Siapa bilang lulus kuliah cuma bisa cari kerja? Carolus Agung Segara Wisesa, alumni Cyber University tahun 2024, membuktikan sebaliknya. Dengan bekal ilmu dari kampus yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia, ia berhasil mendirikan Gypsy Research, sebuah startup konsultan riset berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kini jadi sorotan.
Kisah suksesnya ini bukan hanya sekadar cerita, tapi inspirasi nyata bagi para mahasiswa. Agung, sapaan akrabnya, berhasil menorehkan prestasi gemilang di dunia bisnis bahkan sebelum benar-benar "lulus" dari bangku kuliah. Startup-nya kini telah membantu ribuan peneliti, dosen, dan mahasiswa mengoptimalkan riset mereka.
Dari Kampus Fintech ke Dunia Startup AI: Kisah Inspiratif Carolus Agung
Cyber University memang bukan kampus biasa. Sebagai universitas fintech pertama di Indonesia, mereka berkomitmen mencetak talenta-talenta inovatif yang siap bersaing di era digital. Carolus Agung, lulusan Program Studi Sistem Informasi, adalah salah satu bukti nyata keberhasilan visi tersebut.
Ia tak hanya sekadar menyelesaikan studinya, tapi juga melihat peluang besar di tengah tantangan dunia akademik. Dari sanalah ide Gypsy Research lahir, sebuah platform yang menjanjikan revolusi dalam cara kita melakukan riset. Agung resmi meluncurkan startup ini dengan fokus utama pada pengembangan aplikasi AI untuk mendukung ekosistem akademik.
Gypsy Research: Bukan Sekadar Jasa, Tapi Revolusi Riset Berbasis AI
Lalu, apa sebenarnya yang ditawarkan Gypsy Research? Startup ini hadir dengan berbagai layanan inovatif yang dirancang untuk mempermudah proses riset. Mulai dari olah data yang akurat, konsultasi riset yang mendalam, hingga kelas online interaktif, semuanya tersedia di satu tempat.
Namun, bintang utamanya adalah asisten riset berbasis AI yang mereka kembangkan. Asisten ini dirancang khusus untuk membantu peneliti, dosen, dan mahasiswa dalam setiap tahapan riset mereka. Bayangkan memiliki asisten pribadi yang selalu siap sedia 24/7 untuk membantu menganalisis data atau mencari referensi!
Agung menjelaskan bahwa tujuan utama Gypsy Research adalah mengoptimalkan produktivitas riset. Selain itu, mereka juga ingin mendorong mahasiswa untuk memahami riset secara mendalam, bukan sekadar mencari jalan pintas. Ini adalah pendekatan holistik yang memadukan teknologi canggih dengan edukasi.
Saat ini, Gypsy Research telah memiliki lebih dari 30 aplikasi AI berbasis langganan. Angka pengguna aktifnya pun fantastis, mencapai 1.000 orang, dengan 500 di antaranya adalah pengguna berbayar. Ini menunjukkan betapa besar kebutuhan pasar akan solusi riset inovatif seperti yang mereka tawarkan.
Fokus utama layanan mereka adalah bidang riset akademik. Dengan segmen pasar yang jelas, Gypsy Research dapat menggali lebih dalam kebutuhan spesifik para akademisi dan memberikan nilai manfaat yang signifikan. Mereka tidak hanya menawarkan alat, tetapi juga solusi yang benar-benar relevan dan berdampak.
Kolaborasi Cerdas Lintas Jurusan: Kekuatan di Balik Gypsy Research
Yang menarik, startup ini tidak lahir dari Agung seorang diri. Gypsy Research mulai dirintis sejak ia masih duduk di bangku kuliah, berkolaborasi dengan alumni dari berbagai program studi di Cyber University. Ini menunjukkan kekuatan sinergi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Tim inti Gypsy Research terdiri dari Petra (Bisnis Digital), Putri (Sistem Informasi), Praja (Kewirausahaan), dan Bagas (Bisnis Digital). Masing-masing membawa keahlian unik yang saling melengkapi, mulai dari strategi bisnis, pengembangan teknologi, hingga pemahaman pasar. Mereka sepakat untuk menghadirkan solusi alternatif dalam mendukung kebutuhan riset mahasiswa.
Filosofi mereka jelas: bukan sekadar jasa instan, melainkan pendampingan dan pemanfaatan teknologi AI secara optimal. Mereka ingin memberdayakan pengguna, bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat. Ini adalah pendekatan yang jauh lebih berkelanjutan dan edukatif.
Bekal Kampus yang Nyata: Ilmu dan Pengalaman dari Cyber University
Sebagai Chief Product Officer (CPO) Gypsy Research, Agung mengaku banyak terbantu dengan bekal pembelajaran di Cyber University. Mata kuliah seperti manajemen pengembangan aplikasi, desain grafis, hingga interaksi manusia dan komputer, semuanya sangat relevan dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Ini membuktikan bahwa kurikulum Cyber University benar-benar adaptif dengan kebutuhan industri.
Tak hanya teori, pengalaman magang juga menjadi fondasi penting bagi Agung. Melalui magang, ia bisa bertukar pikiran dengan para profesional di bidangnya, memperkuat jaringan, dan mendapatkan wawasan praktis yang tak ternilai harganya. Lingkungan belajar yang suportif dan kesempatan untuk berinteraksi dengan praktisi industri menjadi nilai tambah yang besar.
Cyber University tidak hanya mengajarkan coding atau teori bisnis, tetapi juga menanamkan pola pikir inovatif dan kewirausahaan. Mereka mendorong mahasiswa untuk tidak takut mencoba, bereksperimen, dan mengubah ide menjadi kenyataan. Inilah yang membedakan lulusan Cyber University.
Pesan Emas untuk Mahasiswa: Jangan Jadi “Kupu-Kupu”!
Di sela-sela kesibukannya mengisi SINERGI (Seminar Kreasi Energi) di Cyber University, Agung tak lupa menyampaikan pesan penting kepada para mahasiswa. Ia berpesan agar mereka tidak ragu mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Ini adalah masa emas untuk eksplorasi dan pengembangan diri.
"Mulailah dari hal kecil, ikut lomba, organisasi, atau magang," ujarnya dengan semangat. Ia menekankan pentingnya tidak hanya menjadi mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah pulang-kuliah pulang) yang hanya fokus pada akademik semata. Pengalaman di luar kelas adalah aset berharga yang akan membentuk karakter dan keterampilan.
Semua pengalaman itu, kata Agung, akan menjadi bekal berharga saat lulus, baik untuk bekerja maupun memulai usaha sendiri. Dari organisasi, kamu belajar kepemimpinan dan kerja tim. Dari lomba, kamu belajar mengatasi tekanan dan berpikir kreatif. Dari magang, kamu mendapatkan pengalaman kerja nyata.
Kisah Carolus Agung Segara Wisesa dan Gypsy Research adalah bukti nyata bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, bahkan dari bangku kuliah. Dengan dukungan pendidikan yang relevan dari Cyber University dan semangat pantang menyerah, masa depan riset akademik di Indonesia kini terlihat semakin cerah dan canggih berkat sentuhan AI. Jadi, sudah siapkah kamu mengikuti jejak inspiratif ini?


















