Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka baru saja menginjak usia satu tahun, namun respons publik terhadap kinerja mereka sudah menunjukkan angka yang fantastis. Sebuah survei nasional terbaru dari Pusat Riset Indonesia (PRI) mengungkap tingkat kepuasan yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 80 persen. Angka ini tentu menjadi sorotan utama di tengah dinamika politik nasional.
PRI mencatat, sebanyak 82,44 persen masyarakat Indonesia menyatakan puas dengan kepemimpinan Prabowo-Gibran. Angka ini terbagi menjadi 14,89 persen yang merasa "sangat memuaskan" dan 67,55 persen yang menilai "cukup memuaskan." Hanya 14,20 persen warga yang mengaku tidak puas, sementara 3,36 persen sisanya memilih untuk tidak berpendapat.
Program Merakyat Jadi Kunci Utama
Direktur Eksekutif PRI, Deni Yusup, menjelaskan bahwa tingginya tingkat kepuasan publik ini tidak lepas dari berbagai program pro-rakyat yang telah dijalankan. Inisiatif-inisiatif ini menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, menciptakan dampak positif yang nyata di berbagai lapisan. Keberhasilan program-program ini menjadi fondasi utama dukungan publik.
Beberapa program unggulan yang disebut Deni Yusup meliputi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah dan ibu hamil, serta program Sekolah Rakyat yang bertujuan meningkatkan akses pendidikan. Selain itu, ada juga pemeriksaan kesehatan gratis, inisiatif ketahanan energi dan pangan, program Koperasi Merah Putih untuk ekonomi kerakyatan, hingga kebijakan pengurangan pajak yang baru-baru ini diterapkan. Semua ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan.
Program Paling Disukai Publik
Survei PRI juga berhasil memetakan program-program mana yang paling disukai dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat menempati posisi teratas dengan perolehan 20,55 persen penilaian positif. Ini menunjukkan betapa pentingnya isu gizi dan pendidikan bagi keluarga Indonesia.
Diikuti oleh penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang mendapat 15,25 persen dukungan, menunjukkan harapan publik akan pemerintahan yang bersih. Perbaikan ketahanan energi juga diapresiasi dengan 14,60 persen, serta upaya pengentasan kemiskinan sebesar 11,36 persen. Program kesehatan gratis, pembangunan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Merah Putih, dan kebijakan perumahan untuk warga kecil juga turut mendapat respons positif dari masyarakat.
Elektabilitas Partai Gerindra Melonjak Drastis
Tingginya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran ternyata memiliki efek domino yang signifikan terhadap peta elektabilitas partai politik. Partai Gerindra, sebagai partai pengusung utama, menjadi penerima manfaat terbesar dari sentimen positif ini. Elektabilitas mereka melonjak tajam, menciptakan kejutan di kancah politik.
Deni Yusup mengungkapkan bahwa elektabilitas Partai Gerindra kini mencapai 22,13 persen. Angka ini merupakan peningkatan yang luar biasa dari 13,22 persen yang mereka raih pada Pemilu 2024 lalu. Kenaikan sekitar 8,91 persen ini menunjukkan adanya transfer dukungan yang kuat dari kinerja pemerintah kepada partai yang menaunginya.
Pergeseran Kekuatan di Peta Politik
Di posisi kedua, Partai Golkar berhasil mempertahankan kekuatannya dengan elektabilitas 17,21 persen. Deni Yusup menyebut bahwa solidnya infrastruktur mesin partai dan sosok Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia yang juga menjabat Menteri ESDM, menjadi faktor kunci di balik capaian ini. Kehadiran figur kuat dalam kabinet tampaknya memberikan dampak positif bagi partai.
Namun, tidak semua partai mengalami tren positif. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) justru mengalami penurunan elektabilitas. Dari 16,72 persen pada Pemilu 2024, kini elektabilitas PDIP turun menjadi 14,10 persen, kehilangan sekitar 2,62 persen dukungan. Penurunan ini bisa menjadi sinyal penting bagi partai dalam mengevaluasi strategi ke depan.
Nasib Partai Lain: Ada yang Naik, Ada yang Turun
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tercatat memiliki elektabilitas 8,15 persen, namun Deni Yusup mengindikasikan adanya tren negatif. Sementara itu, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) sama-sama menunjukkan tren positif, masing-masing dengan 7,89 persen. Kenaikan ini disebut sebagai dampak dari keterlibatan kader mereka, AHY dan Zulkifli Hasan, dalam kabinet Prabowo-Gibran.
Partai NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga mengalami tren negatif, dengan elektabilitas masing-masing 7,48 persen dan 6,15 persen. Menariknya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sebelumnya tidak lolos parlemen, menunjukkan tren positif dengan kenaikan dari 2,81 persen menjadi 4,25 persen. Sebaliknya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) justru terjun bebas dari 3,87 persen menjadi hanya 1,85 persen.
Metode Survei yang Digunakan PRI
Survei ini dilakukan oleh Pusat Riset Indonesia (PRI) pada rentang waktu 10 hingga 20 Oktober 2025. Total 1.200 responden dilibatkan dalam survei ini, tersebar di 38 provinsi di seluruh Indonesia. Dengan margin of error sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen, hasil survei ini dianggap representatif.
Metode yang digunakan adalah simple random sampling, di mana responden dipilih secara acak dan terdistribusi proporsional di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa, hingga kampung/RW/RT. Responden adalah warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Pertanyaan yang diajukan berfokus pada satu tahun kepemimpinan Presiden/Wakil Presiden dan elektabilitas partai politik.


















