banner 728x250

Terungkap! 4 Kunci Penentu Nasib Indonesia Emas di Tangan Prabowo-Gibran, Said Abdullah Bongkar Habis!

terungkap 4 kunci penentu nasib indonesia emas di tangan prabowo gibran said abdullah bongkar habis portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, baru-baru ini menyoroti empat isu krusial yang wajib jadi fokus utama pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam setahun pertama kepemimpinan mereka. Empat hal ini bukan sekadar daftar biasa, melainkan fondasi penting yang akan menentukan apakah Indonesia mampu meraih visi ambisius "Indonesia Emas 2045."

Menurut Said, keempat pilar ini akan menjadi estafet penentu masa depan bangsa. Jika berhasil, Indonesia bisa menjelma menjadi negara dengan demografi berpendidikan tinggi, harapan hidup di atas 75 tahun, dan pendapatan per kapita mencapai 23 ribu dolar AS. Ini adalah cita-cita besar yang menuntut perhatian serius dari para pemimpin.

banner 325x300

Kedaulatan Pangan: Antara Lahan Baru dan Petani Gurem di Jawa

Prioritas pertama yang disorot Said Abdullah adalah kedaulatan pangan. Ini bukan hanya soal perut kenyang, tapi juga tentang kemandirian bangsa dan stabilitas ekonomi. Dalam setahun pemerintahannya, Prabowo-Gibran disebut telah mengambil beberapa langkah, seperti pembukaan lahan pertanian di Papua dan pembentukan batalion pangan. Perhatian Presiden terhadap ketersediaan pupuk murah dan mudah bagi petani juga patut diapresiasi.

Namun, Said juga memberikan catatan penting yang mungkin belum sepenuhnya menjadi perhatian pemerintah. Ia menyoroti urgensi redistribusi lahan bagi petani di Jawa. Mengapa ini krusial? Rata-rata kepemilikan lahan petani di Jawa saat ini kurang dari 2 hektare, membuat mereka tergolong "petani gurem" yang sulit mencapai taraf hidup layak.

Padahal, untuk bisa hidup sejahtera, seorang petani setidaknya membutuhkan minimal 3 hektare lahan. Tanpa redistribusi lahan yang adil, program kedaulatan pangan bisa jadi kurang optimal, terutama bagi jutaan petani kecil yang menjadi tulang punggung produksi pangan nasional. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang menuntut keberanian dan kebijakan progresif.

Kedaulatan Energi: Mandeknya Agenda yang Dirasakan Rakyat

Poin kedua yang menjadi sorotan Said Abdullah adalah kedaulatan energi. Sayangnya, menurutnya, belum ada agenda konkret yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Isu energi adalah denyut nadi perekonomian, dari industri hingga kebutuhan rumah tangga, sehingga kemandirian di sektor ini sangat vital.

Terbaru, kita bahkan dihadapkan pada fenomena antrean panjang di banyak SPBU non-Pertamina yang kehabisan BBM. Ini terjadi akibat kebijakan pasokan yang mengharuskan mereka mengambil dari Pertamina. Kejadian ini menjadi indikator bahwa tata kelola energi masih memerlukan perbaikan serius agar pasokan tetap stabil dan merata.

Kemandirian energi bukan hanya soal ketersediaan, tapi juga aksesibilitas dan harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Tantangan transisi energi menuju sumber terbarukan juga menjadi agenda mendesak yang harus segera dirumuskan dan dieksekusi agar Indonesia tidak tertinggal dan bisa mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Meningkatkan Kesehatan: Fondasi Generasi Emas

Pilar ketiga yang ditekankan Said adalah peningkatan kesehatan bagi seluruh rakyat. Kesehatan adalah investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas. Visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan harapan hidup lebih dari 75 tahun tidak akan tercapai tanpa sistem kesehatan yang kuat dan merata.

Pemerintah perlu memastikan akses yang setara terhadap layanan kesehatan, mulai dari fasilitas primer hingga rumah sakit rujukan, di seluruh pelosok negeri. Program-program pencegahan penyakit, seperti penanganan stunting, imunisasi, dan edukasi gaya hidup sehat, harus digalakkan secara masif. Ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan yang terjangkau juga menjadi kunci.

Inovasi dalam teknologi kesehatan dan pemanfaatan data untuk kebijakan berbasis bukti juga penting. Tantangan seperti disparitas fasilitas kesehatan antara kota dan desa, serta beban biaya kesehatan yang masih memberatkan sebagian masyarakat, harus segera dicarikan solusinya agar setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat dan produktif.

Pendidikan Inklusif: Membangun Demografi Berpendidikan Tinggi

Terakhir, Said Abdullah menyoroti pentingnya pendidikan inklusif untuk seluruh rakyat. Pendidikan adalah gerbang menuju mobilitas sosial, inovasi, dan peningkatan kualitas hidup. Untuk mencapai demografi berpendidikan tinggi seperti yang dicita-citakan dalam Indonesia Emas 2045, setiap anak bangsa harus memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas.

Inklusif berarti pendidikan yang tidak membeda-bedakan latar belakang ekonomi, geografis, maupun kondisi fisik. Pemerintah harus memastikan fasilitas pendidikan yang memadai, tenaga pengajar yang kompeten, dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Program beasiswa dan bantuan pendidikan juga harus diperluas untuk menjangkau mereka yang kurang mampu.

Peningkatan kualitas guru, pemerataan akses teknologi digital dalam pembelajaran, serta pengembangan pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri juga menjadi prioritas. Dengan pendidikan yang inklusif dan berkualitas, Indonesia dapat mencetak generasi penerus yang cerdas, inovatif, dan siap bersaing di kancah global.

Masa Depan Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran

Empat poin yang disampaikan Said Abdullah ini bukan sekadar kritik, melainkan panduan strategis bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Kedaulatan pangan dan energi adalah fondasi kemandirian, sementara kesehatan dan pendidikan adalah investasi krusial untuk sumber daya manusia. Keberhasilan di empat sektor ini akan menjadi penentu apakah Indonesia benar-benar bisa mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Tantangan memang besar, namun dengan fokus yang tepat dan eksekusi kebijakan yang berani, harapan untuk mencapai cita-cita tersebut masih terbuka lebar. Pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki kesempatan untuk menorehkan sejarah dengan menjadikan empat pilar ini sebagai prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan mereka.

banner 325x300