banner 728x250

Ketua MPR Ahmad Muzani Dianugerahi Gelar Adat Melayu: Bukan Sekadar Simbol, Ini Tanggung Jawab Sejarah!

ketua mpr ahmad muzani dianugerahi gelar adat melayu bukan sekadar simbol ini tanggung jawab sejarah portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Sebuah momen bersejarah terjadi pada Jumat (14/11/2025) ketika Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Muzani, menerima anugerah gelar kebesaran adat Melayu yang prestisius. Gelar "Dato Seri Diwangsa Wira Perdana" disematkan langsung oleh Kesultanan Riau, menandai pengakuan mendalam terhadap peran dan kontribusinya. Upacara penganugerahan ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah penyerahan amanah yang sarat makna dan tanggung jawab.

Muzani, dalam keterangannya, mengungkapkan rasa hormat dan syukurnya yang mendalam atas anugerah tersebut. Ia menegaskan bahwa berdiri di bumi Gurindam yang kaya sejarah ini untuk menerima gelar luhur adalah sebuah kehormatan tak ternilai. Baginya, gelar ini jauh melampaui sekadar simbol status, melainkan sebuah panggilan untuk mengemban tugas yang lebih besar.

banner 325x300

Signifikansi Gelar Adat di Era Modern

Pemberian gelar adat kepada seorang tokoh nasional seperti Ahmad Muzani menunjukkan relevansi dan vitalitas tradisi di tengah modernisasi. Ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang kaya dengan tantangan masa kini, mengingatkan kita akan akar budaya bangsa. Kesultanan Riau, sebagai penjaga tradisi Melayu, memainkan peran krusial dalam melestarikan nilai-nilai luhur ini dan menurunkannya kepada generasi mendatang.

Gelar "Dato Seri Diwangsa Wira Perdana" sendiri memiliki makna yang mendalam dalam khazanah Melayu. "Dato Seri" merujuk pada kehormatan tinggi, "Diwangsa" mengacu pada kebangsawanan atau keturunan mulia, sementara "Wira Perdana" berarti pahlawan utama atau pemimpin yang gagah berani. Kombinasi ini menegaskan harapan agar penerima gelar mampu menjadi teladan kepemimpinan yang berani, bijaksana, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan.

Riau: Jantung Peradaban Melayu yang Abadi

Ahmad Muzani juga menyoroti peran sentral Riau sebagai jantung peradaban Melayu yang tak lekang oleh waktu. Wilayah ini telah lama menjadi kancah lahirnya pemikir-pemikir besar dan karya-karya monumental yang membentuk identitas Melayu. Keberadaan Riau sebagai pusat kebudayaan bukan hanya karena letak geografisnya yang strategis, tetapi juga karena semangat masyarakatnya dalam menjaga dan mengembangkan warisan leluhur.

Dari tanah inilah, berbagai tradisi, bahasa, dan sastra Melayu berkembang pesat, memengaruhi wilayah-wilayah lain di Nusantara hingga Semenanjung Malaya. Kekayaan intelektual dan spiritual Riau telah menjadi mercusuar bagi kebudayaan Melayu secara keseluruhan. Pengakuan terhadap Riau sebagai "bumi Gurindam" adalah pengingat akan kontribusi tak ternilai yang telah diberikan daerah ini bagi peradaban bangsa.

Gurindam XII dan Konstitusi Moral Bangsa

Salah satu warisan terbesar dari Riau adalah karya agung Raja Ali Haji, khususnya Gurindam XII. Muzani menekankan bahwa karya ini bukan hanya sekadar warisan sastra yang indah, melainkan sebuah "konstitusi moral" bagi orang-orang Melayu. Gurindam XII adalah kumpulan nasihat dan petuah yang dirangkai dalam bentuk puisi, memberikan panduan etika dan moral yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Karya ini mencerminkan kebijaksanaan leluhur dalam melihat kehidupan, hubungan antarmanusia, dan hubungan dengan Tuhan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan pentingnya ilmu, masih sangat relevan hingga saat ini. Gurindam XII menjadi pegangan bagi masyarakat Melayu dalam membentuk karakter dan menjalani kehidupan yang bermartabat.

Pesan Raja Ali Haji yang Relevan Hingga Kini

Muzani secara khusus mengutip pasal kelima dari Gurindam XII yang berbunyi, "Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa." Pesan ini, menurutnya, sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Raja Ali Haji dengan tegas mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta kekayaan, kekuasaan, atau bahkan tahta yang dimilikinya.

Sebaliknya, kemuliaan sejati terletak pada budi pekerti yang luhur dan tutur kata yang santun serta beradab. Ini adalah esensi kebudayaan Melayu yang mengedepankan akhlak mulia, kesabaran, dan kesehajaan dalam setiap aspek kehidupan. Di tengah hiruk pikuk modernitas yang seringkali mengikis nilai-nilai luhur, pesan ini menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya menjaga integritas moral dan etika.

Tanggung Jawab Moral dan Kultural Sang Dato

Sebagai politikus Gerindra dan Ketua MPR, Ahmad Muzani memahami bahwa gelar yang diterimanya adalah sebuah tanggung jawab moral dan kultural yang harus dijunjung tinggi. Ia menghaturkan setinggi-tingginya terima kasih atas kepercayaan mendalam yang telah diberikan oleh masyarakat Melayu. Kepercayaan ini bukan hanya ditujukan kepada dirinya secara pribadi, tetapi juga kepada institusi yang diwakilinya.

Muzani menegaskan komitmennya untuk mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya, menjaga kehormatan gelar, dan terus berupaya melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai budaya Melayu. Tanggung jawab ini juga berarti menjadi jembatan antara pemerintah pusat dan masyarakat adat, memastikan bahwa aspirasi dan hak-hak masyarakat adat tetap terakomodasi dalam pembangunan nasional. Gelar ini menjadi pengingat konstan akan pentingnya kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai luhur.

Membangun Karakter Bangsa Lewat Nilai Adat

Penganugerahan gelar adat ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran budaya dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur, seperti yang terkandung dalam Gurindam XII, adalah fondasi kuat untuk menciptakan masyarakat yang beradab, berintegritas, dan harmonis. Membangun karakter bangsa tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai budaya yang telah teruji oleh waktu.

Ahmad Muzani berharap, dengan menerima amanah ini, ia dapat semakin menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan bangsanya. Melalui pengakuan terhadap nilai-nilai adat, kita dapat memperkuat identitas nasional dan memastikan bahwa warisan luhur para pendahulu tetap hidup dan relevan di masa depan. Ini adalah langkah nyata dalam menjaga kebhinekaan dan kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.

banner 325x300