banner 728x250

Bangga! Dosen UMJ Dr. Debbie Affianty Resmi Pimpin Jaringan Perempuan Perdamaian Nasional

Dr. Debbie Affianty UMJ terpilih Presidium Nasional Jaringan Women, Peace, and Security Indonesia.
Dr. Debbie Affianty dari FISIP UMJ terpilih sebagai Presidium Nasional Jaringan WPS Indonesia, membawa kebanggaan bagi UMJ.
banner 120x600
banner 468x60

Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dr. Debbie Affianty, M.Si, seorang dosen berdedikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMJ, baru saja menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional. Ia resmi terpilih sebagai salah satu dari lima Presidium Nasional Jaringan Women, Peace, and Security (WPS) Indonesia untuk periode 2025-2030.

Penunjukan ini bukan sekadar pengakuan atas kapabilitas individu Dr. Debbie, melainkan juga sebuah representasi penting bagi UMJ dan seluruh gerakan perempuan di Indonesia. Terpilihnya beliau menandai langkah maju dalam upaya memperkuat peran perempuan dalam isu perdamaian dan keamanan di tingkat nasional.

banner 325x300

Siapa Dr. Debbie Affianty?

Dr. Debbie Affianty dikenal sebagai sosok akademisi yang aktif dan berdedikasi di FISIP UMJ. Dengan latar belakang keilmuan yang kuat, ia kerap terlibat dalam berbagai riset dan diskusi seputar isu sosial, politik, dan pemberdayaan masyarakat. Keahliannya di bidang ini sangat relevan dengan visi dan misi Jaringan WPS.

Kini, ia akan membawa pengalaman dan perspektif akademisnya ke tingkat yang lebih tinggi, mengemban amanah sebagai bagian dari kepemimpinan nasional Jaringan WPS Indonesia. Ini adalah bukti nyata komitmennya untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga berkontribusi langsung pada perubahan sosial yang positif dan berkelanjutan.

Peran Penting Jaringan WPS Indonesia

Jaringan Women, Peace, and Security (WPS) Indonesia adalah sebuah platform krusial yang mengadvokasi peran sentral perempuan dalam proses perdamaian dan keamanan. Mereka percaya bahwa tanpa partisipasi aktif perempuan, solusi konflik tidak akan komprehensif dan berkelanjutan. Gerakan ini berlandaskan pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325.

Gerakan ini berupaya memastikan suara perempuan didengar, hak-hak mereka dilindungi, dan kontribusi mereka diakui dalam setiap tahapan, mulai dari pencegahan konflik, mediasi, hingga pembangunan pasca-konflik. Kehadiran jaringan ini sangat vital untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan damai, di mana perempuan memiliki posisi setara dalam pengambilan keputusan.

Mekanisme Pemilihan yang Demokratis

Proses pemilihan Presidium Nasional ini berlangsung secara transparan dan partisipatif, mencerminkan semangat demokrasi akar rumput. Mekanisme musyawarah dan mufakat menjadi landasan utama, melibatkan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dari seluruh penjuru Indonesia. Hal ini memastikan representasi yang luas dari berbagai komunitas.

Pemilihan dibagi dalam dua tahap krusial. Tahap pertama, OMS dari tiga wilayah regional—Barat, Tengah, dan Timur—secara kolektif memilih lima Presidium Regional. Kemudian, dari kelima nama tersebut, disepakati lima individu terbaik yang akhirnya ditetapkan sebagai Presidium Nasional Jaringan WPS Indonesia. Dr. Debbie terpilih melalui proses seleksi ketat ini pada Selasa (16/9/2025).

Amanah Besar di Pundak Dr. Debbie

Bagi Dr. Debbie, terpilihnya ia sebagai Presidium Nasional adalah sebuah kehormatan yang luar biasa, sekaligus tanggung jawab yang sangat besar. Ia menyadari bahwa amanah ini bukan hanya tentang keterlibatan personalnya semata, melainkan juga sebuah misi yang lebih luas.

Lebih dari itu, posisi ini adalah representasi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta dan komitmen institusi untuk terus berdampak positif kepada masyarakat luas. "Posisi ini tentang kontribusi nyata dalam memperkuat kepemimpinan perempuan di isu perdamaian dan keamanan, dari tingkat akar rumput hingga nasional," tegasnya dalam keterangan yang dikutip Kamis (18/9/2025).

