banner 728x250

Perpusnas Bongkar Habis Sistem Penilaian Literasi: Daerahmu Siap-siap Diukur dari Kinerja Nyata, Bukan Sekadar Angka!

Sampul dokumen 'Peta Jalan Pembudayaan Kegemaran Membaca Masyarakat' oleh Perpusnas RI.
Perpusnas RI terus berupaya memperkuat literasi dan akurasi data pengukuran melalui berbagai inisiatif strategis seperti 'Peta Jalan' ini.
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA — Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI membuat gebrakan besar yang akan mengubah peta pengukuran literasi di seluruh Indonesia. Mulai tahun 2025, instrumen penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) akan dirombak total. Perubahan ini bukan sekadar revisi kecil, melainkan sebuah revolusi yang bertujuan menghasilkan data yang lebih valid, sahih, dan benar-benar mencerminkan kondisi literasi di daerahmu.

Kepala Perpusnas, E Aminudin Aziz, secara resmi membuka Sosialisasi Kajian Perpustakaan Indonesia Tahun 2025 secara daring di Jakarta pada Jumat (26/9/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan komitmen Perpusnas untuk memperkuat kualitas data. Ini penting, sebab data yang akurat adalah fondasi untuk kebijakan yang tepat sasaran, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

banner 325x300

Revolusi Pengukuran Literasi: Fokus Bukan Lagi Administrasi!

Selama ini, pengukuran literasi seringkali terjebak pada aspek-aspek administratif yang bersifat permukaan. Contohnya, seberapa luas bangunan perpustakaan atau berapa jumlah koleksi buku yang dimiliki. Meskipun penting, metrik ini seringkali tidak mampu menangkap esensi sebenarnya dari budaya baca dan literasi masyarakat. Perpusnas menyadari bahwa pendekatan ini perlu diubah secara fundamental.

Instrumen penilaian yang baru akan menggeser fokus dari kepatuhan administratif menuju kinerja nyata. Artinya, pemerintah daerah (pemda) tidak lagi hanya dinilai dari seberapa banyak mereka "memiliki," tetapi lebih pada seberapa efektif mereka "melakukan." Ini adalah perubahan paradigma yang signifikan, yang diharapkan akan mendorong inovasi dan kreativitas di tingkat daerah dalam memajukan literasi.

IPLM dan TKM: Lebih Tepat Sasaran, Lebih Adil

Perubahan instrumen ini dirancang untuk memastikan penilaian lebih tepat sasaran dan fokus pada lingkup tugas masing-masing pemda. Aminudin Aziz menjelaskan, instrumen baru akan mengukur kinerja pemda sesuai kewenangan yang mereka miliki. Ini akan membuat penilaian IPLM dan TKM menjadi lebih adil dan relevan, karena tidak membandingkan apel dengan jeruk, melainkan menilai setiap daerah berdasarkan kapasitas dan tanggung jawabnya.

Penilaian yang lebih terfokus ini akan membantu Perpusnas dan pemerintah pusat dalam memberikan rekomendasi yang lebih spesifik dan terarah. Jika sebelumnya rekomendasi mungkin bersifat umum, kini bisa disesuaikan dengan tantangan dan potensi unik setiap provinsi, kabupaten, atau kota. Ini adalah langkah maju untuk memastikan setiap rupiah anggaran dan setiap upaya program literasi benar-benar berdampak.

Mengukur Perilaku Membaca dari A sampai Z

Salah satu inovasi paling menarik ada pada dimensi TKM. Jika sebelumnya pengukuran mungkin lebih sederhana, kini instrumen terbaru akan mengukur perilaku membaca masyarakat secara lebih komprehensif. Ini mencakup tiga tahapan penting: pramembaca, aktivitas saat membaca, hingga pascamembaca.

Apa artinya ini bagi kamu dan daerahmu? Tahap pramembaca bisa mencakup seberapa sering seseorang mencari informasi tentang buku, berdiskusi tentang minat baca, atau mengunjungi perpustakaan. Aktivitas saat membaca tidak hanya menghitung jumlah buku yang dibaca, tetapi juga seberapa dalam pemahaman dan interaksi pembaca dengan materi. Sementara itu, pascamembaca akan mengukur bagaimana seseorang mengaplikasikan pengetahuan dari bacaan, berbagi wawasan, atau bahkan menciptakan sesuatu berdasarkan inspirasi dari buku. Ini adalah pendekatan holistik yang akan memberikan gambaran lebih utuh tentang budaya baca masyarakat.

