Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden terpilih Prabowo Subianto ternyata bukan sekadar upaya mengisi perut anak-anak. Menurut Ketua Bidang Kesehatan DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dr. Fahrurrozy Basalamah, inisiatif ini adalah langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan gizi nasional. Lebih dari itu, MBG dinilai mampu menekan angka stunting dan gizi buruk yang masih menjadi momok di kalangan anak-anak Indonesia.
MBG: Gerakan Strategis untuk Masa Depan Bangsa
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi ini menegaskan bahwa MBG jauh melampaui program intervensi gizi biasa. Ia melihatnya sebagai sebuah gerakan strategis yang bertujuan membangun kesadaran hidup sehat di kalangan generasi muda sejak dini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
"Kami di KNPI melihat MBG bukan sekadar program intervensi gizi, tetapi momentum strategis untuk membangun budaya sehat dan produktif di kalangan generasi muda," ujar dr. Fahrurrozy pada Senin (6/10/2025). Ia menambahkan, program ini harus menjadi simbol keberpihakan negara pada masa depan anak bangsa.
Melawan Stunting dari Akar Masalahnya
Stunting dan gizi buruk bukan hanya masalah kesehatan, melainkan juga masalah sosial dan ekonomi yang kompleks. Kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan fisik dan kognitif anak, berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, pendekatan yang komprehensif sangat dibutuhkan.
MBG, jika digerakkan secara masif dan inklusif, diyakini mampu menekan stunting dari akar masalahnya. Dr. Fahrurrozy menyebutkan tiga akar masalah utama: ketidakseimbangan gizi, ketidaktahuan akan pentingnya gizi, dan ketidakadilan akses pangan. Dengan melibatkan tenaga kesehatan muda, kader gizi, serta organisasi kepemudaan, MBG bisa menjadi gerakan kolektif yang kuat.
Kualitas Menu: Bukan Hanya Kalori, Tapi Gizi Seimbang
Pentingnya kualitas menu dalam pelaksanaan MBG menjadi sorotan utama. Dr. Fahrurrozy menekankan bahwa program ini harus memastikan setiap sajian tidak hanya memenuhi kebutuhan kalori, tetapi juga memperhatikan kandungan gizi makro dan mikro yang seimbang. Ini berarti menu harus kaya akan protein, karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral esensial.
"Kualitas menu MBG sebaiknya tidak berhenti pada pemenuhan kalori semata, tetapi berorientasi pada gizi seimbang dan kearifan pangan lokal," jelasnya. Memberikan makanan yang sekadar mengenyangkan tanpa gizi seimbang justru bisa menimbulkan masalah kesehatan lain di kemudian hari.
Menggali Potensi Pangan Lokal untuk Gizi Optimal
Indonesia diberkahi dengan kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Di berbagai daerah, termasuk di wilayah timur seperti Sulawesi Utara, terdapat sumber protein tinggi dari ikan laut, jagung, dan daun kelor yang kaya zat gizi mikro. Pemanfaatan potensi ini menjadi kunci keberhasilan MBG.
Penguatan program MBG harus mendorong diversifikasi pangan lokal. Tujuannya agar anak-anak sekolah tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki keterikatan budaya terhadap sumber pangan daerahnya. Ini sekaligus mendukung ekonomi petani dan nelayan lokal, menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan.
Sinergi Lintas Sektor: Kunci Keberlanjutan Program
Keberlanjutan program MBG sangat bergantung pada sinergi lintas sektor. Pemerintah, organisasi kepemudaan, akademisi, dan tenaga kesehatan harus bekerja sama secara erat. Kolaborasi ini memastikan bahwa kebijakan yang dibuat terintegrasi, anggaran dialokasikan secara tepat, dan implementasi di lapangan berjalan efektif.
Integritas kebijakan dan kesinambungan anggaran adalah dua pilar penting. Tanpa dukungan finansial yang stabil dan kebijakan yang konsisten, program sebesar MBG akan sulit mencapai tujuan jangka panjangnya. Kolaborasi yang kuat di tingkat pusat dan daerah akan memastikan program ini menyentuh setiap anak yang membutuhkan.
Membangun Budaya Sehat dan Produktif Sejak Dini
Program MBG bukan hanya tentang memberikan makanan, tetapi juga tentang membangun budaya. Budaya hidup sehat, budaya menghargai pangan lokal, dan budaya gotong royong dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Ini adalah investasi yang akan membuahkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Dengan demikian, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat. Tujuannya jelas: menciptakan Indonesia yang bebas stunting, dengan generasi muda yang tumbuh optimal, siap menghadapi tantangan masa depan, dan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa.


















