Perhelatan akbar Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang akan segera digelar pada akhir September ini di Jakarta, semakin memanas. Aroma persaingan menuju kursi Ketua Umum (Ketum) kian terasa, terutama dengan munculnya perdebatan sengit mengenai kriteria calon pemimpin partai berlambang Ka’bah tersebut. Salah satu suara lantang datang dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP se-Jawa Tengah, yang secara tegas menolak gagasan calon ketua umum dari eksternal partai.
Penolakan Tegas dari Akar Rumput: Menjaga Marwah Partai
Suyono, yang mewakili suara DPC PPP se-Jawa Tengah, bersama pasukannya, menyatakan keengganan mereka untuk berspekulasi mengenai calon ketua umum dari luar. Penolakan ini bukan tanpa alasan kuat. Mereka berpendapat bahwa demi menjaga marwah atau kehormatan PPP, seorang calon ketua umum haruslah diuji ketulusan dan loyalitasnya secara mendalam.
Bagi Suyono dan para kader di akar rumput, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan secara instan. "Kalau menjadi ketum harus merangkak dulu menjadi kader dan pengurus," tegas Suyono dengan keyakinan penuh. Ia menekankan bahwa proses panjang menjadi kader adalah fondasi utama untuk memahami dan memimpin partai.
Mengapa Ketum Harus Kader Internal?
Suyono melanjutkan, "Kalau belum menjadi kader tiba-tiba menjadi ketum, maka saya sebagai seorang kader kurang sepakat. Saya rasa di partai mana pun juga sama." Pernyataan ini mencerminkan prinsip universal dalam banyak partai politik, di mana pemahaman mendalam tentang ideologi, sejarah, dan dinamika internal partai dianggap krusial bagi seorang pemimpin.
PPP, menurut Suyono, adalah "partai perjuangan dengan kejujuran." Ia menambahkan bahwa membangun partai haruslah dengan ketulusan hati. Hal ini menggarisbawahi identitas PPP sebagai partai yang lahir dari sejarah panjang perjuangan politik umat Islam di Indonesia, di mana nilai-nilai kejujuran dan ketulusan menjadi pilar utama.
Proses menjadi kader dan pengurus internal bukan sekadar formalitas. Ini adalah perjalanan panjang yang melibatkan pengabdian, pemahaman ideologi partai, serta merasakan langsung suka duka perjuangan bersama. Seorang pemimpin yang tumbuh dari dalam diyakini memiliki ikatan emosional dan pemahaman kontekstual yang lebih kuat terhadap kebutuhan dan aspirasi anggota partai.
Jelang Muktamar X PPP: Panggung Penentuan Arah Partai
Muktamar X PPP yang dijadwalkan berlangsung pada 27-29 September di Jakarta, bukan sekadar ajang pemilihan pemimpin. Ini adalah forum tertinggi partai yang akan menentukan arah dan strategi PPP ke depan. Para pemegang hak suara, atau yang dikenal sebagai muktamirin, terdiri dari perwakilan DPC, DPW, dan Fraksi PPP di wilayahnya masing-masing.
Setiap suara yang diberikan oleh para muktamirin akan sangat krusial dalam membentuk masa depan partai. Mereka adalah representasi dari seluruh kader dan simpatisan PPP di seluruh Indonesia, membawa amanah besar untuk memilih pemimpin yang paling tepat. Oleh karena itu, perdebatan mengenai kriteria calon ketua umum menjadi sangat penting dan mendapatkan perhatian serius.
Aturan AD/ART yang Tegas: Benteng Pertahanan Partai
Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PPP, aturan mengenai calon ketua umum sangatlah jelas. Seorang calon ketua umum harus merupakan kader internal partai, bukan berasal dari eksternal ataupun partai lain. Aturan ini berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menjaga integritas, ideologi, dan stabilitas partai.
Keberadaan aturan ini menunjukkan komitmen PPP untuk mempertahankan identitas dan prinsip-prinsip dasarnya. Ini juga menjadi jaminan bahwa pemimpin yang terpilih adalah sosok yang telah teruji kesetiaannya terhadap partai dan memahami betul visi misi yang diemban PPP sejak awal berdirinya. Penolakan terhadap calon eksternal, seperti yang disuarakan Suyono, adalah cerminan dari ketaatan terhadap AD/ART ini.
Mardiono: Kandidat Terkuat yang Penuhi Syarat AD/ART
Di tengah dinamika perdebatan ini, nama Mardiono mencuat sebagai salah satu calon terkuat. Ia memenuhi semua syarat yang ditetapkan dalam AD/ART PPP, yakni sebagai kader internal partai yang telah lama berkiprah. Lebih dari itu, Mardiono juga telah mendapatkan dukungan luas dari berbagai wilayah, baik DPC maupun DPW se-Indonesia.
Dukungan yang masif ini menjadi indikator kuat bahwa Mardiono memiliki legitimasi dan penerimaan yang tinggi di kalangan internal partai. Keberhasilannya menggalang dukungan dari berbagai daerah menunjukkan kapasitasnya dalam menyatukan berbagai faksi dan aspirasi di dalam PPP. Hal ini tentu menjadi modal berharga untuk memimpin partai ke depan.
Sebagai seorang kader yang telah melewati berbagai jenjang kepengurusan, Mardiono diyakini memahami betul seluk-beluk dan tantangan yang dihadapi PPP. Pengalamannya yang panjang diyakini akan menjadi kunci untuk membawa partai ini semakin solid dan relevan di kancah politik nasional.
Tantangan dan Harapan untuk PPP ke Depan
Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua Umum PPP dalam Muktamar X nanti akan menghadapi tantangan besar. Konsolidasi internal, peningkatan elektabilitas, serta adaptasi terhadap dinamika politik yang terus berubah adalah beberapa agenda penting yang menanti. PPP memiliki sejarah panjang sebagai salah satu partai Islam tertua di Indonesia, dan menjaga relevansinya adalah tugas utama.
Dengan semangat perjuangan dan kejujuran yang selalu digaungkan, PPP diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Kepemimpinan yang kuat, berintegritas, dan memahami betul akar rumput partai akan menjadi kunci untuk mewujudkan harapan tersebut. Muktamar X ini bukan hanya sekadar pemilihan, melainkan penentuan arah masa depan PPP yang lebih cerah dan solid.


















