Asrama MPR di Kota Bandung, yang sempat menjadi saksi bisu kerusuhan demonstrasi pada 31 Agustus 2025 lalu, kini tengah berjuang bangkit dari puing-puing. Insiden pembakaran yang mengejutkan banyak pihak itu menyisakan luka mendalam, tidak hanya pada fisik bangunan, tetapi juga pada memori kolektif masyarakat. Namun, semangat untuk membangun kembali tak pernah padam, terbukti dari kunjungan langsung Ketua MPR, Ahmad Muzani, bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Senin, 13 Oktober 2025, untuk meninjau proses revitalisasi yang sedang berjalan.
Luka Lama yang Menganga: Mengenang Insiden 31 Agustus 2025
Peristiwa 31 Agustus 2025 menjadi titik kelam dalam sejarah Kota Bandung. Demonstrasi yang awalnya berjalan damai, berujung pada tindakan anarkis yang menargetkan beberapa fasilitas publik, termasuk asrama MPR. Api melahap bangunan bersejarah itu, menyisakan kerugian material yang tak sedikit dan menyisakan pertanyaan besar tentang batas-batas ekspresi publik. Insiden ini sontak menjadi sorotan nasional, mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga ketertiban dan menghargai aset negara, terutama yang memiliki nilai historis tinggi.
Meskipun motif pasti di balik pembakaran masih menjadi perdebatan, dampak kerusakannya sangat nyata. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat beristirahat dan berdiskusi bagi para anggota MPR kini hanya tinggal rangka. Kejadian ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga melukai rasa kebanggaan terhadap warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Mengapa Asrama MPR Ini Begitu Penting? Lebih dari Sekadar Bangunan Biasa
Bukan tanpa alasan jika perbaikan asrama MPR ini menjadi prioritas. Menurut Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, bangunan ini adalah sebuah cagar budaya yang tak ternilai. Arsitektur klasiknya yang kental dengan nuansa Indische, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Bandung, bahkan mungkin Indonesia. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap dindingnya merekam jejak peristiwa penting yang membentuk identitas bangsa.
Sebagai salah satu heritage yang dimiliki Kota Kembang, asrama ini bukan sekadar properti pemerintah. Ia adalah bagian dari jiwa Bandung, simbol ketahanan dan keindahan masa lalu yang harus terus dilestarikan. Kehilangan bangunan ini berarti kehilangan sepotong memori kolektif yang tak bisa digantikan. Oleh karena itu, upaya revitalisasi ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik, melainkan juga upaya menjaga agar sejarah tetap hidup dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
Kolaborasi Lintas Lembaga: Sinergi Pusat dan Daerah untuk Pemulihan
Kunjungan Ahmad Muzani dan Dedi Mulyadi ke lokasi peninjauan bukan hanya sekadar seremoni. Ini adalah bentuk komitmen nyata dari pemerintah pusat dan daerah untuk bahu-membahu mengembalikan kejayaan asrama MPR. Proses revitalisasi yang sedang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjadi bukti keseriusan ini. Mereka berupaya keras agar bangunan cagar budaya ini dapat kembali berdiri kokoh, bahkan lebih indah dari sebelumnya.
Muzani, dalam keterangannya, mengungkapkan apresiasi yang mendalam atas kerja sama yang terjalin. "Hari ini saya bersama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi melihat dari dekat mess MPR yang dibakar massa demonstran pada 31 Agustus lalu. Kita melihat bagaimana proses revitalisasi dilakukan," ujarnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antara berbagai pihak dalam menghadapi tantangan besar seperti ini.
Tantangan dan Harapan di Balik Revitalisasi Cagar Budaya
Merestorasi bangunan cagar budaya bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan keahlian khusus, material yang sesuai, dan perhatian terhadap detail agar keasliannya tetap terjaga. Kementerian PU tentu menghadapi tantangan besar dalam memastikan bahwa setiap elemen bangunan yang diperbaiki sesuai dengan standar pelestarian cagar budaya. Ini bukan hanya tentang membangun kembali, tetapi tentang menghidupkan kembali ruh sejarah yang pernah ada.
Muzani berharap proses renovasi bisa berjalan dengan cepat dan lancar. "Saya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Kang Dedi, Pemprov Jabar, serta Dinas PU yang siap membangun kembali gedung ini. Mudah-mudahan bisa selesai dalam waktu dekat sehingga fungsinya bisa kembali digunakan untuk kepentingan MPR dan Pemda Jabar dan juga warga Jabar khususnya," sambungnya. Harapan ini mencerminkan keinginan agar asrama ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas MPR, tetapi juga dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Jawa Barat.
Dedi Mulyadi: Penjaga Warisan Budaya Jawa Barat
Peran Gubernur Dedi Mulyadi dalam upaya pemulihan ini patut diacungi jempol. Dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap pelestarian budaya dan lingkungan, keterlibatannya memberikan jaminan bahwa revitalisasi akan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat terhadap nilai-nilai historis. Dedi Mulyadi memahami betul bahwa cagar budaya adalah investasi masa depan, jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan yang akan datang.
Kehadirannya di lokasi, mendampingi Ketua MPR, menunjukkan komitmen kuat Pemprov Jabar untuk tidak hanya memulihkan fisik bangunan, tetapi juga memulihkan semangat dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan mereka. Ini adalah pesan penting tentang bagaimana pemerintah daerah berdiri di garis depan dalam menjaga identitas dan sejarah lokal.
Pelajaran Berharga dari Insiden dan Pemulihan
Insiden pembakaran asrama MPR ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi. Demonstrasi adalah hak, namun perusakan fasilitas publik, apalagi yang memiliki nilai sejarah, adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Proses revitalisasi ini, di sisi lain, mengirimkan pesan kuat tentang ketahanan, kolaborasi, dan komitmen untuk melestarikan warisan bangsa.
Dari reruntuhan, asrama MPR Bandung akan bangkit kembali. Bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai simbol harapan, bahwa meskipun badai datang menerpa, semangat untuk membangun dan melestarikan tak akan pernah padam. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah kota dan bangsa, belajar dari masa lalu, untuk membangun masa depan yang lebih baik, dengan tetap menghargai setiap jejak sejarah yang ada.


















