banner 728x250

Geger Gerindra! Kader Daerah Kompak Tolak Budi Arie, Prabowo di Persimpangan Jalan?

geger gerindra kader daerah kompak tolak budi arie prabowo di persimpangan jalan portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Drama politik kembali mewarnai panggung nasional, kali ini datang dari internal Partai Gerindra. Rencana bergabungnya Ketua Umum Relawan Pro-Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi, ke partai berlambang burung Garuda tersebut justru memicu gelombang penolakan keras dari para kader di berbagai daerah. Situasi ini menempatkan Gerindra, khususnya Ketua Umum Prabowo Subianto, di persimpangan jalan antara strategi ekspansi partai dan menjaga soliditas internal.

Penolakan Keras dari Akar Rumput Gerindra

banner 325x300

Suara penolakan paling lantang datang dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kota Solo. Ketua DPC Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno, dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa menerima kehadiran Budi Arie. Penolakan ini, menurut Ardianto, bukan hanya terjadi di Solo, melainkan selaras dengan sikap jajaran pengurus partai di daerah lain yang juga kompak menolak.

"Solo sendiri juga sama (menolak), tidak begitu bisa menerima, Budi Arie Projo masuk Gerindra," ujar Ardianto pada Selasa (11/11/2025). Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa resistensi terhadap Budi Arie bukan sekadar riak kecil, melainkan gelombang yang cukup signifikan dari basis partai. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran mendalam di kalangan kader terkait potensi dampak masuknya tokoh tersebut.

Mengapa Budi Arie Ditolak? Alasan Kuat dari Kader Militan

Alasan penolakan para kader Gerindra terhadap Budi Arie bukan tanpa dasar. Ardianto Kuswinarno menjelaskan bahwa Gerindra telah memiliki kader-kader yang sangat militan dan solid, bahkan kekuatannya dinilai melebihi organisasi relawan Projo. Kehadiran Budi Arie justru dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan dan tatanan internal partai yang sudah terbangun kokoh.

"Karena Gerindra sudah punya kader militan melebihi Projo itu. Budi kalau masuk bisa merusak tatanan partai," tegas Ardianto. Lebih lanjut, ia juga menyoroti potensi perbedaan pemikiran Budi Arie dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Gerindra. Ini menunjukkan kekhawatiran akan adanya benturan ideologi atau cara pandang yang bisa memecah belah partai dari dalam. Para kader merasa identitas dan nilai-nilai partai terancam.

Respons DPP Gerindra: Mendengarkan Suara Kader

Menanggapi gejolak ini, Ketua DPP Partai Gerindra, Prasetyo Hadi, memastikan bahwa pihaknya telah mendengarkan suara penolakan dari teman-teman DPC di daerah. Pernyataan ini disampaikan Prasetyo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (13/11/2025), mengindikasikan bahwa masalah ini sudah menjadi perhatian serius di tingkat pusat. Artinya, suara akar rumput tidak diabaikan begitu saja.

Yang menarik, Prasetyo Hadi juga mengungkapkan bahwa Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto, sudah mengetahui terkait penolakan para kader terhadap Budi Arie. "Sudah, sudah (Prabowo sudah tahu)," ungkapnya. Ini menunjukkan bahwa isu ini telah sampai ke telinga pimpinan tertinggi partai, menambah kompleksitas situasi yang harus dihadapi Prabowo.

Dilema Prabowo: Antara Ekspansi dan Soliditas Internal

Meski demikian, Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Gerindra belum mengambil keputusan resmi terkait bergabungnya Budi Arie. Ia juga menambahkan bahwa Budi Arie sendiri secara resmi belum menyampaikan niatnya untuk bergabung. Pernyataan ini memberikan ruang bagi Gerindra untuk menimbang-nimbang langkah selanjutnya, namun juga menempatkan Prabowo dalam posisi dilematis.

