Kabar mengejutkan datang dari Senayan. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, politikus muda Partai Gerindra yang dikenal vokal, mengajukan surat pengunduran diri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Keputusan ini sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak, salah satunya Generasi Muda Pembaruan Indonesia (GEMPAR Indonesia).
GEMPAR Indonesia secara tegas menyuarakan harapannya agar Fraksi Gerindra mempertimbangkan ulang dan menolak surat pengunduran diri Saraswati. Mereka menilai, kepergian sosok seperti Saraswati akan berdampak besar pada perjuangan aspirasi generasi muda dan perempuan di parlemen.
Suara Generasi Muda di Parlemen Terancam?
Meity Magdalena, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP GEMPAR Indonesia, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, representasi generasi muda dan perempuan masih sangat membutuhkan sosok Saraswati di DPR. Kehadirannya selama ini dianggap mampu menyuarakan isu-isu krusial yang kerap terpinggirkan.
"Kami berharap Fraksi Gerindra bisa dengan bijak mempertimbangkan agar tidak menerima pengunduran diri Mbak Saras," ujar Meity. Ia menambahkan, "Suara generasi muda dan perempuan masih membutuhkan representasi beliau di DPR." Kehilangan Saraswati akan menjadi pukulan telak bagi upaya mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan progresif.
Politik Indonesia memang membutuhkan lebih banyak wajah muda yang berani dan berintegritas. Saraswati, dengan rekam jejaknya, telah membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk memberikan kontribusi nyata. Jika ia mundur, kekosongan yang ditinggalkan akan sulit diisi, terutama dalam konteks representasi kelompok rentan.
Langkah Mundur yang Penuh Integritas
Menariknya, GEMPAR Indonesia justru melihat keputusan Saraswati untuk mundur sebagai bukti kualitas kepemimpinannya yang tinggi. Dalam budaya politik Indonesia yang seringkali diwarnai drama "tunggu disuruh mundur" atau "lempar handuk setelah terpojok," langkah Saraswati ini menjadi anomali yang patut diapresiasi.
"Keputusan untuk mundur itu bukan kelemahan, tapi keberanian," jelas Meity. Ia menyoroti bagaimana selama ini politikus di Indonesia cenderung bertahan hingga terpojok oleh kasus korupsi, desakan publik, atau setelah ucapannya melukai banyak pihak. Budaya mundur atas inisiatif sendiri, apalagi tanpa skandal, hampir tidak pernah ditemukan.
Meity menegaskan bahwa Saraswati menunjukkan integritasnya. Pengunduran dirinya bukan karena kasus korupsi, bukan pula karena desakan publik yang menuntut pertanggungjawaban atas kesalahan fatal. Ini adalah pilihan yang diambil dengan kesadaran penuh, sebuah tindakan yang langka dan berani dalam kancah perpolitikan Tanah Air.
Jejak Legislasi yang Tak Terbantahkan
Kiprah Rahayu Saraswati di DPR periode 2014-2019 bukan sekadar basa-basi. Ia terbukti nyata memperjuangkan sejumlah regulasi penting yang berpihak pada masyarakat, khususnya perempuan, anak, dan kelompok rentan. Ini adalah bukti konkret komitmennya terhadap isu-isu sosial yang seringkali luput dari perhatian.
Salah satu fokus utamanya adalah Undang-Undang Perlindungan Anak. Ia aktif terlibat dalam pembahasan dan pengesahan regulasi ini, memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan perlindungan hukum yang lebih kuat. Ini adalah fondasi penting bagi masa depan bangsa, dan Saraswati adalah salah satu arsiteknya.
Selain itu, Saraswati juga tercatat ikut memperjuangkan revisi Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kejahatan perdagangan manusia adalah isu serius yang mengancam martabat kemanusiaan, dan perannya dalam memperkuat regulasi ini sangat krusial untuk melindungi korban dan menindak pelaku.
Tidak hanya itu, ia juga terlibat aktif dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang kala itu menjadi sorotan publik luas. Meskipun RUU ini masih menghadapi berbagai tantangan, keterlibatan Saraswati menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan keadilan bagi korban kekerasan seksual.
"Di periode pertamanya, Mbak Saras sudah menunjukkan kiprah nyata melalui kerja legislasi yang berpihak pada perempuan, anak, dan kelompok rentan," ungkap Meity. Rekam jejak ini menjadi alasan kuat mengapa GEMPAR Indonesia merasa kehilangan besar jika Saraswati benar-benar mundur dari parlemen.
Dilema Fraksi Gerindra
Permintaan GEMPAR Indonesia ini tentu menempatkan Fraksi Gerindra dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, mereka harus menghormati keputusan pribadi seorang anggota. Namun, di sisi lain, ada aspirasi publik dan harapan dari generasi muda yang melihat Saraswati sebagai representasi penting.
Keputusan Fraksi Gerindra untuk menerima atau menolak pengunduran diri Saraswati akan memiliki implikasi yang luas. Ini bukan hanya tentang satu kursi di DPR, melainkan tentang pesan yang ingin disampaikan partai terhadap integritas, representasi, dan masa depan politik muda di Indonesia.
Jika Gerindra menolak pengunduran diri Saraswati, ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa partai menghargai kualitas kepemimpinan, integritas, dan kontribusi nyata anggotanya. Ini juga bisa menjadi bukti komitmen partai terhadap perjuangan aspirasi generasi muda dan perempuan yang diwakili oleh Saraswati.
Masa Depan Politik Muda Indonesia
GEMPAR Indonesia meyakini bahwa sosok seperti Saraswati seharusnya tetap berada di parlemen. Keberadaannya dianggap mampu memberikan pembeda dan menjalankan amanah masyarakat dengan cara yang lebih segar dan progresif. Politik Indonesia sangat membutuhkan energi dan pemikiran baru.
"Kami percaya figur seperti Mbak Saras harus tetap ada di DPR. Kehadiran beliau akan menjadi pembeda, menghadirkan politik yang lebih segar, progresif, dan berpihak pada rakyat," tutur Meity. Ini adalah panggilan untuk melihat lebih jauh dari sekadar dinamika politik sehari-hari, menuju visi politik yang lebih baik.
Kehilangan politikus muda dengan integritas dan rekam jejak yang jelas akan menjadi kerugian bagi parlemen. Regenerasi politik bukan hanya tentang mengganti wajah lama dengan wajah baru, tetapi juga tentang memastikan bahwa wajah-wajah baru ini membawa kualitas, komitmen, dan keberanian untuk membuat perubahan nyata.
Keputusan akhir ada di tangan Fraksi Gerindra. Namun, desakan dari GEMPAR Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang representasi, integritas, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semoga keputusan yang diambil nanti adalah yang terbaik bagi demokrasi dan masyarakat Indonesia.


















