Ballroom Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/9/2025) malam, seharusnya menjadi saksi pesta demokrasi internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, kegembiraan itu mendadak berubah menjadi ketegangan, bahkan berujung ricuh. Muktamar ke-X PPP yang diagendakan mencari ketua umum definitif justru ternodai aksi baku hantam dan lempar kursi antar muktamirin.
Padahal, acara sempat berlangsung lancar dan hangat, dihadiri ribuan kader serta sesepuh partai. Plt Ketum PPP, Mardiono, membuka acara dengan sambutan yang awalnya disambut meriah. Panitia mengklaim lebih dari 1.500 tamu undangan hadir dalam gelaran akbar ini.
Siapa Saja Kandidatnya?
Beberapa hari sebelum Muktamar, bursa calon ketua umum PPP memang sudah memanas. Tiga nama kuat muncul ke permukaan, yaitu Muhammad Mardiono yang saat ini menjabat Plt Ketum, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, dan mantan Dubes RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie.
Namun, dukungan terkuat mengerucut pada Mardiono dan Agus Suparmanto. Juru Bicara PPP, Usman M Tokan, bahkan menyebut Mardiono didukung 33 DPW, sementara Agus mendapat restu dari mantan Ketum PPP, M Romahurmuziy atau Gus Rommy. Para kandidat pun gencar melakukan deklarasi dukungan di berbagai daerah. Ini menjadi ajang unjuk kekuatan untuk mengantongi modal besar menuju kursi ketua umum.
Mekanisme Pemilihan yang Berujung Panas
Sekretaris Jenderal PPP, Arwani Thomafi, sempat menjelaskan mekanisme pemilihan ketua umum periode 2025-2030. Total ada 676 suara sah dari peserta muktamar yang berasal dari DPW, DPC, DPP, dan badan otonom partai, dengan masing-masing satu suara. Arwani memastikan tidak ada intervensi dari DPP terhadap pilihan DPW maupun DPC. Ia menegaskan, kader bebas mendukung kandidat mana pun, bahkan menjadi tim sukses.
Namun, suasana riuh mulai terasa saat Mardiono memasuki ruangan muktamar, disambut yel-yel "lanjutkan" dari pendukungnya. Ketegangan semakin memuncak ketika Mardiono menyampaikan sambutan, diwarnai kericuhan kecil yang sempat diredakan dengan sholawat. Ketenangan itu tak bertahan lama. Teriakan "lanjutkan" kembali bersahutan, dibalas seruan "perubahan" dari kubu lain. Adu yel-yel ini dengan cepat berubah menjadi baku hantam dan lempar kursi, membuat arena muktamar benar-benar gaduh.
Klaim Kemenangan di Tengah Kericuhan
Di tengah kekacauan yang tak terkendali, sebuah klaim mengejutkan muncul: Mardiono disebut terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum definitif PPP periode 2025-2030. Keputusan ini, menurutnya, diambil untuk menyelamatkan muktamar yang sudah dalam situasi darurat. Mardiono mengklaim, keputusan Pimpinan Sidang dan Ketua Panitia Pelaksana untuk mempercepat proses pemilihan dibenarkan oleh Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Ia juga menyebut 80 persen peserta menyatakan setuju dengan aklamasi tersebut.
Pimpinan sidang, Amir Uskara, kemudian mengetuk palu, mengesahkan Mardiono sebagai ketua umum. Ia beralasan, 30 ketua DPW hadir dan memberikan dukungan penuh untuk Mardiono. "Saya bacakan, saya langsung meminta kesepakatan. Mereka setuju dan saya ketuk palu," ujarnya. Mardiono sendiri menerima keputusan aklamasi itu, mengklaim dorongan untuk memimpin partai datang dari mayoritas pengurus wilayah melalui rapat kerja wilayah (Rakerwil) maupun rapat pimpinan wilayah (Rapimwil). Ia menegaskan tidak pernah mendeklarasikan pencalonan atau membentuk tim sukses. "Kalau memang organisasi ini memanggil, ya itu sudah menjadi kewajiban saya," ucap Mardiono.
Agus Suparmanto Tak Mau Kalah: Klaim Aklamasi Versi Lain
Namun, klaim kemenangan Mardiono tak berjalan mulus begitu saja. Kubu Agus Suparmanto juga menyatakan bahwa mantan Menteri Perdagangan itu yang sah terpilih sebagai ketua umum melalui aklamasi dalam forum Muktamar X yang berbeda. Sekretaris SC Muktamar X PPP, Rusman Yakub, menegaskan bahwa Agus Suparmanto ditetapkan secara aklamasi pada pukul 01.00 dini hari, Minggu (28/9/2025). Proses ini berlangsung dalam sidang yang dipimpin oleh Qoyum Abdul Jabbar, pimpinan Sidang Paripurna VIII.
Kubu Agus menolak keras klaim Mardiono, menyatakan bahwa keputusan aklamasi Agus adalah kehendak muktamar dan aspirasi muktamirin. Qoyum menyayangkan pihak Mardiono yang melakukan klaim sepihak dan menyebarkan berita di media. Ia menegaskan bahwa argumentasi aklamasi hanya dengan absen tidak dapat dibenarkan. Ketua umum terpilih bersama formatur akan segera menyusun kepengurusan dengan mengakomodir kekuatan PPP.
Rommy Bersuara Keras: “Dagelan Tingkat Dewa!”
Ketua Majelis Pertimbangan PPP, Romahurmuziy atau Gus Rommy, tak tinggal diam. Ia dengan tegas membantah klaim aklamasi Mardiono, menyebutnya sebagai "klaim sepihak" yang tidak benar. Rommy bahkan menyoroti foto aklamasi Mardiono yang beredar, yang disebutnya dilakukan di kamar hotel.
"Ini Muktamar atau mau ngamar? Setelah kabur dari arena muktamar, mengumumkan aklamasi dari kamar. Kalau pun dagelan, ini dagelan tingkat dewa," sindir Rommy pedas pada wartawan, Minggu (28/09/2025). Pernyataan Rommy ini semakin memperkeruh suasana dan mempertanyakan legitimasi klaim kedua belah pihak.
Korban Berjatuhan dan Masa Depan PPP
Kericuhan di arena muktamar tidak hanya menyisakan drama politik, tetapi juga korban fisik. Sejumlah kader PPP dilaporkan terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit, beberapa mengalami cedera di kepala dan bibir. Mardiono membenarkan adanya korban dan memastikan kejadian terekam CCTV. Ia bahkan menuding ada pihak-pihak yang mencoba mengambil alih secara paksa, tidak sesuai AD/ART partai.
"Ada CCTV, tentu polisi akan melakukan penyelidikan. Kami sudah tahu sejak dua minggu terakhir ada kelompok-kelompok yang ingin secara ilegal mengambil alih secara paksa," ucap Mardiono. Dualisme kepemimpinan ini menambah panjang daftar konflik internal PPP. Ironisnya, ini terjadi di tengah kondisi kritis partai yang gagal melampaui ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 dengan raihan suara hanya 3,87 persen. Konflik berkepanjangan ini dikhawatirkan akan semakin memperlemah posisi PPP di kancah politik nasional. Masa depan partai berlambang Ka’bah ini kini berada di ujung tanduk.


















