banner 728x250

Kaget? Ijazah Bukan Tiket Emas! Ini 5 ‘Penyakit’ Pendidikan yang Bikin Lulusan Susah Kerja

Ilustrasi digital kunci gembok di perisai, simbol keamanan dan perlindungan data.
Data BPS ungkap tantangan penyerapan lulusan dalam dunia kerja yang dinamis.
banner 120x600
banner 468x60

Kalau ada yang bilang sekolah dan kuliah itu tiket emas ke dunia kerja, mungkin kita perlu cek lagi realitanya. Pasalnya, menurut Dr. Anang Martoyo, Kepala Career Center Cyber University, kenyataan di lapangan jauh lebih "absurd" dari bayangan banyak orang.

Di acara Masa Pengenalan Akademik (MAGNA) Cyber University, yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia, Dr. Anang membeberkan fakta-fakta mengejutkan. Data-data ini dijamin bikin jidat kamu berkerut dan mempertanyakan kembali tujuan pendidikan di Indonesia.

banner 325x300

Fakta Mengejutkan: Lulusan Kampus & SMK Banyak yang "Nyasar"

Bayangkan, data BPS 2024 menunjukkan lebih dari 58 persen lulusan kampus di Indonesia ternyata bekerja tidak sesuai dengan jurusan yang mereka ambil. Angka ini tentu saja bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari jutaan mimpi yang mungkin sedikit melenceng dari jalur.

Lebih parah lagi, di sisi lain, separuh lebih lulusan SMK malah harus menghadapi kenyataan pahit: mereka nganggur. Padahal, SMK digadang-gadang sebagai jalur cepat menuju dunia kerja, tapi data ini justru menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi.

Laporan dari LPPM UI juga memperkuat temuan ini, menegaskan adanya "mismatch" atau ketidaksesuaian serius antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Ini bukan masalah sepele, karena dampaknya bisa dirasakan oleh individu maupun perekonomian nasional.

Survei Populix 2024 bahkan lebih "jleb" lagi. Sebanyak 46 persen perusahaan di Indonesia mengeluh kesulitan mencari lulusan yang kompetensinya pas, meskipun "stok" sarjana di negeri ini melimpah ruah. Pertanyaannya, ada apa sebenarnya dengan sistem pendidikan kita?

Mengungkap Akar Masalah: Sistem Pendidikan yang "Kurang Tepat"

"Ini bukan soal perusahaan rewel, tapi sistem pendidikan kita memang masih kurang tepat," tegas Dr. Anang, dengan nada yang mungkin mengingatkan kita pada bapak-bapak yang sudah kenyang melihat kelakuan generasi micin. Pernyataan ini membuka mata kita bahwa masalahnya bukan hanya pada individu, tapi pada fondasi yang membentuk mereka.

Menurut Dr. Anang, ada "5 Penyakit Pendidikan" yang menjadi biang keladi kenapa mahasiswa gampang masuk, tapi seringkali tidak relevan di dunia kerja. Penyakit-penyakit ini membentuk paket kombo yang menghambat potensi lulusan untuk bersinar.

5 ‘Penyakit’ Pendidikan yang Bikin Kamu Susah Kerja

1. Mentalitas Stempel: Yang Penting Dapat Ijazah (dan Gelar)

Penyakit pertama adalah mentalitas stempel. Banyak mahasiswa yang kuliah hanya untuk mengejar ijazah atau gelar semata, seolah itu adalah tiket otomatis menuju kesuksesan. Mereka lupa bahwa ijazah hanyalah selembar kertas, sementara kompetensi dan pengalamanlah yang sebenarnya dicari.

Fokus pada "stempel" ini membuat proses belajar menjadi sekadar formalitas, bukan eksplorasi dan pengembangan diri. Alhasil, banyak yang lulus dengan pengetahuan teoritis, tapi minim kemampuan praktis yang dibutuhkan industri.

2. Metode Hafalan: Mesin Fotokopi Otak, Bukan Pemikir Sejati

Penyakit kedua adalah metode hafalan yang masih dominan. Sejak sekolah dasar, kita terbiasa menghafal materi tanpa benar-benar memahami esensinya. Akibatnya, otak kita lebih mirip mesin fotokopi yang hanya menduplikasi informasi, bukan pabrik ide yang mampu mengolah dan menciptakan.

