banner 728x250

Bukan Kaleng-kaleng! Rahayu Saraswati Mundur dari DPR, HMI: Akuntabilitas Langka Politikus Muda!

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo memegang mikrofon dan kertas, dikelilingi kerumunan.
Pengunduran diri Rahayu Saraswati menuai pujian dari PB HMI sebagai teladan akuntabilitas politik.
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari kancah politik Tanah Air belum lama ini. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, sosok politikus muda yang dikenal aktif dan vokal, secara resmi memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Keputusan berani ini sontak menuai beragam reaksi, salah satunya pujian setinggi langit dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

PB HMI menilai langkah Rahayu sebagai sebuah teladan langka. Mereka menganggap pengunduran diri ini adalah contoh nyata akuntabilitas personal yang patut dijadikan rujukan penting bagi generasi pemimpin masa depan Indonesia. Di tengah sorotan publik terhadap integritas politisi, tindakan Rahayu ini dianggap sebagai angin segar yang sangat dibutuhkan.

banner 325x300

Langkah Berani Rahayu Saraswati yang Jadi Sorotan

Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Rahayu Saraswati secara lugas mengumumkan pengunduran dirinya. "Saya menyatakan pengunduran diri sebagai Anggota DPR RI kepada Fraksi Partai Gerindra," ujarnya dalam video yang beredar luas dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pengumuman ini menunjukkan transparansi dan keberanian dalam mengambil keputusan politik.

Keputusan Rahayu ini, menurut banyak pihak, bukan sekadar manuver politik biasa. Ini adalah pernyataan kuat tentang prinsip dan etika. Sebagai politikus muda, tindakannya diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak individu di kancah politik untuk berpegang teguh pada nilai-nilai integritas.

PB HMI: Akuntabilitas Bukan Sekadar Slogan!

Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan, dengan tegas menyatakan bahwa akuntabilitas bukanlah sekadar kata-kata manis atau slogan kosong yang sering diucapkan di mimbar-mimbar politik. Menurutnya, akuntabilitas adalah tindakan nyata yang harus diambil, terutama saat terjadi kekeliruan yang melukai kepercayaan publik.

"Saat terjadi kekeliruan yang melukai publik, pemimpin muda wajib mengambil konsekuensi, memulihkan kepercayaan, dan memastikan lembaga tetap bekerja," kata Bagas. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya tanggung jawab moral dan etika dalam setiap jabatan publik.

Ia menambahkan bahwa pilihan Rahayu untuk mundur menunjukkan kesediaan mengambil tanggung jawab politik secara nyata. Ini adalah standar yang harus dinormalisasi di kalangan politikus muda, sebuah praktik yang sayangnya masih jarang terlihat di panggung politik Indonesia.

"Own the mistake, fix the trust," ujar Bagas, menekankan pentingnya mengakui kesalahan dan berupaya memperbaiki kepercayaan yang telah rusak. Contoh konkret seperti ini sangat penting agar etika publik tidak hanya berhenti pada retorika kosong, melainkan menjelma menjadi tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Respon Fraksi Gerindra dan Spekulasi yang Beredar

Keputusan Rahayu Saraswati, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, tentu saja dihormati oleh fraksinya. Sekretaris Fraksi Gerindra, Bambang Haryadi, menyatakan bahwa fraksinya menghormati keputusan politik tersebut. Ini menunjukkan dukungan dan pemahaman terhadap pilihan pribadi anggotanya.

Proses administratif terkait pengunduran diri ini pun akan segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini memastikan bahwa langkah Rahayu telah melalui prosedur yang semestinya, menjaga ketertiban dan legalitas dalam sistem parlemen.

Namun, di tengah kabar pengunduran diri ini, sempat beredar spekulasi liar di kalangan parlemen. Beberapa pihak mengaitkan keputusan Rahayu dengan peluang dirinya untuk menduduki kursi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), sebuah posisi strategis yang kerap menjadi incaran politisi.

Bantahan Tegas dari Rahayu dan Gerindra

Rahayu Saraswati dengan tegas membantah anggapan tersebut. Ia menjelaskan, jika tujuannya adalah menjadi menteri, ia tidak perlu repot-repot mundur dari jabatannya di DPR RI yang sudah ia duduki. Pernyataan ini secara gamblang menepis motif ambisi jabatan di balik keputusannya.

Pimpinan fraksi Gerindra juga turut menepis isu serupa, memperkuat bantahan Rahayu. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan mundur murni didasari oleh prinsip akuntabilitas personal dan kesadaran etika, bukan karena adanya "deal" atau ambisi politik tersembunyi.

Standar Baru untuk Etika Publik?

PB HMI melihat langkah Rahayu sebagai sebuah "contoh konkret" yang sangat dibutuhkan di tengah krisis kepercayaan publik terhadap politisi. Tindakan seperti ini bisa menjadi angin segar yang mampu mengembalikan sedikit demi sedikit keyakinan masyarakat terhadap lembaga legislatif.

"Contoh konkret seperti ini penting agar etika publik tidak berhenti pada retorika," tegas Bagas. Ini adalah panggilan bagi para pemimpin muda untuk tidak hanya berbicara tentang tanggung jawab, tetapi juga menunjukkannya melalui tindakan nyata, bahkan jika itu berarti harus melepaskan jabatan.

Diharapkan, keputusan Rahayu Saraswati ini dapat menjadi pemicu bagi politikus lainnya untuk lebih berani mengambil konsekuensi atas kekeliruan atau untuk menunjukkan integritas. Membangun kepercayaan publik adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya bagi keberlangsungan demokrasi yang sehat. Langkah ini bisa menjadi penanda dimulainya standar baru dalam berpolitik, di mana akuntabilitas personal menjadi fondasi utama.

Dengan demikian, pengunduran diri Rahayu Saraswati bukan sekadar berita politik biasa yang lewat begitu saja. Ini adalah sebuah pernyataan kuat tentang pentingnya akuntabilitas dan etika dalam berpolitik. Sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang bercita-cita menjadi pemimpin yang benar-benar melayani rakyat dan siap bertanggung jawab atas setiap tindakannya.

banner 325x300