banner 728x250

Internet Langsung dari Langit ke HP Kamu? Komdigi Kaji Teknologi Revolusioner Ini!

internet langsung dari langit ke hp kamu komdigi kaji teknologi revolusioner ini portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Pernah membayangkan bisa mengakses internet di mana saja, bahkan di tengah hutan belantara atau lautan lepas, tanpa perlu sinyal BTS? Impian ini mungkin akan segera jadi kenyataan di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah serius mengkaji teknologi Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D) yang berpotensi mengubah lanskap konektivitas nasional.

Wayan Toni Supriyanto, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi, mengungkapkan bahwa teknologi NTN-D2D ini masih dalam fase kajian awal. Pembahasan ini nantinya akan dibawa ke forum internasional, International Telecommunication Union (ITU), untuk mendapatkan masukan dan pengembangan lebih lanjut. Ini bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret menuju masa depan internet yang lebih inklusif.

banner 325x300

Apa Itu NTN-D2D dan Mengapa Penting?

Secara sederhana, NTN-D2D adalah teknologi yang memungkinkan perangkat seluler kamu, seperti smartphone, terhubung langsung dengan satelit. Artinya, tidak ada lagi ketergantungan pada menara Base Transceiver Station (BTS) di darat. Ini adalah game-changer, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Bayangkan saja, selama ini wilayah-wilayah terpencil, perbatasan, dan perairan seringkali menjadi "blank spot" alias area tanpa sinyal. Pembangunan BTS di lokasi-lokit sulit ini membutuhkan biaya dan infrastruktur yang tidak sedikit. Dengan NTN-D2D, satelit di angkasa akan bertindak sebagai "BTS raksasa" yang menjangkau seluruh pelosok negeri.

Manfaat Gila NTN-D2D untuk Indonesia

Potensi implementasi NTN-D2D di Indonesia membawa segudang manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan negara. Pertama, pemerataan konektivitas digital nasional akan semakin terwujud. Tidak ada lagi alasan geografis yang menghalangi akses internet.

Kedua, teknologi ini akan memperkuat ketahanan komunikasi nasional. Saat terjadi bencana alam yang merusak infrastruktur darat, koneksi satelit bisa menjadi jalur komunikasi vital yang tetap berfungsi. Ini sangat krusial untuk koordinasi bantuan dan informasi darurat.

Ketiga, NTN-D2D berpotensi menciptakan dampak ekonomi digital yang signifikan di daerah. Masyarakat di wilayah yang sebelumnya terisolasi akan bisa mengakses informasi, pendidikan, dan peluang bisnis online. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan mengurangi kesenjangan digital.

Komdigi Ajak Publik Berpartisipasi dalam Kajian

Untuk memastikan implementasi NTN-D2D berjalan optimal, Komdigi tidak bekerja sendiri. Mereka telah membuka konsultasi publik melalui dokumen Call for Information (CFI) terkait kajian regulasi dan kebijakan teknologi ini. Ini adalah kesempatan emas bagi semua pihak untuk berkontribusi.

Konsultasi ini bertujuan menghimpun pandangan, data, serta praktik terbaik dari berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari operator telekomunikasi, penyedia layanan satelit, industri perangkat, asosiasi, akademisi, hingga masyarakat umum, semua diundang untuk memberikan masukan. Proses ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk transparan dan inklusif.

Aspek yang Dikaji dan Tantangannya

Masukan yang diharapkan dari publik mencakup berbagai aspek penting. Mulai dari teknis implementasi, manajemen spektrum frekuensi yang krusial, model bisnis yang berkelanjutan, hingga skema kerja sama antar operator. Semua ini perlu dipikirkan matang-matang agar NTN-D2D bisa terintegrasi dengan ekosistem telekomunikasi yang sudah ada.

Tentu saja, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Alokasi frekuensi yang tepat, biaya investasi yang besar, kompatibilitas perangkat, hingga regulasi yang adaptif adalah beberapa di antaranya. Namun, dengan kolaborasi semua pihak, tantangan ini diyakini bisa diatasi demi kemajuan konektivitas Indonesia.

Bukan Sekadar Wacana: Starlink Sudah Memulainya

Teknologi Direct-to-Device dari satelit bukanlah fiksi ilmiah. Perusahaan satelit milik Elon Musk, Starlink, telah menerapkan teknologi serupa yang mereka sebut "Direct to Cell." Ini adalah bukti nyata bahwa konsep ini bisa diwujudkan.

Starlink mengklaim satelit mereka dengan kemampuan Direct to Cell memungkinkan akses menyeluruh untuk mengirim SMS, menelepon, dan menjelajah internet di mana pun kamu berada. Baik di darat, danau, atau perairan pesisir, semua bisa terhubung. Bahkan, perangkat IoT pun bisa terhubung dengan perangkat LTE umum.

Satelit Starlink dilengkapi dengan modem eNodeB yang berfungsi layaknya menara seluler di luar angkasa. Layanan ini dirancang agar bisa digunakan oleh semua ponsel LTE tanpa perlu perangkat khusus. Meski Starlink Direct to Cell belum tersedia di Indonesia, keberadaannya menjadi inspirasi dan tolok ukur bagi pengembangan NTN-D2D di tanah air.

Masa Depan Konektivitas Indonesia di Genggaman

Kajian Komdigi terhadap NTN-D2D adalah langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan visi Indonesia terkoneksi. Ini bukan hanya tentang internet yang lebih cepat, tetapi tentang keadilan akses, ketahanan komunikasi, dan pemberdayaan ekonomi digital di seluruh pelosok negeri. Teknologi ini berpotensi membuka pintu bagi inovasi dan peluang baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Dengan adanya teknologi ini, setiap warga negara, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk terhubung dengan dunia. Ini adalah fondasi penting untuk membangun masyarakat digital yang inklusif dan berdaya saing.

Kesempatan Berpartisipasi: Jangan Lewatkan!

Komdigi mendorong partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat untuk memberikan tanggapan. Kamu bisa menyampaikan masukan melalui surat elektronik ke email [email protected] dan [email protected] Batas waktu penyampaian tanggapan adalah 9 November 2025. Ini adalah kesempatan kamu untuk ikut serta membentuk masa depan konektivitas digital Indonesia. Jangan sampai terlewat!

banner 325x300