Dunia kerja modern menuntut lebih dari sekadar ingatan; ia membutuhkan inovasi, adaptasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Metode hafalan justru mematikan potensi ini, membuat lulusan kesulitan menghadapi tantangan yang tidak ada di buku teks.

3. Minim Berpikir Kritis: Asal Nurut Aja, Nggak Berani Tanya

Penyakit ketiga adalah minimnya kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa seringkali diajarkan untuk "asal nurut aja" pada dosen atau kurikulum, tanpa didorong untuk mempertanyakan, menganalisis, atau mencari solusi alternatif. Ini menciptakan generasi yang pasif dan kurang inisiatif.

Padahal, di era informasi yang serba cepat ini, kemampuan berpikir kritis adalah kunci. Perusahaan mencari individu yang bisa mengidentifikasi masalah, mengevaluasi informasi, dan membuat keputusan berdasarkan analisis mendalam, bukan sekadar mengikuti instruksi.

4. Jurusan Gengsi: Biar Keren Pas Reuni, Tapi Nggak Laku di Pasar

Penyakit keempat adalah memilih jurusan berdasarkan "gengsi" atau tekanan sosial. Banyak yang memilih jurusan populer atau dianggap "keren" demi pamer di media sosial atau saat reuni, tanpa mempertimbangkan minat, bakat, atau relevansi pasar kerja.

Akibatnya, mereka terjebak dalam jurusan yang tidak sesuai passion, belajar tanpa motivasi, dan akhirnya lulus ke pasar kerja yang sudah jenuh. Padahal, banyak jurusan "non-gengsi" yang justru sangat dibutuhkan dan menawarkan prospek cerah.

5. Erosi Karakter: Mental Jalan Pintas, Nggak Mau Susah

Penyakit terakhir adalah erosi karakter, yang seringkali bermanifestasi sebagai "mental jalan pintas." Generasi yang terbiasa serba instan cenderung menghindari proses, tantangan, dan kerja keras. Mereka ingin hasil cepat tanpa mau berjuang.

Dunia kerja, di sisi lain, menuntut integritas, etos kerja tinggi, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi. Mental jalan pintas ini membuat lulusan mudah menyerah, kurang bertanggung jawab, dan sulit berkembang dalam lingkungan profesional yang kompetitif.

Bukan Sekadar Ijazah, Ini yang Sebenarnya Dicari Dunia Kerja

Di hadapan mahasiswa baru Cyber University, Dr. Anang memberikan wejangan penting. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya kuliah untuk mengejar ijazah semata, melainkan untuk membangun tiga pilar utama: kompetensi, karakter, dan kemampuan berpikir kritis.

Kompetensi bukan hanya soal hard skill, tapi juga soft skill seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Karakter mencakup integritas, etos kerja, dan resiliensi. Sementara berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis dan berinovasi.

"Kalian bukan sekadar mahasiswa, tapi calon masa depan bangsa. Jangan biarin pendidikan berhenti jadi kertas berlogo," ujarnya, setengah serius setengah menyindir. Pesan ini adalah pengingat bahwa nilai sejati pendidikan terletak pada transformasi diri, bukan sekadar selembar sertifikat.

Peran Kampus dan Mahasiswa di Era Disrupsi

Acara MAGNA ini, selain menjadi ajang perkenalan dengan kampus, juga berfungsi sebagai pengingat krusial. Kuliah itu bukan tentang pamer jurusan hits di bio Instagram, melainkan tentang mempersiapkan diri untuk bertahan hidup di dunia kerja yang makin absurd dan dinamis.

Sebagai "The First Fintech University in Indonesia," Cyber University secara implisit mencoba menjawab tantangan ini dengan fokus pada bidang yang relevan dan dibutuhkan. Namun, peran terbesar tetap ada pada mahasiswa itu sendiri.

Masa kuliah adalah kesempatan emas untuk mengembangkan diri secara holistik. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, berorganisasi, magang, dan membangun jaringan. Jadilah pembelajar seumur hidup yang adaptif dan siap menghadapi perubahan.

Ingat, ijazah mungkin membuka pintu, tapi kompetensi dan karakterlah yang akan membuatmu tetap berada di dalam dan terus melangkah maju. Jangan biarkan 5 penyakit pendidikan ini menghambat potensimu.

banner 325x300