banner 728x250

Gila! Google Mau Bangun Data Center Raksasa di Luar Angkasa Demi AI, Ini Penjelasannya!

gila google mau bangun data center raksasa di luar angkasa demi ai ini penjelasannya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Google siap membuat gebrakan yang bikin melongo! Raksasa teknologi ini berencana membangun pusat data ambisius di luar angkasa pada awal tahun 2027. Langkah ini diambil untuk mendukung lonjakan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif.

Proyek ambisius ini diberi nama Project Suncatcher, menandai era baru komputasi di luar batas bumi. Ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang sedang digarap serius oleh Google.

banner 325x300

Project Suncatcher: Ambisi Google di Orbit

Bayangkan, data center yang selama ini kita kenal di darat, kini akan mengorbit di atas kepala kita. Google dari California berharap bisa memanfaatkan tenaga surya secara maksimal di luar angkasa. Tujuannya jelas, untuk mengurangi biaya operasional dan peluncuran roket di masa depan.

Peralatan uji coba pertama Project Suncatcher bahkan akan segera diluncurkan ke orbit dalam waktu dekat. Ini adalah langkah awal menuju visi besar Google untuk memindahkan infrastruktur AI ke luar angkasa.

Mengapa Luar Angkasa Jadi Pilihan Terbaik?

Para ilmuwan dan insinyur Google punya alasan kuat. Mereka berpendapat bahwa sekitar 80 satelit bertenaga surya bisa diatur di orbit, sekitar 400 mil di atas permukaan Bumi. Satelit-satelit ini akan dilengkapi dengan prosesor bertenaga tinggi untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat.

Penelitian Google yang baru dirilis menunjukkan bahwa biaya peluncuran ke luar angkasa akan menurun drastis. Diprediksi, pada pertengahan 2030-an, biaya operasional pusat data berbasis luar angkasa akan setara dengan yang ada di Bumi. Ini akan menjadi game changer.

Salah satu keuntungan terbesar adalah efisiensi energi. Panel surya di orbit dapat menghasilkan energi delapan kali lipat lebih efisien dibandingkan panel surya di Bumi. Selain itu, penggunaan satelit di luar angkasa juga dapat meminimalkan penggunaan sumber daya darat dan air yang krusial untuk mendinginkan pusat data saat ini.

Google sendiri menyatakan, "Di masa depan, ruang angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk mengembangkan komputer AI." Mereka melihat potensi besar untuk skalabilitas dan meminimalkan dampak pada sumber daya di Bumi.

Tantangan dan Kontroversi di Balik Megaproyek Ini

Namun, proyek sebesar ini tentu tidak lepas dari tantangan. Peluncuran satu roket saja dapat menghasilkan emisi karbon dioksida hingga ratusan ton. Ini menjadi dilema lingkungan yang harus dipecahkan.

Selain itu, jumlah satelit yang semakin banyak di orbit rendah juga bisa memicu protes dari para astronom. Konstelasi satelit yang padat berpotensi mengganggu pengamatan mereka terhadap alam semesta. Ini adalah pertimbangan etis dan ilmiah yang tidak bisa diabaikan.

Saat ini, perusahaan teknologi besar yang mengejar kemajuan pesat AI terus membeli pusat data darat di berbagai lokasi. Pengeluaran ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang dampak emisi karbon, terutama jika energi bersih belum ditemukan untuk menggerakkan semua proyek tersebut.

Cara Kerja Pusat Data Antariksa Google

Dalam Project Suncatcher, pusat data yang mengorbit akan bekerja dengan mengirimkan hasilnya kembali ke Bumi. Proses ini akan menggunakan tautan optik, yang biasanya memanfaatkan cahaya atau sinar laser untuk transmisi informasi. Ini menjamin kecepatan dan efisiensi data.

Konsepnya adalah membangun konstelasi satelit bertenaga surya yang kompak, dilengkapi dengan Google TPUs (Tensor Processing Units) yang canggih. Semua satelit ini akan saling terhubung melalui tautan optik ruang bebas, menciptakan jaringan komputasi raksasa di luar angkasa.

Bukan Hanya Google: Persaingan Memanas di Orbit

Google bukan satu-satunya pemain di arena ini. Elon Musk, melalui Starlink dan SpaceX, juga telah menyatakan akan memperluas operasinya untuk membangun pusat data di ruang angkasa. Ini menunjukkan bahwa visi komputasi antariksa bukan lagi mimpi segelintir orang.

Nvidia, raksasa chip AI, juga akan meluncurkan chip AI-nya ke luar angkasa pada akhir bulan ini. Mereka bekerja sama dengan startup bernama Starcloud, menunjukkan kolaborasi lintas industri untuk mewujudkan ambisi ini.

Philip Johnston, salah satu pendiri Starcloud, menjelaskan keunggulannya. "Di ruang angkasa, Anda mendapatkan energi terbarukan yang hampir tak terbatas dan murah," katanya. Ia menambahkan bahwa biaya lingkungan hanya timbul saat peluncuran, namun selama masa operasional, akan ada penghematan karbon dioksida hingga 10 kali lipat dibandingkan pusat data di darat.

Masa Depan AI: Di Bumi atau di Bintang?

Google berencana meluncurkan dua satelit prototipe pada awal 2027. Hasil penelitian mereka disebut sebagai "tonggak pertama menuju AI berbasis ruang angkasa yang dapat diskalakan." Ini adalah langkah krusial untuk menguji kelayakan dan efisiensi teknologi tersebut.

Pergeseran paradigma ini menunjukkan bahwa masa depan AI mungkin tidak hanya bergantung pada inovasi perangkat lunak, tetapi juga pada infrastruktur fisiknya. Pertanyaan besar kini adalah, apakah kita akan melihat sebagian besar kecerdasan buatan dunia beroperasi dari orbit bumi?

Project Suncatcher dan inisiatif serupa dari perusahaan lain membuka lembaran baru dalam sejarah teknologi. Ini adalah era di mana batas antara fiksi ilmiah dan kenyataan semakin kabur, membawa kita ke masa depan komputasi yang benar-benar luar biasa.

banner 325x300