REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN – Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian masyarakat. Melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), UMJ sukses menggelar program inovatif di Posyandu Kartini 19, Kelurahan Serua, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Senin lalu. Program ini bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat serta kualitas layanan gizi, khususnya bagi balita.
Posyandu adalah garda terdepan kesehatan masyarakat, krusial untuk pemantauan tumbuh kembang anak, imunisasi, dan edukasi gizi. Namun, tantangan seperti kurangnya kepercayaan diri kader, pencatatan yang belum optimal, dan rendahnya kunjungan warga sering menghambat potensinya.
Kader posyandu, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, menjadi jembatan vital antara layanan kesehatan dan masyarakat. Mereka memastikan setiap anak mendapat perhatian gizi layak, namun seringkali membutuhkan dukungan dan pelatihan agar peran mereka maksimal dan berdampak nyata.
Melihat urgensi tersebut, Tim PkM UMJ turun tangan dengan program bertajuk ‘Peningkatan Kepesertaan Layanan Posyandu Kartini 19 melalui Revitalisasi Peran Kader dan Edukasi Gizi berbasis GiziKit Komunitas’. Kegiatan ini menjadi angin segar bagi Posyandu Kartini 19, bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah revolusi kecil dalam pelayanan gizi di tingkat komunitas.
Inovasi UMJ: GiziKit dan Digitalisasi Layanan, Rahasia Sukses Posyandu Modern
Program ini dipimpin oleh Nurmalia Lusida, S.KM., M.KM., yang juga Koordinator Bidang Pengabdian kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMJ. Nurmalia menjelaskan bahwa tujuan utama adalah memperkuat peran kader sebagai komunikator gizi keluarga, pendamping saat hari layanan, sekaligus penggerak praktik makan sehat di rumah.
"Ketika kader percaya diri menyampaikan pesan gizi dan pencatatan dilakukan rapi, masalah gizi dapat dideteksi lebih dini dan kunjungan posyandu ikut meningkat," ujarnya. Ini adalah kunci untuk memastikan setiap balita mendapatkan perhatian yang optimal sejak dini.
Tim PkM UMJ tidak hanya membawa teori, melainkan pendekatan praktis yang mudah diterapkan. Mereka memperkenalkan alur layanan sederhana, media edukasi GiziKit, sistem pencatatan digital, dan buku panduan kader. Semua dirancang agar kader bisa langsung mengaplikasikannya di meja layanan, tanpa kerumitan.
Apa Itu GiziKit Komunitas?
GiziKit Komunitas adalah ‘senjata rahasia’ UMJ: seperangkat alat edukasi gizi yang mudah dipahami kader dan orang tua. Dengan GiziKit, edukasi porsi makan seimbang, jenis makanan bergizi, dan pengolahan tepat menjadi lebih visual dan interaktif. Ini membantu kader menyampaikan informasi kompleks secara menarik dan mudah dicerna.
Selain GiziKit, digitalisasi layanan juga menjadi fokus utama. Bayangkan, kini pencatatan data balita, riwayat imunisasi, hingga perkembangan gizi bisa dilakukan secara digital. Ini tidak hanya membuat data lebih rapi dan mudah diakses, tetapi juga memungkinkan deteksi dini masalah gizi dengan lebih akurat.
Kader kini bisa memberikan umpan balik yang lebih spesifik dan bermanfaat bagi orang tua. Setiap kunjungan ke posyandu benar-benar memberikan nilai tambah, karena orang tua mendapatkan informasi yang jelas dan terukur tentang tumbuh kembang anak mereka.
Kader Jadi Lebih Percaya Diri dan Terampil, Siap Jadi Agen Perubahan!
Pelatihan yang diberikan UMJ tidak hanya fokus pada alat, tetapi juga pada peningkatan kapasitas kader secara menyeluruh. Nurmalia menegaskan, "Kami membawa pendekatan yang praktis dan kontekstual agar kader bisa langsung memakainya di meja layanan, mulai dari alur sederhana, penggunaan media edukasi seperti Gizikit, sistem pencatatan digital, hingga buku panduan kader, sehingga setiap kunjungan menghasilkan umpan balik yang jelas dan bermanfaat bagi orang tua."