Di satu sisi, Prabowo mungkin melihat potensi strategis dari masuknya Budi Arie. Sebagai Ketua Umum Projo, Budi Arie memiliki jaringan relawan yang luas dan basis massa yang loyal terhadap Presiden Jokowi. Mengakuisisi tokoh seperti Budi Arie bisa menjadi langkah cerdas untuk memperluas basis dukungan Gerindra, terutama menjelang kontestasi politik di masa depan. Ini bisa menjadi jembatan untuk menarik simpati pemilih yang sebelumnya condong ke kubu Jokowi.

Namun, di sisi lain, Prabowo harus mempertimbangkan soliditas dan loyalitas kader-kader lamanya. Penolakan yang kuat dari akar rumput, seperti yang disuarakan DPC Solo, tidak bisa dianggap remeh. Mengabaikan suara kader militan berisiko menciptakan perpecahan internal, demotivasi, atau bahkan eksodus kader yang merasa tidak dihargai. Loyalitas kader adalah fondasi utama sebuah partai, dan mengorbankannya demi keuntungan jangka pendek bisa berakibat fatal.

Siapa Budi Arie dan Mengapa Ia Menjadi Sorotan?

Budi Arie Setiadi bukanlah sosok asing di kancah politik nasional. Ia dikenal luas sebagai Ketua Umum Relawan Pro-Jokowi (Projo), salah satu organisasi relawan terbesar dan paling militan yang mendukung Presiden Joko Widodo sejak Pilpres 2014. Peran Projo sangat signifikan dalam menggalang dukungan dan memenangkan Jokowi di dua periode kepemimpinannya.

Rekam jejak Budi Arie yang sangat lekat dengan "kubu sebelah" atau setidaknya dengan kekuatan politik di luar Gerindra, menjadi salah satu faktor mengapa kehadirannya memicu resistensi. Meskipun Gerindra dan Prabowo kini telah menjadi bagian dari koalisi pemerintahan, memori persaingan politik di masa lalu masih kuat di benak banyak kader. Mereka mungkin melihat Budi Arie sebagai representasi dari rival politik yang kini mencoba masuk ke "rumah" mereka, yang bisa jadi dianggap mengancam ideologi asli partai.

Masa Depan Gerindra: Menjaga Keseimbangan atau Ambil Risiko?

Keputusan akhir terkait Budi Arie akan menjadi ujian penting bagi kepemimpinan Prabowo Subianto. Apakah Gerindra akan memprioritaskan ekspansi politik dengan merangkul tokoh-tokoh baru, meskipun itu berarti menghadapi gejolak internal? Atau akankah partai memilih untuk menjaga soliditas kader inti, bahkan jika itu berarti melewatkan peluang untuk memperluas basis dukungan?

Ini bukan hanya tentang Budi Arie, tetapi juga tentang visi Gerindra ke depan. Bagaimana partai ini akan menyeimbangkan antara pragmatisme politik dan idealisme kader? Bagaimana mereka akan mengelola transisi dan adaptasi di tengah dinamika politik yang terus berubah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan sangat menentukan arah dan kekuatan Gerindra di masa mendatang.

Situasi ini juga menyoroti pentingnya komunikasi internal yang efektif dalam sebuah partai besar. Suara dari daerah, yang merupakan ujung tombak perjuangan partai, harus didengar dan dipertimbangkan dengan serius. Konflik internal yang tidak tertangani dengan baik bisa menjadi bumerang bagi ambisi politik Gerindra.

Pada akhirnya, bola panas ini kini berada di tangan Prabowo Subianto. Dengan pengalaman politiknya yang matang, publik menanti bagaimana Prabowo akan merespons penolakan kader dan mengambil keputusan yang paling strategis bagi masa depan Gerindra. Apakah Budi Arie akan tetap menjadi "orang luar" atau berhasil menembus benteng Gerindra? Waktu yang akan menjawab.

banner 325x300