Di tengah derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang tak terbendung, Cyber University, sebagai Kampus Fintech Pertama di Indonesia, lantang menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan krusial antara teknologi dan kemanusiaan. Seruan ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah panggilan untuk merenungkan kembali arah inovasi agar tidak kehilangan esensi kemanusiaan di era digital.
Pesan mendalam ini mengemuka dalam acara prestisius AI Summit & Mental Health yang digelar di Aula Perpustakaan Universitas Indonesia, Crystal of Knowledge, pada Selasa (28/10/2025). Sebuah forum yang secara khusus membahas bagaimana AI harus bersinergi dengan kesejahteraan mental dan nilai-nilai luhur manusia.
Acara penting ini menghadirkan Dr. Fuad Gani, Wakil Direktur I Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia, seorang pakar yang memaparkan pandangannya mengenai masa depan AI yang beretika dan inklusif. Ia menekankan bahwa inovasi teknologi harus selalu berakar pada kemanusiaan.
Ancaman Tersembunyi AI: Bukan Robot, Tapi Hak Kemanusiaan
Menurut Dr. Fuad Gani, fokus pengembangan teknologi tidak boleh hanya terpaku pada efisiensi dan kemajuan industri semata. Lebih dari itu, ia harus menghormati hak-hak sosial masyarakat dan tidak mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan yang fundamental.
Fuad menegaskan adanya "sub-teknologi" yang tak kalah penting, yaitu tentang budaya, etika, dan sisi kemanusiaan. Ia memperingatkan agar teknologi tidak justru meminggirkan kelompok yang kurang beruntung, bahkan ada regulasi global yang mengakui "hak untuk tidak menggunakan teknologi digital." Ini adalah poin krusial yang sering terabaikan dalam euforia kemajuan teknologi.
Ketika Teknologi Justru Meminggirkan
Ia mencontohkan, sistem transaksi elektronik seperti kartu tol atau pembayaran digital, yang seringkali dianggap solusi modern, justru bisa menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat. Sistem ini kerap menutup akses bagi mereka yang belum terintegrasi atau tidak memiliki fasilitas tersebut, menciptakan jurang digital yang nyata.
Ketika seseorang tidak memiliki kartu elektronik padahal memiliki uang tunai, dan kemudian tidak bisa melewati tol, ini adalah bentuk peminggiran yang nyata. "Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi soal hak asasi manusia yang harus dijamin," tegas Fuad, menyoroti dimensi etis dari setiap inovasi.
Indonesia Punya “Soul”: Kunci Keunggulan di Tengah Gempuran Teknologi Global
Di tengah persaingan global yang ketat dalam perlombaan teknologi, Dr. Fuad Gani melihat Indonesia memiliki keunggulan unik yang tak dimiliki banyak negara maju. Kita tidak perlu bersaing dalam investasi teknologi murni yang masif atau menjadi Silicon Valley kedua.
Jika hanya bersaing dari sisi kecanggihan teknologi murni, tentu akan sangat berat bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Namun, kita memiliki "soul" atau jiwa, budaya luhur, dan nilai sosial yang tinggi, serta pendekatan yang dikenal ramah dan penuh empati.
Inilah keunggulan fundamental yang bisa menjadi identitas dan warna khas Indonesia dalam lanskap dunia digital global. Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan, yang tertanam kuat dalam masyarakat kita, dapat menjadi fondasi bagi pengembangan AI yang lebih manusiawi dan inklusif.
Pendekatan ini memungkinkan Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen inovasi yang berakar pada kearifan lokal dan berpihak pada kesejahteraan bersama. Ini adalah modal berharga yang tak dimiliki banyak negara adidaya teknologi, memberikan kita posisi tawar yang unik di panggung dunia.
AI yang Berpihak pada Kemanusiaan, Bukan Sekadar Algoritma
Oleh karena itu, Fuad berpendapat bahwa pengembangan AI di Indonesia haruslah berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar mengejar kecanggihan algoritma semata. Teknologi harus mampu menumbuhkan empati dan memperkuat nilai sosial, bukan justru menggerusnya demi efisiensi yang kering.
AI yang ideal adalah AI yang mampu memahami konteks sosial, menghargai keberagaman, dan membantu memecahkan masalah kemanusiaan secara holistik. Ini berarti menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap inovasi, memastikan bahwa teknologi melayani, bukan mendominasi.
Mencari Keseimbangan: Akal dan Rasa di Era Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan, menurut Fuad, harus dikembangkan dengan prinsip keseimbangan antara akal (rasio) dan rasa (emosi). Teknologi ini memang menawarkan kemudahan luar biasa, namun ia tidak boleh menggantikan kebijaksanaan dan empati manusia yang tak ternilai harganya.
Kesejahteraan mental yang sejati hanya bisa dicapai melalui keseimbangan antara pikiran dan perasaan, antara teknologi dan kemanusiaan. "AI memang bisa memberikan jawaban cepat, tapi tidak selalu benar atau bijaksana dalam konteks kehidupan manusia yang kompleks," imbuhnya, menekankan perlunya penilaian kritis.
Teknologi Hanya Alat, Manusia Penentu Arah
Fuad menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya hanyalah sebuah alat yang netral. Yang terpenting adalah bagaimana manusia menggunakannya, dengan bekal rasa, moral, dan tanggung jawab sosial yang kuat sebagai kompas.
Tanpa nilai-nilai tersebut, teknologi berpotensi menjadi alat penghancur yang berbahaya, memicu konflik atau memperlebar kesenjangan sosial. Namun, bila digunakan dengan etika dan empati, teknologi justru bisa menjadi jalan terang bagi kemajuan kemanusiaan yang sejati, membawa manfaat yang berkelanjutan bagi semua.


















