Pernahkah kamu membayangkan sebuah dunia tanpa batas, tempat di mana waktu bisa diputar mundur atau maju, dan kamu bisa bertemu dengan para pemikir terhebat sepanjang sejarah? Dunia itu ada, dan pintunya terbuka lebar hanya dengan sebuah buku di tanganmu. Buku bukan sekadar kumpulan kertas bertuliskan kata-kata, melainkan sebuah portal ajaib yang mengantarkan kita pada petualangan epik tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.
Dari kisah cinta yang menguras air mata, misteri yang menguji nalar, hingga petualangan seru yang memacu adrenalin, semuanya tersaji lengkap dalam lembaran-lembaran itu. Membaca adalah sebuah perjalanan tak terbatas yang bisa kita lakukan kapan saja dan di mana saja, menjadi jembatan penghubung antara masa lalu, kini, dan masa depan.
Di Balik Hiruk Pikuk Istana, Prabowo Punya ‘Ritual’ Malam Hari
Di tengah gempuran era digital yang serba cepat dan instan, ada satu kebiasaan lama yang ternyata masih sangat dijunjung tinggi oleh para pemimpin, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto. Siapa sangka, di balik jadwal kenegaraan yang padat dan tuntutan pekerjaan yang tak ada habisnya, Prabowo memiliki ‘ritual’ khusus setiap malam yang jarang ia tinggalkan.
Dalam sambutannya di wisuda 521 sarjana Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Bandung, Sabtu (18/10/2025), Prabowo secara terbuka membagikan kebiasaan uniknya ini. Ia mengaku tetap meluangkan waktu berharga, antara dua hingga empat jam setiap malam, khusus untuk belajar dan membaca. Sebuah pengakuan yang mungkin mengejutkan banyak pihak, mengingat posisinya sebagai kepala negara.
"Saya sampai sekarang masih mungkin dua, tiga, empat jam tiap hari saya belajar. Boleh tanya ajudan saya, staf saya. Saya tidur jam berapa? Malam, dua jam paling sedikit saya baca," ujarnya di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen UKRI yang hadir. Pengakuan ini sontak disambut dengan perhatian dan rasa kagum dari para hadirin.
Bukan Sekadar Hobi, Ini Disiplin Belajar Seumur Hidup
Kebiasaan membaca yang dilakukan Prabowo bukanlah sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan sebuah disiplin yang ia sebut sebagai "belajar seumur hidup". Baginya, membaca adalah cara paling efektif untuk terus menambah dan memperbarui pengetahuan, bahkan ketika ia sudah memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di negara ini.
Melalui buku-buku, Prabowo mendalami berbagai aspek penting, mulai dari sejarah peradaban, strategi militer dan politik, hingga kebijakan publik yang kompleks. Pemahaman mendalam ini tentu saja sangat krusial dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis yang akan berdampak pada masa depan bangsa. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak pernah berhenti belajar.
Kemampuan untuk terus menyerap informasi dan menganalisisnya secara kritis adalah fondasi kepemimpinan yang kuat. Dengan membaca, Prabowo mampu melihat masalah dari berbagai perspektif, memahami akar permasalahan, dan merumuskan solusi yang lebih komprehensif. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kecerdasan dan kebijaksanaan seorang pemimpin.
Tantangan Era Digital: Kemudahan vs. Kedalaman Wawasan
Prabowo juga menyinggung tentang kemudahan luar biasa yang kini dimiliki generasi muda berkat kemajuan teknologi. "Sekarang ada alat yang luar biasa untuk anak-anak muda. Ada YouTube, ada internet, bahkan ada ChatGPT. Zaman saya dulu enggak ada yang seperti itu," ucapnya dengan nada bercanda yang disambut tawa audiens. Ia mengakui bahwa teknologi memang membuka banyak pintu informasi.
Namun, di balik pujian terhadap kecanggihan digital, Prabowo memberikan sebuah peringatan penting. Ia mengingatkan agar semua kemudahan ini tidak lantas membuat generasi muda menjadi malas membaca buku atau mendalami suatu ilmu secara utuh. Ada perbedaan mendasar antara informasi cepat dan wawasan yang mendalam.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis, analisis yang tajam, dan kedalaman wawasan tidak bisa dibangun hanya dengan menonton video singkat di YouTube atau membaca ringkasan cepat di media sosial. Informasi instan memang praktis, tetapi seringkali dangkal dan tidak mampu menggali konteks serta nuansa yang lebih kompleks.
Kenapa Kita Harus Meniru Kebiasaan Membaca Para Pemimpin?
Apa yang bisa kita pelajari dari kebiasaan membaca seorang Prabowo Subianto? Jawabannya jelas: membaca adalah kunci untuk membuka potensi diri yang tak terbatas. Di tengah arus informasi yang tak terkendali, kemampuan untuk menyaring, memahami, dan menginternalisasi pengetahuan dari sumber terpercaya menjadi sangat vital.
Membaca buku secara rutin melatih otak kita untuk fokus dalam jangka waktu yang lebih lama, meningkatkan daya konsentrasi, dan memperkaya kosakata. Lebih dari itu, membaca membantu kita mengembangkan empati dengan memahami berbagai sudut pandang dan pengalaman hidup orang lain yang tertuang dalam tulisan. Ini adalah modal berharga untuk menjadi individu yang lebih bijaksana dan berwawasan luas.
Jangan salah, teknologi memang sangat membantu. Namun, ia seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti, dari kegiatan membaca buku secara mendalam. Kombinasi antara kemudahan akses informasi digital dan kedalaman wawasan yang didapat dari buku adalah resep jitu untuk menjadi pribadi yang cerdas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Membangun Masa Depan dengan Kekuatan Kata
Kebiasaan membaca Prabowo Subianto adalah pengingat kuat bagi kita semua, terutama generasi muda, tentang pentingnya investasi pada diri sendiri melalui ilmu pengetahuan. Dalam dunia yang terus berubah, pengetahuan adalah satu-satunya aset yang tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak bisa dicuri.
Jadi, tunggu apa lagi? Ambil sebuah buku, buka lembarannya, dan biarkan dirimu terbawa ke dalam petualangan tak terbatas yang ditawarkannya. Jadikan membaca sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas harianmu, dan rasakan bagaimana setiap kata yang kamu baca akan membentukmu menjadi pribadi yang lebih cerdas, kritis, dan siap mengukir sejarah. Karena di setiap halaman buku, tersembunyi kekuatan untuk mengubah dunia, dimulai dari dirimu sendiri.


















