Indonesia kembali menorehkan tinta emas di kancah internasional, membuktikan bahwa kekayaan budaya dan intelektualnya tak kalah saing! Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) baru-baru ini sukses membuat bangga seluruh rakyat Indonesia dengan partisipasinya dalam ajang bergengsi The Best in Heritage 2025 di Barcelona, Spanyol. Kehadiran Perpusnas di acara yang berlangsung pada 22-24 Oktober 2025 ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk pengakuan global atas dedikasi dan prestasi luar biasa dalam pelestarian warisan budaya bangsa.
Dipimpin langsung oleh Kepala Perpusnas, Prof. E Aminudin Aziz, delegasi Indonesia hadir sebagai pembicara undangan yang sangat dinanti. Ini adalah momen krusial yang menunjukkan bahwa upaya Indonesia dalam menjaga kekayaan intelektual bangsa telah diakui dan dihargai oleh dunia, menempatkan Perpusnas sebagai salah satu institusi terkemuka di bidangnya. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol, bukan?
Indonesia Mendunia: Perpusnas Raih Pengakuan Bergengsi
Undangan eksklusif ke The Best in Heritage 2025 ini bukanlah tanpa alasan yang kuat. Perpusnas RI berhasil meraih UNESCO/Jikji Memory of the World Prize 2024, sebuah penghargaan tertinggi dari UNESCO di bidang pelestarian warisan dokumenter dunia. Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Perpusnas dalam menjaga dan melestarikan memori kolektif bangsa agar tidak lekang oleh waktu, sekaligus menegaskan peran penting perpustakaan dalam peradaban.
Bayangkan saja, penghargaan UNESCO/Jikji Memory of the World Prize adalah salah satu bentuk apresiasi paling bergengsi yang bisa didapatkan oleh sebuah institusi di bidang warisan budaya. Ini bukan hanya sekadar piala atau sertifikat, melainkan pengakuan bahwa kerja keras Perpusnas memiliki dampak signifikan secara global. Dengan demikian, undangan ke Barcelona menjadi panggung sempurna bagi Perpusnas untuk berbagi praktik terbaiknya dengan para ahli dari seluruh penjuru dunia, menunjukkan bahwa Indonesia adalah pemain kunci dalam pelestarian warisan global.
Bukan Kaleng-Kaleng! Di Balik Undangan ke Barcelona
Ajang The Best in Heritage sendiri merupakan forum internasional yang sangat selektif, menghadirkan proyek-proyek warisan budaya terbaik dari seluruh dunia. Di sinilah para profesional dan praktisi berkumpul untuk berbagi inovasi, tantangan, dan solusi dalam menjaga peninggalan sejarah. Kehadiran Perpusnas sebagai pembicara undangan di acara sepenting ini secara otomatis menempatkan Indonesia dalam sorotan dunia.
Delegasi Perpusnas yang turut serta dalam ajang ini meliputi Chaerul Umam sebagai Kepala Urusan Umum, serta Aditia Gunawan yang merupakan Pustakawan dan Filolog ahli. Komposisi tim ini menunjukkan keseriusan Perpusnas dalam menyajikan representasi terbaik dari Indonesia. Mereka membawa serta pengalaman dan pengetahuan mendalam tentang bagaimana sebuah negara berkembang dapat menjadi garda terdepan dalam pelestarian warisan dokumenter.
Membawa “Sungai” Warisan Bangsa ke Samudra Dunia
Dalam sesi presentasinya yang bertajuk "River Flows from Upstream to Downstream: Mainstreaming Collective Memory for the Future," Prof. E Aminudin Aziz memukau audiens dengan visinya yang mendalam. Ia memaparkan secara gamblang berbagai strategi dan upaya Perpusnas dalam memastikan warisan intelektual bangsa tetap relevan dan hidup bagi generasi mendatang. Presentasi ini bukan hanya sekadar laporan pencapaian, melainkan sebuah narasi inspiratif tentang bagaimana sebuah bangsa menjaga akar budayanya di tengah arus modernisasi.
Prof. Aziz menjelaskan bahwa tugas utama Perpusnas adalah memastikan "sungai" pengetahuan dan memori kolektif terus mengalir tanpa hambatan hingga mencapai "samudra-samudra besar" yang membentuk identitas dan sejarah bangsa Indonesia. Metafora ini sangat kuat, menggambarkan pentingnya kesinambungan budaya dari masa lalu hingga masa depan, serta tantangan dalam menjaga aliran tersebut tetap jernih dan bermanfaat bagi setiap generasi. Ini adalah misi mulia yang diemban oleh Perpusnas, menjaga agar setiap tetes memori kolektif tidak hilang ditelan zaman.
