Kabar mengenai rencana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, ke Partai Gerindra ternyata tidak disambut hangat oleh semua pihak. Sebaliknya, wacana ini justru memicu gelombang penolakan keras dari sejumlah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra di daerah. Situasi ini menciptakan dinamika internal yang menarik perhatian publik, seolah menguji soliditas partai berlambang kepala burung Garuda tersebut.
Menanggapi gejolak ini, Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, angkat suara. Ia mencoba meredakan ketegangan dengan menyebut penolakan tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang lumrah terjadi dalam sebuah partai besar. Pernyataan Dasco ini seolah menjadi upaya untuk menenangkan suasana di tengah riuhnya suara penolakan dari akar rumput.
"Ya namanya dinamika di politik, itu soal tidak menerima atau ada yang menerima itu kan biasa," kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Menurutnya, persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan karena merupakan hal yang sering terjadi dalam kancah perpolitikan.
Dasco juga menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada pembahasan resmi di tingkat DPP terkait rencana masuknya Budi Arie. Ia bahkan menyebut Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, belum mendengar adanya penolakan tersebut. Hal ini karena Prabowo sedang berada di luar negeri, sehingga fokus partai mungkin tertuju pada agenda lain.
"Belum sempat dibahas, kita belum ada soal pembahasan karena Pak Prabowo kan keluar negeri kemarin," ungkap Dasco. Pernyataan ini menyiratkan bahwa keputusan final mengenai status Budi Arie masih jauh dari kata rampung, dan aspirasi dari daerah mungkin belum sepenuhnya sampai ke telinga pimpinan tertinggi partai.
Gerindra Bangkalan dan Solo Kompak Menolak: Mengapa?
Sebelum Dasco memberikan tanggapan, gelombang penolakan telah lebih dulu disuarakan oleh DPC Gerindra di beberapa daerah. Salah satunya datang dari Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang secara terang-terangan menolak rencana bergabungnya Budi Arie Setiadi. Penolakan ini disampaikan oleh Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bangkalan, Anton Bastoni, dalam sebuah jumpa pers pada Senin (10/11/2025).
Menurut Anton, wacana masuknya mantan Menteri Komunikasi dan Informasi itu ke Gerindra telah menimbulkan keresahan di kalangan kader. Diskusi internal pun digelar, dan hasilnya adalah mufakat bulat untuk menolak Budi Arie menjadi bagian dari kepengurusan partai. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran serius di tingkat lokal.
Alasan utama penolakan, lanjut Anton, adalah pandangan bahwa Partai Gerindra bukan sekadar tempat singgah bagi politisi. Para kader menilai rekam jejak politik Budi Arie yang dianggap tidak konsisten, membuatnya tidak pantas menjadi kader partai berlambang kepala burung Garuda tersebut. Konsistensi dan loyalitas menjadi nilai yang sangat dijunjung tinggi.
"Kami atas nama DPC Gerindra Bangkalan menolak tegas masuknya Budi Arie sebagai pengurus DPP Gerindra," tegas Anton. Pernyataan ini mencerminkan sikap militan kader yang ingin menjaga marwah dan identitas partai dari figur yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip perjuangan Gerindra.
Anton mengungkapkan bahwa Gerindra adalah partai besar dengan ideologi nasionalis dan komitmen kuat terhadap perjuangan rakyat. Oleh karena itu, tidak selayaknya Gerindra hanya dijadikan tempat persinggahan oleh figur politik yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan mantan Presiden Joko Widodo. Ini menyoroti perbedaan latar belakang politik yang signifikan.
"Kami tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin bergabung, tapi Budi Arie kami nilai tidak layak karena rekam jejaknya tidak sejalan dengan semangat perjuangan Gerindra," ujarnya. Anton juga meminta para petinggi partai Gerindra untuk mempertimbangkan aspirasi kader di daerah, dengan tidak mengakomodasi rencana bergabungnya Budi Arie.
"Kami berharap suara kader di bawah diakomodir dan menolak Budi Arie masuk ke jajaran DPP Gerindra," tutur Anton. Suara dari Bangkalan ini jelas menunjukkan bahwa keputusan di tingkat pusat harus mempertimbangkan sentimen dari basis massa di daerah, yang merupakan tulang punggung kekuatan partai.
Tak hanya Bangkalan, penolakan serupa juga datang dari DPC Partai Gerindra Kota Solo. Ketua DPC Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno, bahkan menegaskan bahwa masuknya Budi Arie justru berpotensi merusak tatanan partai. Pernyataan ini jauh lebih keras dan mengindikasikan kekhawatiran akan perpecahan internal.
Menurut Ardianto, Gerindra telah memiliki kader yang militan dan solid, bahkan melebihi kekuatan organisasi relawan Projo yang dipimpin Budi Arie. Ia menilai, bergabungnya Budi justru berpotensi mengganggu keseimbangan internal partai pimpinan Prabowo Subianto. Kehadiran figur baru dengan latar belakang berbeda bisa menggeser dinamika yang sudah terbangun.
