Jakarta – Lemdiklat Polri kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak perwira polisi berintegritas dan profesional. Sebanyak 104 peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimma) Polri Angkatan ke-74 Tahun 2025 resmi memulai Praktek Kerja Profesi (PKP) yang krusial. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kasespimma Lemdiklat Polri, Brigjen Pol Sonny Irawan, pada 11 November 2025, menandai babak baru dalam pendidikan kepolisian.
Brigjen Sonny menegaskan bahwa PKP ini bukan sekadar formalitas atau penerapan teori semata. Lebih dari itu, program ini dirancang khusus untuk membentuk karakter kuat, menanamkan nilai moral, serta membangun rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian yang mendalam kepada masyarakat. Ini adalah langkah konkret Polri dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial.
Mengapa PKP Ini Penting? Lebih dari Sekadar Teori di Bangku Kuliah
Praktek Kerja Profesi (PKP) bagi para calon perwira menengah Polri adalah tahapan yang tak bisa ditawar. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap institusi kepolisian, kemampuan beradaptasi dan berinteraksi langsung dengan realitas lapangan menjadi sangat vital. Sespimma Polri, sebagai kawah candradimuka para pemimpin, memahami betul urgensi ini.
Brigjen Sonny Irawan menekankan bahwa pendidikan kepolisian modern harus mampu melampaui batas-batas kelas. Ilmu yang diperoleh di bangku pendidikan harus diuji dan diterapkan dalam skenario nyata, di mana tantangan dan kompleksitas masalah jauh lebih beragam. Inilah esensi dari PKP, sebuah jembatan antara teori dan praktek yang tak tergantikan.
Membangun Fondasi Integritas dan Kepedulian Sosial
Program PKP ini dirancang secara holistik, menggabungkan tiga unsur penting: akademis, sosial, dan spiritual. Tujuannya jelas, yakni mencetak perwira Polri yang tidak hanya profesional dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki integritas tinggi dan kepedulian sosial yang kuat. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang positif di tengah masyarakat.
Aspek akademis memungkinkan peserta menerapkan kerangka berpikir analitis dan strategis dalam menghadapi masalah di lapangan. Sementara itu, dimensi sosial dan spiritual menjadi penyeimbang, memastikan bahwa setiap keputusan dan tindakan perwira didasari oleh etika, moral, dan empati terhadap sesama. Ini adalah investasi jangka panjang Polri untuk masa depan.
5 Wilayah Kritis Jadi Arena Latihan: Dari Malang Hingga Pasuruan
Pelaksanaan PKP tahun ini tersebar di lima wilayah strategis di Jawa Timur: Polresta Malang Kota, Polres Malang, Polres Batu, Polres Pasuruan, dan Polres Pasuruan Kota. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Kelima wilayah tersebut menawarkan spektrum tantangan yang beragam, mulai dari isu perkotaan yang kompleks hingga dinamika pedesaan yang unik.
Di Polresta Malang Kota, para peserta akan dihadapkan pada isu-isu urban seperti kriminalitas perkotaan, manajemen lalu lintas, dan interaksi dengan masyarakat majemuk. Sementara itu, di Polres Malang dan Batu, mereka mungkin akan menemukan tantangan terkait pariwisata, konflik agraria, atau penanganan bencana alam. Setiap lokasi adalah laboratorium pembelajaran yang berharga.
Tantangan Nyata, Solusi Inovatif
Selama PKP, para peserta didik akan melaksanakan penelitian lapangan secara mendalam. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga menganalisis akar masalah dan merumuskan solusi inovatif yang relevan dengan konteks lokal. Ini adalah kesempatan emas untuk mengasah kemampuan investigasi, problem-solving, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.
Diharapkan, melalui penelitian ini, mereka dapat mengidentifikasi pola-pola kejahatan, memahami dinamika sosial, dan merancang program-program kepolisian yang lebih efektif. Hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi pendidikan mereka, tetapi juga dapat menjadi masukan berharga bagi Polres setempat dalam meningkatkan pelayanan dan keamanan.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Sukses Perwira Masa Depan
Salah satu komponen paling penting dari PKP adalah Forum Group Discussion (FGD). Dalam sesi ini, para peserta didik akan berinteraksi langsung dengan berbagai pemangku kepentingan di wilayah setempat. Mereka akan duduk bersama para pejabat Polres, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan perwakilan instansi pemerintahan.
