banner 728x250

Geger! Trump Umumkan Kesepakatan TikTok, Tapi China Punya Syarat Berat

geger trump umumkan kesepakatan tiktok tapi china punya syarat berat portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan penting untuk mengakuisisi platform media sosial populer asal China, TikTok, dari perusahaan induknya, ByteDance. Pengumuman ini sontak menarik perhatian global, mengingat ketegangan yang menyelimuti hubungan dagang dan teknologi antara AS dan China.

Klaim Mengejutkan dari Trump

banner 325x300

Dalam sebuah unggahan di akun Truth Social miliknya, Trump menyampaikan kabar gembira tersebut. Meskipun tidak secara langsung menyebut nama TikTok, ia merujuk pada "perusahaan tertentu yang sangat diinginkan oleh pemuda di negara kita untuk diselamatkan." Pernyataan ini secara implisit mengacu pada TikTok, aplikasi yang telah menjadi fenomena global dan menghadapi ancaman pelarangan di AS.

Trump menambahkan bahwa pertemuan perdagangan besar antara AS dan China di Eropa berjalan "SANGAT BAIK." Ia juga mengisyaratkan akan segera berbicara dengan Presiden China, Xi Jinping, pada Jumat (19/9) mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari diskusi yang lebih luas dan kompleks antara kedua negara adidaya tersebut.

Di Balik Layar Negosiasi Sengit

Namun, di balik klaim optimis Trump, proses negosiasi tampaknya jauh dari kata sederhana. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai situasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa kesepakatan akhir untuk TikTok sangat bergantung pada permintaan konsesi perdagangan dari pihak China.

Delegasi AS dan China saat ini sedang dalam pembahasan intensif mengenai divestasi TikTok dari ByteDance. Pembicaraan ini bukan hanya tentang satu aplikasi, melainkan terintegrasi dalam dialog yang lebih luas mengenai tarif perdagangan dan kebijakan ekonomi yang telah lama memanas antara Washington dan Beijing. Ini menunjukkan betapa rumitnya jaring-jaring kepentingan yang harus diurai.

Ancaman Keamanan Nasional dan Data Pengguna

Ketegangan seputar TikTok bermula dari kekhawatiran serius pemerintah AS mengenai keamanan nasional dan privasi data. Pejabat AS khawatir bahwa data jutaan pengguna Amerika dapat diakses atau dimanipulasi oleh pemerintah China melalui ByteDance. Hal ini menjadi isu krusial yang mendasari tuntutan agar TikTok beralih ke kepemilikan AS.

Scott Bessent menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bersedia mengorbankan keamanan nasional demi sebuah aplikasi media sosial. Pernyataan ini menggarisbawahi prioritas utama Washington dalam melindungi informasi sensitif warganya. Keamanan data telah menjadi medan pertempuran baru dalam persaingan teknologi global.

Tuntutan Agresif dari Beijing

Dalam perundingan yang berlangsung di Madrid, Spanyol, delegasi China, yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng, mengajukan permintaan yang disebut Bessent "sangat agresif." Detail spesifik dari permintaan ini tidak diungkapkan, namun diperkirakan terkait dengan tarif impor atau langkah-langkah ekonomi lain yang diberlakukan AS terhadap China.

Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menambahkan bahwa dari perspektif China, isu TikTok tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan paket hubungan dagang. Beijing melihat berbagai hal sebagai bagian tak terpisahkan dari potensi kesepakatan TikTok, baik itu tarif maupun langkah-langkah lain yang telah diambil selama bertahun-tahun. Ini menunjukkan strategi negosiasi China yang komprehensif.

Nasib TikTok di Ujung Tanduk

Pembicaraan di Madrid ini merupakan babak keempat dalam empat bulan terakhir, menandakan betapa mendesaknya situasi ini. TikTok sendiri terancam dilarang beroperasi di AS jika tidak beralih ke kepemilikan Amerika Serikat sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Ancaman ini telah menciptakan ketidakpastian besar bagi jutaan pengguna dan kreator konten di AS.

Bessent mengakui bahwa kedua belah pihak telah membuat kemajuan yang baik dalam hal detail teknis terkait divestasi. Namun, mencapai kesepakatan mengenai isu-isu lain yang lebih luas, seperti konsesi perdagangan, disebut menjadi tantangan besar. Perpanjangan batas waktu divestasi TikTok akan sangat bergantung pada bagaimana pembicaraan berlanjut pada hari kedua.

Dampak Jika Kesepakatan Gagal

Jika kesepakatan gagal tercapai, implikasinya bisa sangat luas. Larangan TikTok di AS akan berdampak pada jutaan pengguna yang mengandalkan platform ini untuk hiburan, informasi, dan bahkan mata pencarian. Selain itu, kegagalan ini juga akan memperburuk hubungan dagang antara AS dan China, yang sudah tegang.

Greer menjelaskan bahwa AS tidak dalam posisi untuk sekadar menghilangkan setiap langkah yang pernah diambilnya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Washington tetap harus melalui negosiasi dan pembahasan mengenai pemahaman bersama, dan tidak bisa begitu saja menarik semua hal yang telah dilakukan. Ini menandakan posisi AS yang tetap teguh dalam prinsip-prinsipnya.

Apa Kata China?

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, memberikan tanggapan yang cenderung hati-hati. Dalam konferensi pers di Beijing, ia menyatakan bahwa China tidak memiliki informasi baru untuk disampaikan mengenai isu TikTok. Lin Jian hanya menegaskan bahwa "mengenai TikTok, China telah berulang kali menyatakan posisinya."

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Beijing mungkin belum sepenuhnya menyetujui detail kesepakatan yang diklaim Trump. Atau, China mungkin menunggu hasil akhir dari negosiasi yang sedang berlangsung. Ketidakjelasan dari pihak China menambah lapisan kompleksitas pada drama akuisisi TikTok ini, membuat masa depan aplikasi tersebut di AS masih menjadi tanda tanya besar.

banner 325x300