

Satu hal yang pasti: tanpa kesepakatan terkait TikTok, pertemuan langsung antara Trump dan Xi akan sulit terjadi. Aplikasi ini telah menjadi simbol penting dalam perang dagang dan teknologi antara kedua negara.

Sebagai tambahan, Trump juga direncanakan untuk mengunjungi China awal tahun depan. Kesepakatan TikTok bisa menjadi jembatan penting untuk memperbaiki hubungan yang tegang dan membuka jalan bagi diskusi lebih lanjut tentang isu-isu lain yang lebih luas.

Nasib TikTok bukan hanya soal aplikasi media sosial, tetapi juga cerminan dari dinamika kekuatan global dan persaingan teknologi yang semakin intens. Siapa yang akhirnya mengendalikan algoritma ini akan menentukan arah masa depan digital dan geopolitik.

banner 325x300