Strategi Cerdas Perpusnas: Naskah Kuno Jadi Kekinian
Salah satu program unggulan yang disoroti Prof. Aziz adalah "Mainstreaming Naskah Nusantara." Program ini bukan hanya tentang pelestarian fisik naskah-naskah klasik yang rentan, tetapi juga tentang bagaimana membuatnya tetap relevan dan menarik di era modern yang serba digital. Contoh nyata adalah pelestarian Babad Diponegoro, naskah bersejarah yang telah diakui dalam UNESCO Memory of the World Register sejak 2013, sebuah pengakuan yang sangat berarti.
Namun, Perpusnas tidak berhenti di situ saja. Mereka melakukan inovasi luar biasa melalui digitalisasi, publikasi, dan berbagai kegiatan kreatif yang menjangkau berbagai kalangan. Mulai dari pementasan teater yang menghidupkan kembali kisah-kisah kuno, pameran interaktif yang memukau, hingga podcast dan komik anak yang mengangkat cerita dari naskah-naskah kuno dengan gaya yang segar dan mudah dicerna. Ini adalah cara cerdas untuk memastikan naskah-naskah tersebut tidak hanya tersimpan di rak perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian integral dari dialog budaya dan pendidikan publik yang dinamis.
Program ini berhasil menempatkan naskah-naskah kuno Indonesia sebagai pusat perhatian dalam diskusi budaya dan pendidikan. Dengan sentuhan modern dan pendekatan yang inovatif, warisan leluhur kita kini bisa dinikmati dan dipahami oleh siapa saja, termasuk generasi muda yang akrab dengan teknologi dan media digital. Siapa sangka, naskah berusia ratusan tahun bisa jadi konten yang viral dan edukatif, menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara harmonis?
Perpusnas, Satu-satunya dari Asia Tenggara yang Bikin Bangga
Konferensi The Best in Heritage 2025 ini menjadi sangat spesial karena untuk pertama kalinya digelar secara luring setelah lima tahun berturut-turut dilaksanakan secara daring. Acara ini berhasil mengumpulkan lebih dari 120 profesional dan praktisi warisan budaya dari seluruh penjuru dunia, menciptakan forum diskusi yang kaya akan ide dan pengalaman berharga. Kolaborasi dengan Fundació "la Caixa", Museu Nacional d’Art de Catalunya, dan El Born Centre de Cultura i Memòria, serta di bawah naungan Europa Nostra dan International Council of Museums (ICOM), semakin menegaskan prestise dan jangkauan internasional acara ini.
Yang lebih membanggakan lagi, Perpusnas RI adalah satu-satunya perwakilan dari kawasan Asia Tenggara yang terpilih untuk hadir dan berbagi pengalaman. Bukan hanya itu, Perpusnas juga menjadi satu-satunya institusi perpustakaan yang diundang dalam ajang ini, bersanding dengan 40 proyek warisan budaya terbaik dunia lainnya yang telah memperoleh penghargaan nasional atau internasional. Ini menunjukkan bahwa standar kerja Perpusnas diakui secara global, menempatkan Indonesia di peta dunia sebagai pelopor dalam pelestarian warisan dokumenter.
Pentingnya Pelestarian Memori Kolektif untuk Masa Depan
Kehadiran Perpusnas di ajang internasional ini bukan hanya sekadar seremoni penghargaan atau presentasi biasa, tetapi juga sebuah kesempatan emas untuk memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya. Melalui presentasi yang inspiratif dan interaksi dengan para ahli dari berbagai negara, Perpusnas telah menunjukkan bagaimana sebuah perpustakaan modern bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga identitas bangsa dan mempromosikan kekayaan budaya ke seluruh dunia. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan, memastikan generasi penerus tetap terhubung dengan akar sejarah dan jati diri mereka.
Pengakuan internasional ini juga menjadi motivasi bagi seluruh pihak di Indonesia untuk terus berinovasi dalam pelestarian warisan budaya. Dari naskah kuno yang berharga hingga memori digital yang terus berkembang, setiap elemen warisan adalah cerminan dari perjalanan panjang bangsa. Perpusnas RI telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, visi yang jelas, dan pendekatan yang adaptif, warisan budaya kita bisa bersinar terang di panggung dunia, menjadi inspirasi bagi banyak negara. Sebuah kisah sukses yang patut diceritakan berulang kali dan menjadi kebanggaan nasional!


















