Sebuah survei terbaru dari Great Institute, lembaga kajian teknologi, ekonomi, dan politik, berhasil mengungkap sentimen positif publik terhadap kinerja satu tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Angka kepuasan yang mengejutkan, mencapai 85 persen, menunjukkan respons masyarakat yang sangat baik terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan.
Tingginya tingkat kepuasan ini disebut-sebut tak lepas dari program-program konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Dari sektor ekonomi hingga politik, berbagai inisiatif pemerintah berhasil menciptakan optimisme baru di tengah-tengah warga.
Angka Fantastis Kepuasan Publik, Apa Pemicunya?
Angka 85 persen bukanlah sekadar statistik, melainkan cerminan dari pengalaman langsung masyarakat. Mereka merasakan dampak positif dari kebijakan pemerintah, terutama dalam program makan bergizi gratis dan penguatan ekonomi di tingkat desa. Program-program ini dinilai berhasil menyentuh kebutuhan dasar dan meningkatkan kualitas hidup warga.
Direktur Eksekutif Great Institute, Sudarto, dalam peluncuran survei bertajuk "1 Tahun Prabowo: Pergeseran Paradigma Membawa Optimisme dan Catatan Kritis" di Jakarta, Jumat (31/10), menegaskan bahwa program-program tersebut menjadi kunci utama kepuasan ini. "Masyarakat merasakan langsung kebijakan, khususnya program makan bergizi gratis dan penguatan ekonomi desa melalui koperasi," ujarnya, menyoroti relevansi kebijakan dengan realitas sosial.
Program Ekonomi yang Langsung Dirasakan Masyarakat
Ketika ditelisik lebih dalam, kepuasan publik yang tinggi ini didominasi oleh keberhasilan program-program ekonomi yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat memiliki daya ungkit yang besar dan mampu menciptakan dampak nyata.
Makan Bergizi Gratis: Favorit Publik?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bintang utama dalam survei ini, dengan 89,8 persen responden menilai program tersebut sangat bermanfaat. Angka ini mencerminkan betapa vitalnya kebutuhan dasar pangan bagi masyarakat, di mana program ini bukan hanya sekadar pemberian, melainkan solusi nyata untuk mengatasi masalah gizi dan ketahanan pangan di tingkat keluarga.
Koperasi Merah Putih dan Peningkatan Ekonomi Desa
Tak hanya itu, inisiatif Koperasi Merah Putih juga mendapat sambutan positif. Sebanyak 71,8 persen responden percaya bahwa program ini akan memperbaiki ekonomi desa dan memperluas akses modal bagi warga. Ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha mikro dan kecil di pedesaan, memberikan harapan baru untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Dampak positif ini tidak berhenti di situ. Survei juga mencatat bahwa 71,8 persen responden merasakan adanya perbaikan pada ekonomi rumah tangga mereka, menunjukkan stabilitas finansial yang lebih baik. Bahkan, 62,1 persen responden menyebut daya beli mereka mengalami peningkatan yang signifikan, mengindikasikan perbaikan kondisi ekonomi secara umum.
Terobosan di Sektor Politik dan Luar Negeri
Kepuasan publik tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, namun juga merambah ke ranah politik dan kebijakan luar negeri. Ini menunjukkan adanya kepercayaan yang meningkat terhadap arah pemerintahan secara keseluruhan, baik dalam negeri maupun di kancah global.
Pemberantasan Korupsi dan Kebebasan Berpendapat
Di sektor politik, 89,8 persen responden menilai pemberantasan korupsi lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini didukung pula oleh 81,8 persen responden yang merasa kebebasan berpendapat kini semakin membaik, menciptakan iklim demokrasi yang lebih sehat dan transparan.
Kebijakan Luar Negeri yang Tegas: Efek Palestina
Dalam kancah internasional, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo dinilai tampil lebih tegas. Sebanyak 89,8 persen responden mengapresiasi kebijakan luar negeri yang lebih berani, terutama dalam menyikapi isu Palestina. Ketegasan ini diwujudkan melalui sikap yang jelas dan langkah-langkah diplomatik yang proaktif, terutama dalam membela hak-hak rakyat Palestina di kancah global.
"Purbaya Effect": Optimisme Fiskal Baru
Sebuah istilah baru, "Purbaya Effect", juga muncul dalam survei ini. Istilah ini menggambarkan gelombang optimisme fiskal baru yang hadir setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memulai berbagai kebijakannya, memberikan harapan baru bagi stabilitas ekonomi nasional. Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dinilai berhasil menghadirkan kebijakan fiskal yang inovatif dan berani, memicu kepercayaan pasar dan masyarakat terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Transparansi Metode Survei Great Institute
Great Institute memastikan bahwa hasil survei ini didasarkan pada metodologi yang transparan dan akuntabel. Ini penting untuk menjaga kredibilitas temuan dan memastikan bahwa data yang disajikan benar-benar representatif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagaimana Survei Ini Dilakukan?
Survei opini publik ini mengumpulkan data primer melalui kuesioner terstruktur dengan skala Likert, sebuah metode standar dalam penelitian sosial. Sebanyak 422 responden Warga Negara Indonesia (WNI) berusia 17 tahun ke atas dilibatkan, dengan margin error sebesar 5 persen, menjamin akurasi statistik yang memadai.
Pemilihan responden dilakukan dengan metode multistage random sampling, mencakup wilayah Jawa (59,7 persen), Sumatera (20,1 persen), dan Kawasan Indonesia Timur (20,1 persen). Distribusi ini memastikan representasi yang cukup dari berbagai wilayah di Indonesia, mencerminkan keragaman demografi.
Dukungan Data Sekunder dan Big Data
Selain data primer, survei ini juga memanfaatkan data time-series resmi dari berbagai lembaga kredibel seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, LPS, dan OJK. Ini memperkaya analisis dengan data makroekonomi yang relevan dan komprehensif.
Tak hanya itu, analisis Big Data juga menjadi bagian penting, dengan meninjau 4,79 juta unggahan dari berbagai platform media sosial populer seperti Twitter/X, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok. Data ini dikumpulkan melalui API, memberikan gambaran sentimen publik secara luas dan mendalam dari percakapan digital.
Bukan Pujian Semata, Tapi Suara Rakyat
Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, menegaskan bahwa survei ini bukan sekadar bentuk pujian. "Kami bukan oposisi, tapi akal sehat mengharuskan kami tetap kritis," ujarnya, menekankan independensi lembaga dalam melakukan kajian.
Ia menambahkan, "Basis kami data, informasi, dan akal sehat. Metodologi kami tidak pernah disembunyikan." Pernyataan ini memperkuat bahwa hasil survei adalah suara murni dari rakyat yang puas atas kinerja Presiden dan para pembantunya, didukung oleh data yang valid dan metodologi yang terbuka untuk umum.


















