Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., baru-baru ini menyuarakan seruan penting bagi seluruh warga Muhammadiyah. Ia menegaskan urgensi menumbuhkan kebanggaan dan semangat gerakan yang berkelanjutan di tengah-tengah organisasi.
Pesan ini disampaikan dalam acara Hari Bermuhammadiyah ke-12 yang diselenggarakan di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, MA Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Menurut Mu’ti, saat ini adalah momentum krusial bagi warga Muhammadiyah untuk tidak hanya merasa bangga, tetapi juga aktif bergerak demi kemaslahatan organisasi dan bangsa.
Mengapa Harus Bangga Menjadi Bagian dari Muhammadiyah?
Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam tentang sejarah dan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Ia menyebutkan bahwa pengetahuan ini berfungsi sebagai "modal moral dan intelektual" yang esensial.
Dengan memahami akar dan perjuangan para pendahulu, keyakinan untuk bergabung dan berjuang bersama Muhammadiyah akan semakin kokoh. Hal ini bukan sekadar retorika, melainkan fondasi kuat yang membuktikan bahwa memilih Muhammadiyah adalah keputusan yang tepat dan penuh makna.
Kiprah Global Muhammadiyah yang Membanggakan
Kebanggaan terhadap Muhammadiyah tidak hanya berhenti di lingkup nasional. Mu’ti juga mengungkapkan apresiasinya terhadap kiprah organisasi ini di kancah internasional, menunjukkan bahwa semangat Muhammadiyah telah melampaui batas-batas geografis Indonesia.
Salah satu contoh nyata adalah pengakuan organisasi Tapak Suci di Mesir, yang kini telah menjadi organisasi resmi dan tersebar di sembilan provinsi. Fenomena ini, menurutnya, adalah bukti konkret bahwa semangat dan nilai-nilai luhur Muhammadiyah telah mendapatkan pengakuan serta resonansi global. Ini membuktikan bahwa visi Muhammadiyah relevan dan diterima di berbagai belahan dunia.
Amal Ma’ruf Nahi Munkar: Gerakan Ilmu dan Moral
Lebih jauh, Mu’ti menyoroti esensi konsep "amal ma’ruf nahi munkar" sebagai sebuah gerakan yang berlandaskan ilmu dan moral. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit menghubungkan kedua istilah ini dalam sembilan ayat, menunjukkan bahwa ‘ma’ruf’ tidak hanya berarti kebaikan semata.
Namun, ‘ma’ruf’ juga mencakup sesuatu yang benar secara ilmiah, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan diterima oleh norma-norma masyarakat. Ini berarti bahwa kebaikan yang diajarkan haruslah rasional, terukur, dan memiliki dasar yang kuat.
Oleh karena itu, ‘amal ma’ruf’ diartikan sebagai ajakan kepada manusia untuk berpegang pada kebenaran yang didasarkan pada ilmu pengetahuan yang sahih. Ini adalah panggilan untuk berpikir kritis, meneliti, dan bertindak berdasarkan bukti, bukan sekadar dogma buta.
Relevansi Pancasila dan Fondasi Peradaban Islam
Sebagai Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMJ, Mu’ti juga menjelaskan relevansi mengapa Muhammadiyah menerima Pancasila sebagai dasar negara yang ideal bagi Indonesia. Ia menegaskan bahwa Islam sendiri meletakkan dasar-dasar peradaban yang kuat pada dua pilar utama: ilmu dan iman.
Sebagaimana firman Allah, umat manusia dapat mencapai kehebatan jika memiliki ilmu dan iman yang seimbang. Ini selaras dengan perintah pertama dalam Al-Qur’an, yaitu ‘Iqra” (bacalah), bukan ‘Al-Fatihah’, yang seringkali disalahpahami sebagai permulaan.
Penekanan pada ‘Iqra” ini menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh. Kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada masyarakat yang memiliki ‘ilmu yang amaliyah’ (ilmu yang diterapkan dalam amal perbuatan) dan ‘amal yang ilmiyah’ (amal perbuatan yang berdasarkan ilmu). Ini adalah prinsip yang mendasari mengapa Muhammadiyah selalu mengedepankan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Seruan untuk Terus Bergerak Mencerdaskan Bangsa
Menutup pesannya, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan ajakan yang kuat kepada seluruh warga Muhammadiyah. Ia berharap agar mereka terus bergerak aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
Perubahan besar dan transformatif, menurutnya, hanya akan lahir dari pemikiran yang mendalam dan tindakan yang berlandaskan pada ilmu. Ini adalah panggilan untuk menjadi agen perubahan, terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Tokoh Penting yang Turut Hadir
Acara Hari Bermuhammadiyah ke-12 ini juga dimeriahkan oleh kehadiran sejumlah tokoh penting dari berbagai latar belakang. Di antara mereka adalah President of The World Bosniak Congress, Shaikh Prof. Dr. Mustofa Ceric, yang memberikan perspektif global.
Turut hadir pula Ketua Bidang Garapan Pustaka dan Kearsipan PP Persatuan Islam (PERSIS), Hadi Nur Ramadhan, S.Sos., M.Pd., serta Sekretaris Jenderal PB Al Jam’iyatul Washliyah, Dr. Ir. H. Amran Arifin, MM., MBA. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi antar-organisasi Islam dalam mendukung visi kebangsaan.
Tak ketinggalan, Staf Ahli Menteri Bidang Talenta, Mariman Darto, jajaran Wakil Rektor UMJ, dekan, dosen, dan mahasiswa di lingkungan UMJ turut memeriahkan acara. Pengurus Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah daerah Banten dan Jakarta juga hadir, memperkuat semangat kebersamaan dan gerakan di tingkat lokal maupun regional.


