"Karena Gerindra sudah punya kader militan melebihi Projo itu. Budi kalau masuk bisa merusak tatanan partai," ujar Ardianto. Ia menambahkan bahwa Budi Arie memiliki pemikiran yang berbeda dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Gerindra, yang menjadi landasan ideologi dan operasional partai.
Kekhawatiran ini menunjukkan bahwa kader Gerindra di Solo sangat menjaga kemurnian ideologi dan soliditas internal mereka. Mereka tidak ingin partai yang telah mereka bangun dengan susah payah terganggu oleh masuknya figur yang dianggap tidak memiliki keselarasan visi dan misi. Ini adalah bentuk proteksi terhadap identitas partai.
Latar Belakang: Niat Budi Arie Gabung Gerindra Terungkap
Gejolak internal ini bermula ketika Budi Arie Setiadi secara terbuka mengumumkan niatnya untuk segera bergabung dengan Partai Gerindra. Pengumuman itu disampaikan dalam Kongres III Projo yang digelar di Jakarta, pada Sabtu (1/11/2025). Momen tersebut menjadi pemicu awal dari polemik yang kini bergulir.
"Mohon izin jika suatu saat saya berpartai, teman-teman Projo bisa memahaminya," kata Budi Arie dalam sambutannya. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa keputusannya untuk berpartai adalah atas permintaan langsung dari Presiden, sebuah klaim yang menambah bobot pada keputusannya.
"Enggak usah ditanya lagi partainya apa. Karena apa? Saya mungkin satu-satunya orang yang diminta oleh Presiden langsung di sebuah forum," lanjut Budi Arie. Pernyataan ini menguatkan persepsi bahwa ia adalah figur yang memiliki koneksi kuat dengan lingkaran kekuasaan, yang justru menjadi salah satu poin keberatan bagi kader Gerindra di daerah.
Budi kemudian menegaskan pilihannya bergabung ke partai berlambang Garuda. "Betul, iya lah, pasti Gerindra," sambungnya dengan yakin. Pengumuman ini, yang seharusnya menjadi kabar baik bagi Gerindra dalam memperkuat barisan, justru menimbulkan reaksi tak terduga dari internal partai.
Analisis Dinamika Internal Gerindra: Lebih dari Sekadar ‘Biasa’?
Pernyataan Sufmi Dasco yang menyebut penolakan ini sebagai "dinamika politik biasa" mungkin bertujuan untuk menenangkan situasi. Namun, jika dilihat dari intensitas dan alasan penolakan yang disampaikan oleh DPC Bangkalan dan Solo, gejolak ini bisa jadi lebih dari sekadar dinamika biasa. Ini menunjukkan adanya resistensi ideologis dan kekhawatiran akan identitas partai.
Penolakan publik dari DPC, yang merupakan representasi akar rumput, bukanlah hal sepele. Ini bisa menjadi indikasi bahwa ada kesenjangan antara kebijakan atau keinginan di tingkat pusat dengan aspirasi dan pandangan kader di daerah. Kesenjangan ini perlu diatasi agar tidak memicu perpecahan yang lebih dalam.
Kasus Budi Arie ini juga menyoroti tantangan bagi Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Gerindra. Setelah memenangkan Pilpres dan menjadi presiden terpilih, ia kini harus menyeimbangkan antara konsolidasi kekuatan politik dengan menjaga keutuhan dan loyalitas internal partai. Mengakomodasi figur baru seperti Budi Arie, yang sebelumnya berada di "kubu" berbeda, memerlukan strategi yang matang.
Apa Selanjutnya? Tantangan Bagi Prabowo dan Gerindra
Dengan Prabowo Subianto yang sedang berada di luar negeri, keputusan mengenai Budi Arie Setiadi kemungkinan besar akan tertunda. Namun, ketika ia kembali, masalah ini akan menjadi salah satu agenda penting yang harus diselesaikan. Bagaimana Prabowo akan menanggapi penolakan dari kader daerahnya? Apakah ia akan mengakomodasi Budi Arie atau mendengarkan suara dari akar rumput?
Situasi ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Prabowo dalam mengelola dinamika internal partai. Ia harus mampu menunjukkan bahwa Gerindra adalah partai yang solid, menghargai aspirasi kadernya, sekaligus tetap terbuka terhadap kemungkinan aliansi politik strategis. Keseimbangan ini akan menentukan arah Gerindra ke depan.
Apapun keputusan yang diambil, kasus Budi Arie ini telah membuka diskusi penting mengenai identitas, loyalitas, dan masa depan Partai Gerindra. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi dengan bijak agar Gerindra tetap menjadi kekuatan politik yang solid dan disegani, baik di mata publik maupun di internal partai.


