Misi Strategis untuk Lima Tahun ke Depan

Dalam lima tahun ke depan, Dr. Debbie akan mengemban sejumlah tugas strategis yang sangat vital bagi keberlangsungan dan perkembangan Jaringan WPS Indonesia. Salah satunya adalah menginternalisasi nilai dasar serta pergerakan jaringan kepada seluruh anggotanya, memastikan visi dan misi tetap terarah dan dipahami bersama.

Selain itu, ia juga akan berfokus pada pembangunan kolaborasi multipihak, menjalin sinergi erat dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat sipil lainnya. Tak kalah penting, ia bertanggung jawab dalam pengelolaan data, administrasi, dan knowledge management organisasi, demi memastikan operasional yang efektif dan efisien.

UMJ Berkontribusi di Kancah Nasional dan Internasional

Keterlibatan Dr. Debbie dalam jajaran Presidium Nasional WPS ini membawa arti penting yang sangat besar bagi Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ini berpotensi membuka lebar ruang kolaborasi, baik dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat, yang merupakan pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sesuai dengan semangat Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah—pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan—UMJ dapat semakin memperkuat jejaring eksternal. "Saya berharap melalui amanah ini, UMJ dapat semakin berperan aktif dalam kolaborasi nasional maupun internasional untuk memajukan agenda Women, Peace and Security di Indonesia," tambahnya penuh harap.

Fokus Isu Krusial: Dari Iklim hingga Keamanan Siber

Selama masa jabatannya, Dr. Debbie akan terlibat aktif dalam penanganan isu-isu krusial yang saling terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ini mencakup spektrum yang sangat luas dan kompleks, menunjukkan betapa multidimensionalnya isu perdamaian dan keamanan di era modern.

Mulai dari perubahan iklim yang dampaknya seringkali paling dirasakan perempuan, pencegahan ekstremisme kekerasan, penanganan konflik yang berkeadilan gender, hingga isu keamanan siber yang kian relevan di era digital. Tak lupa, migrasi dan tindak pidana perdagangan manusia (TPPM) juga menjadi fokus utama, mengingat perempuan dan anak-anak sering menjadi korban rentan dalam situasi tersebut.

Kolaborasi Multisektoral: Kekuatan Presidium Nasional

Dr. Debbie tidak sendiri dalam mengemban amanah ini. Ia bergabung dengan empat sosok perempuan inspiratif lainnya yang juga terpilih sebagai Presidium Nasional. Mereka adalah Ruby Kholifah dari Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, yang dikenal dengan advokasinya yang kuat di tingkat akar rumput.

Ada pula Suraiya Kamaruzzaman dari Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Syah Kuala Aceh, membawa perspektif penting tentang nexus antara iklim dan keamanan. Dewi Rana Amir dari LIBU Perempuan Sulawesi Tengah, merepresentasikan suara perempuan dari akar rumput, serta Sischa Solokana dari Komunitas Peace Maker Kupang (KOMPAK NTT), yang aktif dalam membangun perdamaian di wilayah Timur Indonesia.

Kehadiran Dr. Debbie dengan latar belakang akademisnya akan menjadi pelengkap yang sempurna. Ia akan menghadirkan perspektif ilmiah dan analitis yang berpadu harmonis dengan kinerja advokasi masyarakat sipil yang sudah berjalan, menciptakan sinergi yang kuat untuk mencapai tujuan Jaringan WPS. Kolaborasi beragam ini menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan yang kompleks.

Masa Depan Gerakan WPS di Indonesia

Pembentukan Jaringan OMS WPS Indonesia sendiri merupakan hasil dari serangkaian konsultasi dan lokakarya regional yang digagas oleh Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bekerja sama dengan UN Women. Ini menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak untuk memajukan agenda WPS di Indonesia.

Dengan kepemimpinan baru yang solid dan beragam ini, Jaringan Women, Peace, and Security Indonesia diharapkan dapat semakin efektif dalam mengadvokasi, melindungi, dan memberdayakan perempuan di seluruh pelosok negeri. Kehadiran Dr. Debbie Affianty adalah sebuah harapan baru bagi terciptanya perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia, di mana suara perempuan memiliki bobot yang signifikan.

banner 325x300