Tim PkM UMJ diperkuat oleh para ahli di bidangnya, termasuk Prof. Dr. Dra. Andriyani, S.KM., M.Ag., M.KM., Fitria Rosmi, S.Pd., M.Pd., serta tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMJ. Kolaborasi ini memastikan materi yang disampaikan tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi lapangan dan diperkaya dengan perspektif generasi muda.
Para kader mendapatkan bimbingan langsung, praktik penggunaan GiziKit, hingga simulasi pencatatan digital. Mereka diajarkan cara mengidentifikasi masalah gizi lebih cepat dan memberikan solusi yang tepat, menjadikan mereka agen perubahan yang efektif di komunitas.
Cucu Suminar, Ketua Posyandu Kartini 19, mengakui dampak positif dari program ini. "Dengan format edukasi singkat, pencatatan tertib, dan panduan yang jelas, kami lebih cepat menindaklanjuti balita yang perlu perhatian. Harapannya, kunjungan rutin naik dan orang tua makin paham cara memenuhi gizi anak," kata Cucu. Kader kini merasa lebih percaya diri dalam memberikan umpan balik kepada orang tua, karena mereka memiliki panduan dan alat yang jelas.
Dampak Nyata bagi Balita dan Keluarga: Menuju Generasi Sehat dan Cerdas
Program ini tak hanya tingkatkan kemampuan kader, tapi juga berikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Dengan kader terampil dan layanan terstruktur, kualitas gizi di Posyandu Kartini 19 meningkat signifikan. Deteksi dini masalah gizi seperti stunting atau gizi kurang pun lebih cepat, intervensi bisa diberikan lebih awal.
Orang tua akan mendapatkan informasi gizi yang lebih akurat dan mudah dipahami, membantu mereka membuat keputusan terbaik untuk kesehatan anak-anaknya. Pada akhirnya, ini akan berkontribusi pada peningkatan tumbuh kembang balita, menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. Kunjungan ke posyandu tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan yang memberikan solusi nyata.
Dukungan Penuh dari Lingkungan dan Pemerintah: Kolaborasi untuk Kesehatan Bersama
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan penuh berbagai pihak. Muhyati, Ketua RW sekaligus Pembina Posyandu, menegaskan komitmen lingkungan untuk memperkuat layanan dasar bagi keluarga. "Pelatihan dari UMJ sangat membantu kader kami lebih terstruktur dalam melayani. RW siap mendukung penjadwalan, sosialisasi ke warga, hingga penyediaan sarana sederhana agar ibu-ibu makin nyaman datang ke posyandu," ujarnya.
Sinergi antara akademisi, kader, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama. Kegiatan ini juga selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ketiga tentang kesehatan dan kesejahteraan. Selain itu, program ini mendukung pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, serta sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah yang berfokus pada pembangunan manusia dan peningkatan kualitas hidup.
Masa Depan Gizi Anak Indonesia: Harapan UMJ untuk Pembangunan Berkelanjutan
Tim PkM UMJ berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kader posyandu dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas layanan gizi serta tumbuh kembang balita. Lebih dari itu, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan di Indonesia. Ini adalah langkah kecil yang diharapkan bisa memicu perubahan besar.
Dengan adanya GiziKit dan sistem digitalisasi, Posyandu Kartini 19 kini menjadi model percontohan bagi posyandu lain. Harapannya, inovasi serupa dapat direplikasi di berbagai daerah, menciptakan jaringan posyandu yang kuat dan modern di seluruh Indonesia. UMJ membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya kewajiban, melainkan kesempatan untuk menciptakan dampak nyata dan positif bagi bangsa.
Program ini terselenggara berkat dukungan Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2025. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung inovasi dan pengabdian perguruan tinggi untuk kemajuan masyarakat.


