FGD ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ajang untuk bertukar pikiran, memahami perspektif yang berbeda, dan membangun sinergi. Dari tokoh agama, mereka bisa belajar tentang nilai-nilai moral dan kearifan lokal. Dari tokoh masyarakat dan adat, mereka akan memahami struktur sosial dan tradisi yang berlaku. Sementara itu, dari instansi pemerintah, mereka akan mendapatkan gambaran tentang kebijakan dan program pembangunan.
Mendengar, Memahami, dan Bertindak Bersama Masyarakat
Interaksi langsung dengan berbagai elemen masyarakat ini sangat krusial. Ini melatih para calon perwira untuk menjadi pendengar yang baik, memahami aspirasi dan keluhan masyarakat, serta membangun kepercayaan. Mereka akan belajar bahwa kepolisian yang efektif adalah kepolisian yang mampu bekerja sama dengan seluruh komponen bangsa.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan para peserta didik dapat mengembangkan pendekatan kepolisian yang humanis dan berbasis komunitas. Mereka akan menyadari bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas polisi. Ini adalah fondasi penting untuk membangun Polri yang dicintai dan dipercaya rakyat.
Tiga Pilar Utama: Pengajaran, Pelatihan, dan Pengasuhan untuk Perwira Profesional
Brigjen Sonny Irawan secara eksplisit menyebutkan tiga pilar utama yang menjadi fokus dalam kegiatan PKP ini: pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan. Ketiga elemen ini saling melengkapi dan menjadi kunci dalam membentuk perwira Polri yang utuh dan berkualitas.
Pengajaran dalam konteks PKP berarti penerapan ilmu pengetahuan dan teori yang telah didapatkan di kelas ke dalam situasi nyata. Peserta didik diajarkan untuk menganalisis masalah, merumuskan strategi, dan mengambil keputusan berdasarkan landasan teoritis yang kuat. Ini adalah ujian bagi pemahaman akademis mereka.
Pelatihan berfokus pada pengembangan keterampilan praktis. Ini mencakup kemampuan berkomunikasi efektif, negosiasi, manajemen konflik, hingga kepemimpinan di lapangan. Para peserta akan dilatih untuk menghadapi berbagai skenario, mengasah insting, dan bertindak cepat serta tepat dalam situasi yang dinamis.
Terakhir, Pengasuhan adalah aspek yang paling personal dan mendalam. Ini melibatkan bimbingan moral, etika, dan pengembangan karakter. Melalui pengasuhan, para mentor dan pembimbing membantu peserta didik untuk merefleksikan pengalaman mereka, menumbuhkan integritas, dan memperkuat komitmen mereka sebagai abdi negara. Ini adalah proses pembentukan jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur.
Visi Polri: Mencetak Pemimpin yang Adaptif dan Berintegritas di Era Modern
Program PKP ini adalah manifestasi dari visi besar Polri untuk mencetak pemimpin yang adaptif dan berintegritas di era modern. Tantangan kepolisian di masa depan akan semakin kompleks, mulai dari kejahatan siber, transnasional, hingga dinamika sosial yang cepat berubah. Oleh karena itu, dibutuhkan perwira yang tidak hanya cakap dalam penegakan hukum, tetapi juga visioner dan inovatif.
Lemdiklat Polri, melalui Sespimma, berupaya keras untuk membekali para calon pemimpin ini dengan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan transformasional, dan kesadaran global. Mereka diharapkan mampu membawa institusi Polri menjadi lebih maju, responsif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keamanan dan ketertiban nasional.
Dampak Jangka Panjang bagi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Keberhasilan PKP ini akan memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. Perwira yang terlatih dengan baik, memiliki integritas, dan peduli terhadap masyarakat akan mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan publik. Ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, yang pada gilirannya akan mempermudah tugas-tugas kepolisian.
Pada akhirnya, tujuan utama dari semua upaya ini adalah menciptakan Indonesia yang lebih aman, damai, dan sejahtera. Dengan pemimpin Polri yang berkualitas, profesional, dan berintegritas, harapan untuk mewujudkan masyarakat yang tertib dan berkeadilan akan semakin nyata. PKP Sespimma Angkatan ke-74 ini adalah langkah penting menuju masa depan Polri yang lebih baik.


















