Peta politik Indonesia kembali bergejolak dengan rilis survei terbaru dari Indonesia Political Opinion (IPO). Hasilnya mengejutkan banyak pihak, di mana Partai Gerindra berhasil menduduki posisi teratas dengan tingkat elektabilitas yang sangat tinggi, jauh meninggalkan para pesaingnya.
Survei yang dilakukan pada rentang 9 hingga 17 Oktober 2025 ini menunjukkan dominasi Gerindra dengan perolehan 33,5 persen suara. Angka ini menandakan konsolidasi dukungan yang solid dan kepercayaan publik yang kuat terhadap partai berlambang kepala garuda tersebut.
Gerindra Mendominasi: Kekuatan Figur Nasional di Lingkar Pemerintahan
Keunggulan Gerindra yang signifikan ini bukan tanpa alasan. Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, menjelaskan bahwa faktor utama di balik lonjakan elektabilitas ini adalah pengaruh kuat kepemimpinan figur nasional yang saat ini berada di lingkar pemerintahan. Sosok karismatik ini mampu menarik perhatian dan membangun kepercayaan publik secara masif.
"Kinerja tokoh utama Partai Gerindra yang saat ini berada di posisi strategis pemerintahan berpengaruh besar terhadap kepercayaan publik," ujar Dedi dalam Rilis Survei dan Diskusi Media di Jakarta, Selasa (21/10/2025). Ia menambahkan, elektabilitas Gerindra yang konsisten di atas 30 persen adalah bukti nyata adanya konsolidasi dukungan yang solid dari berbagai lapisan masyarakat.
Kehadiran figur sentral di pemerintahan memberikan Gerindra keuntungan ganda. Selain mendapatkan sorotan media yang intens, partai ini juga dianggap mampu mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini secara otomatis meningkatkan citra positif dan daya tarik elektoral partai.
PDI Perjuangan, Golkar, dan PKB: Posisi Strategis yang Perlu Dicermati
Di bawah Gerindra, ada PDI Perjuangan yang menempati posisi kedua dengan 16,4 persen. Meskipun masih menjadi salah satu kekuatan politik terbesar, angka ini menunjukkan tantangan bagi PDIP untuk kembali merebut hati pemilih yang mungkin beralih ke Gerindra.
Selanjutnya, Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan 9,1 persen, diikuti oleh PKB dengan 6,2 persen. Kedua partai ini, dengan basis massa dan jaringan yang kuat, tetap menjadi pemain kunci dalam kancah politik nasional, namun perlu strategi lebih untuk mengejar ketertinggalan dari dua besar.
Posisi partai-partai besar ini mencerminkan dinamika politik yang terus bergerak. Meskipun memiliki sejarah panjang dan akar rumput yang kuat, mereka harus terus beradaptasi dan berinovasi untuk mempertahankan serta meningkatkan elektabilitas di tengah persaingan yang semakin ketat.
Kejutan dari PAN: Strategi Komunikasi Politik yang Efektif
Namun, sorotan utama dari survei IPO kali ini jatuh pada Partai Amanat Nasional (PAN). Siapa sangka, PAN berhasil menempati posisi kelima dengan perolehan 5,0 persen, sebuah capaian yang patut diacungi jempol. Angka ini menempatkan PAN di atas sejumlah partai besar lainnya yang selama ini dikenal memiliki basis massa yang lebih mapan.
PAN sukses menyalip Partai Demokrat (4,9 persen), PKS (4,8 persen), dan NasDem (4,0 persen). Kenaikan ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi politik dan pendekatan yang dilakukan PAN mulai membuahkan hasil. Mereka mampu menarik perhatian pemilih yang mencari alternatif di tengah polarisasi politik.
Dedi Kurnia Syah menilai keberhasilan PAN masuk lima besar adalah bukti kemampuan partai dalam menjaga komunikasi politik dan mempertahankan citra moderat di tengah dinamika politik nasional. "PAN menunjukkan performa stabil dan adaptif dalam merespons isu-isu publik," jelas Dedi.
Membangun Kedekatan: Resep Rahasia PAN Meroket
Kenaikan elektabilitas PAN tidak lepas dari kemampuan partai membangun kedekatan dengan pemilih rasional dan kelompok muda. Mereka tampaknya berhasil menyajikan diri sebagai partai yang relevan, adaptif, dan mampu merespons isu-isu kekinian yang menjadi perhatian masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z.
Salah satu contoh nyata dari upaya ini terlihat dari kolaborasi Partai Amanat Nasional dengan Jakcloth di Gedung Gris Semarang, Jawa Tengah. Acara yang dipadati pengunjung pada malam minggu itu tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga fokus untuk membangkitkan kembali spirit UMKM di Tanah Air.
Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa PAN tidak hanya bermain di ranah politik formal, tetapi juga aktif merangkul komunitas dan sektor ekonomi kreatif. Pendekatan ini sangat efektif untuk membangun citra positif dan kedekatan emosional dengan segmen pemilih yang lebih muda dan dinamis.
Nasib Partai Lain: Demokrat, PKS, NasDem, dan Tantangan Elektabilitas
Sementara itu, partai-partai seperti Demokrat, PKS, dan NasDem yang sebelumnya kerap bersaing di papan atas, kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tersalip oleh PAN. Ini menjadi sinyal penting bagi mereka untuk mengevaluasi strategi dan pendekatan politik yang selama ini dijalankan.
Demokrat, PKS, dan NasDem, yang masing-masing meraih 4,9 persen, 4,8 persen, dan 4,0 persen, kini berada di bawah bayang-bayang PAN. Mereka perlu mencari cara baru untuk kembali menarik perhatian pemilih dan mengkonsolidasikan basis dukungan agar tidak semakin tertinggal.
Adapun partai-partai seperti Perindo, PPP, dan PSI berada di bawah 2 persen. Angka ini menunjukkan tantangan besar bagi mereka untuk bisa lolos ambang batas parlemen di pemilihan berikutnya. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas di mata publik.
Apa Makna Survei Ini Bagi Peta Politik Indonesia?
Hasil survei IPO ini memberikan gambaran yang menarik tentang preferensi politik masyarakat Indonesia di tahun 2025. Dominasi Gerindra menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dan posisi strategis di pemerintahan sangat berpengaruh terhadap elektabilitas partai.
Di sisi lain, meroketnya PAN menjadi bukti bahwa strategi komunikasi yang cerdas, citra moderat, dan kemampuan beradaptasi dengan isu-isu publik dapat menjadi kunci sukses. Ini juga menandakan bahwa pemilih semakin rasional dan tidak lagi terpaku pada nama besar semata, melainkan juga melihat kinerja dan relevansi partai.
Peta politik Indonesia selalu dinamis dan penuh kejutan. Survei ini menjadi pengingat bagi semua partai politik untuk tidak lengah dan terus berinovasi dalam mendekati serta melayani masyarakat.
Secara keseluruhan, survei IPO ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan aspirasi dan harapan publik terhadap partai-partai politik. Gerindra menikmati puncak popularitasnya, sementara PAN membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, kuda hitam pun bisa berlari kencang dan mengejutkan banyak pihak.


















