Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/11/2025) menjadi saksi bisu dibukanya sebuah gerbang penting bagi masa depan politik Indonesia. Ketua DPR RI, Puan Maharani, secara resmi membuka Simulasi Persidangan Parlemen Remaja (Parja) 2025, sebuah program prestisius yang dirancang untuk menggembleng calon-calon pemimpin bangsa.
Acara ini bukan sekadar simulasi biasa, melainkan wadah bagi ratusan pelajar SMA dan sederajat dari seluruh penjuru Indonesia untuk menyelami dinamika politik dan memahami peran strategis DPR sebagai representasi suara rakyat. Puan Maharani secara langsung mengajak para peserta untuk tidak hanya mengamati, tetapi juga merasakan langsung denyut nadi legislasi.
Mengapa Parlemen Remaja Begitu Penting?
Dalam sambutannya, Puan Maharani menyambut hangat para peserta, menegaskan bahwa Gedung DPR RI adalah "rumah rakyat Indonesia, yang berarti rumah kalian juga." Pernyataan ini bukan hanya basa-basi, melainkan penekanan pada esensi demokrasi: bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat, dan generasi muda adalah pewarisnya.
Program tahunan DPR ini diharapkan menjadi kawah candradimuka pembelajaran politik yang sehat, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, dan mengasah kepekaan sosial di kalangan generasi Z. Di tengah kompleksitas tantangan global dan nasional, keterlibatan aktif remaja dalam memahami sistem politik menjadi krusial untuk menciptakan kebijakan yang responsif dan berkelanjutan.
Puan berharap, melalui Parlemen Remaja, para pelajar dapat mengembangkan pemahaman mendalam tentang bagaimana proses legislasi bekerja, bagaimana aspirasi masyarakat disalurkan, dan bagaimana keputusan politik dapat memengaruhi kehidupan mereka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas demokrasi Indonesia.
"Generasi Pembaru Energi": Tema yang Relevan untuk Masa Depan
Tahun ini, Parlemen Remaja mengusung tema yang sangat relevan dan visioner: "Generasi Pembaru Energi, Untuk Indonesia Bebas Emisi." Tema ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan panggilan aksi bagi para remaja untuk menjadi agen perubahan dalam isu krusial seperti perubahan iklim dan keberlanjutan energi.
Para peserta diajak untuk berpikir kritis tentang bagaimana kebijakan energi dapat dibentuk, diimplementasikan, dan diawasi demi masa depan Indonesia yang lebih hijau dan bebas emisi. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk merasakan langsung bagaimana ide-ide besar dapat diterjemahkan menjadi rancangan undang-undang yang berdampak nyata.
Fokus pada energi bersih dan bebas emisi menyoroti peran sentral generasi muda dalam menghadapi krisis iklim. Mereka adalah pihak yang paling akan merasakan dampak dari keputusan hari ini, sehingga suara dan ide-ide mereka sangat penting dalam merumuskan solusi inovatif untuk tantangan lingkungan.
Seleksi Ketat dan Representasi Inklusif
Antusiasme terhadap Parlemen Remaja 2025 sangat luar biasa. Dari total 8.345 pendaftar yang berasal dari 3.635 sekolah di 84 daerah pemilihan (dapil) seluruh Indonesia, hanya 140 peserta terpilih yang berkesempatan mengikuti simulasi ini. Angka-angka ini menunjukkan betapa ketatnya seleksi dan tingginya minat generasi muda untuk terlibat dalam politik.
Komposisi peserta pun mencerminkan semangat inklusivitas: 68 peserta perempuan (48,5%) dan 72 peserta laki-laki (51,5%). Keterwakilan gender ini menjadi nilai utama, memastikan beragam perspektif dapat terwakili dalam setiap diskusi dan simulasi, mencerminkan keragaman masyarakat Indonesia.
Keberagaman latar belakang, daerah, dan gender ini diharapkan dapat memperkaya dinamika persidangan dan menghasilkan pemikiran yang lebih komprehensif. Setiap peserta membawa pengalaman unik dari daerahnya, memungkinkan mereka untuk saling belajar dan memahami isu-isu dari berbagai sudut pandang.
Rahasia 3M Puan Maharani: Bekal Jadi Wakil Rakyat Hebat
Untuk membekali para peserta agar lebih memahami tugas legislatif, Puan Maharani memperkenalkan prinsip "3M" sebagai kunci utama menjadi wakil rakyat yang efektif. Prinsip ini adalah panduan praktis yang sangat relevan bagi siapa pun yang ingin berkontribusi dalam pembuatan kebijakan.
1. Mendengar
Yang pertama adalah "Mendengar". Puan menekankan bahwa seorang anggota DPR harus mampu mendengar apa yang disuarakan rakyat. Ini bukan sekadar mendengarkan secara pasif, melainkan menyerap aspirasi, keluhan, dan harapan masyarakat dengan empati dan tanpa prasangka.
Seringkali, orang lebih mudah berbicara daripada mendengar. Padahal, kemampuan mendengar yang baik adalah fondasi untuk memahami masalah dan mencari solusi yang tepat. Tanpa mendengar, bagaimana bisa seorang wakil rakyat benar-benar mewakili kepentingan konstituennya?
2. Menyuarakan
Setelah mendengar, langkah selanjutnya adalah "Menyuarakan". Aspirasi yang telah diserap harus diartikulasikan dengan jelas dan lantang di forum-forum legislatif, baik dalam rapat komisi, rapat paripurna, maupun dalam interaksi dengan pemerintah. Ini adalah jembatan penting antara rakyat dan kebijakan.
Ini berarti mengubah keluhan warga menjadi poin-poin diskusi, mengajukan pertanyaan kritis, dan memastikan suara rakyat tidak tenggelam dalam hiruk pikuk politik. Menyuarakan adalah tindakan keberanian dan tanggung jawab untuk memastikan setiap warga negara memiliki representasi.
3. Memperjuangkan
Terakhir, dan yang tak kalah penting, adalah "Memperjuangkan". Aspirasi yang sudah disuarakan harus diperjuangkan hingga menjadi kebijakan atau program yang nyata dan berdampak positif bagi masyarakat. Perjuangan ini membutuhkan ketekunan, negosiasi, dan kemampuan lobi yang kuat.
Puan mengingatkan bahwa tugas DPR bukan hanya mendengarkan dan menyuarakan, tetapi juga memastikan bahwa perjuangan tersebut membuahkan hasil. Meskipun eksekusi program ada di tangan pemerintah, peran DPR dalam mengawal, mendorong, dan mengawasi implementasi kebijakan adalah krusial untuk memastikan janji-janji politik terpenuhi.
Tantangan dan Harapan untuk Generasi Muda
Pesan Puan Maharani kepada para peserta Parlemen Remaja adalah sebuah amanah besar. Ia berharap, melalui program ini, para remaja tidak hanya mendapatkan pengalaman simulasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian integral dari masa depan politik dan pembangunan bangsa.
Kemampuan berpikir kritis, berargumentasi, dan berkolaborasi yang diasah di Parlemen Remaja akan menjadi bekal berharga, tidak hanya jika mereka kelak terjun ke dunia politik, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan. Mereka akan menjadi warga negara yang lebih cerdas dan partisipatif.
Dengan semangat "Generasi Pembaru Energi" dan bekal 3M, Parlemen Remaja 2025 diharapkan melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang berintegritas, peka sosial, dan siap membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Masa depan bangsa ada di tangan mereka, dan program ini adalah langkah awal yang krusial.


