Data Jujur Kunci Sukses: Apa Kata Kepala Perpusnas?

Aminudin Aziz menekankan pentingnya kejujuran dalam pengisian data. "Pada bulan Oktober semua akan memulai memasukkan data, berikan data apa adanya, sesuai dengan kondisi yang sebenarnya," tegasnya. Pesan ini bukan tanpa alasan. Data yang jujur dan apa adanya adalah kunci utama bagi Perpusnas untuk bisa memberikan perlakuan dan saran yang tepat kepada pemerintah daerah.

Bayangkan jika data yang masuk tidak sesuai kenyataan. Perpusnas mungkin akan memberikan rekomendasi yang salah, atau mengalokasikan sumber daya ke area yang sebenarnya tidak membutuhkan. Dengan data yang transparan, Perpusnas bisa lebih mudah mengidentifikasi masalah sebenarnya, merancang program yang efektif, dan membantu daerahmu mencapai potensi literasi terbaiknya. Ini adalah ajakan untuk kolaborasi yang didasari integritas.

IPLM dan TKM: Bukan Sekadar Angka, Tapi Indikator Kunci Pembangunan Daerah!

Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Nurhadisaputra, menegaskan bahwa IPLM dan TKM memiliki peran yang sangat strategis. Kedua instrumen ini bukan hanya sekadar alat ukur tingkat literasi masyarakat, tetapi juga merupakan Indikator Kinerja Kunci (IKK) bagi pemerintah daerah. Ini berarti, capaian IPLM dan TKM secara langsung akan menjadi salah satu ukuran keberhasilan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota dalam membangun kualitas sumber daya manusia berbasis literasi.

Implikasinya sangat luas. Sebuah daerah dengan skor IPLM dan TKM yang tinggi tidak hanya menunjukkan masyarakatnya gemar membaca, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat untuk pembangunan berkelanjutan. Literasi adalah gerbang menuju pengetahuan, inovasi, dan partisipasi aktif dalam masyarakat. Daerah yang berhasil meningkatkan literasi warganya cenderung memiliki masyarakat yang lebih kritis, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global. Oleh karena itu, perubahan instrumen ini bukan hanya tentang perpustakaan, tetapi tentang masa depan pembangunan manusia di setiap sudut negeri.

Mendorong Inovasi dan Akuntabilitas di Daerah

Dengan fokus pada kinerja nyata, pemerintah daerah kini didorong untuk lebih kreatif dan inovatif dalam merancang program-program literasi. Mereka tidak bisa lagi hanya mengandalkan "ada"nya fasilitas, tetapi harus menunjukkan "fungsi" dan "dampak" dari fasilitas tersebut. Ini bisa berarti mengadakan lebih banyak kegiatan membaca komunitas, meluncurkan program literasi digital, atau bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem literasi yang hidup.

Akuntabilitas juga akan meningkat. Karena IPLM dan TKM menjadi IKK, setiap pemda akan lebih bertanggung jawab atas hasil yang mereka capai. Ini akan mendorong mereka untuk terus memantau, mengevaluasi, dan memperbaiki strategi literasi mereka. Pada akhirnya, perubahan ini diharapkan akan menciptakan kompetisi positif antar daerah untuk menjadi yang terbaik dalam memajukan literasi, yang pada gilirannya akan menguntungkan seluruh masyarakat Indonesia.

Masa Depan Literasi Indonesia: Lebih Cerah dengan Data Akurat

Perubahan instrumen pengukuran IPLM dan TKM oleh Perpusnas adalah langkah progresif yang patut diapresiasi. Dengan data yang lebih valid, sahih, dan komprehensif, kita bisa berharap untuk melihat kebijakan literasi yang lebih efektif, program yang lebih berdampak, dan pada akhirnya, masyarakat Indonesia yang lebih cerdas dan berdaya. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia yang akan menjadi penentu masa depan bangsa.

Jadi, bersiaplah, daerahmu! Di bulan Oktober 2025, babak baru pengukuran literasi akan dimulai. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang komitmen nyata untuk membangun budaya baca dan literasi yang kuat, dari Sabang sampai Merauke.

banner 325x300