Wacana pemerintah untuk menerapkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin campuran etanol 10 persen atau yang dikenal sebagai E10 pada tahun depan, sontak memicu berbagai kekhawatiran di masyarakat. Salah satu isu yang paling sering diangkat adalah potensi tangki bahan bakar kendaraan bermotor menjadi korosi atau berkarat akibat penggunaan BBM jenis baru ini. Kekhawatiran ini tentu beralasan, mengingat karat bisa merusak komponen vital dan menguras kantong untuk perbaikan.
Namun, jangan panik dulu! Seorang pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) punya penjelasan menarik yang bisa mengubah persepsimu tentang isu ini. Ternyata, efek negatif yang dikhawatirkan banyak orang tersebut belum tentu terjadi lho, dan ada fakta-fakta penting yang perlu kamu ketahui.
Benarkah Etanol Bikin Tangki Cepat Karat? Ini Kata Ahli!
Ronny Purwadi, seorang Dosen Program Studi Teknik Pangan FTI Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa bioetanol memang memiliki karakteristik unik. Ia dikenal larut dalam air dan bersifat higroskopis, yang berarti mudah menyerap molekul air dari udara di sekitarnya. Sifat inilah yang seringkali menjadi biang kerok kekhawatiran masyarakat.
Namun, Ronny menegaskan bahwa sifat higroskopis ini tidak serta merta menjadi penyebab utama karat di tangki. "Kita harus paham bahwa higroskopis itu bukan korosi," tegas Ronny dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta pada Senin (20/10) lalu. Pernyataan ini cukup menenangkan, mengingat banyak yang langsung mengaitkan penyerapan air dengan proses perkaratan.
Menurut Ronny, air memang bisa mengakibatkan korosi, namun proses ini tidak terjadi begitu saja. Ada syarat-syarat tertentu yang harus terpenuhi agar reaksi kimia yang menyebabkan karat itu bisa berlangsung. Jadi, hanya karena etanol menyerap air, bukan berarti tangki kendaraanmu otomatis akan berkarat dalam waktu singkat.
Logika Sederhana: Kenapa Benda Besi Tak Selalu Berkarat Kena Air?
Untuk memperjelas penjelasannya, Ronny memberikan beberapa contoh sederhana yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Coba bayangkan botol minum (tumbler) kamu yang terbuat dari material besi atau stainless steel. Kamu mengisinya dengan air setiap hari, bahkan mungkin menyimpannya dalam kondisi basah. Apakah tumbler tersebut langsung berkarat? Tentu tidak.
Begitu pula dengan pipa ledeng di rumah yang terbuat dari besi dan terus-menerus dialiri air. Pipa-pipa tersebut bisa bertahan bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda korosi yang signifikan. Ini karena material tersebut biasanya sudah dilapisi dengan bahan anti karat atau melalui proses galvanisasi yang melindunginya dari paparan air secara langsung.
Contoh lain yang lebih ekstrem adalah perangkat pemanas air atau water heater. Alat ini memiliki berbagai komponen besi di dalamnya dan setiap hari bersentuhan langsung dengan air, bahkan air panas. Namun, water heater bisa awet dan berfungsi selama bertahun-tahun tanpa mudah berkarat. Ini menunjukkan bahwa ada teknologi dan perlindungan khusus yang diterapkan untuk mencegah korosi.
Kunci Utama: Lapisan Anti Karat Adalah Penyelamat
Dari berbagai contoh kasus tersebut, Ronny menegaskan bahwa karat tidak terjadi hanya karena adanya cairan atau kelembaban. Korosi muncul bila sejumlah syarat terpenuhi, dan yang paling krusial adalah kondisi material besi itu sendiri, terutama ada tidaknya lapisan pelindung. Analoginya, besi tanpa pelindung anti karat bisa mengalami korosi walau tidak pernah terkena air secara langsung, hanya karena terpapar udara dan kelembaban lingkungan.
"Jadi akan sangat tergantung kondisinya," jelas Ronny. Jika sebuah material besi dibiarkan begitu saja tanpa perlindungan, ia akan berkarat seiring waktu. Namun, jika material tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan memiliki lapisan anti karat, maka risiko korosi akan sangat minim, bahkan saat bersentuhan dengan cairan yang bersifat higroskopis seperti etanol.
Lapisan anti karat pada tangki bahan bakar modern bukan sekadar cat biasa. Biasanya, tangki kendaraan dilapisi dengan bahan-bahan khusus seperti epoxy, zinc-based primer, atau pelapis internal lainnya yang dirancang untuk menciptakan penghalang fisik antara logam dan elemen korosif. Beberapa tangki bahkan menggunakan teknologi pelindung katodik atau anoda korban untuk mencegah korosi. Inilah mengapa produsen kendaraan sudah memperhitungkan berbagai skenario penggunaan bahan bakar.
Jadi, Perlu Khawatir Gak Sih?
Ronny kembali menekankan bahwa anggapan "higroskopis pasti korosi" adalah sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan. Etanol memang menyerap air, tapi jumlah air yang diserap tidak selalu banyak dan tidak serta merta memicu reaksi karat yang merusak. Terlebih lagi, seperti yang sudah dijelaskan, kontak langsung dengan air pun tidak selalu menyebabkan karat jika materialnya sudah terlindungi.
Semua kembali pada bagaimana material tangki dan sistem bahan bakar kendaraan dipersiapkan oleh produsen. "Kalau sudah dipersiapkan dengan baik, kita gak perlu takut," pungkas Ronny. Artinya, kekhawatiran berlebihan terhadap BBM E10 yang akan diterapkan pemerintah mungkin tidak perlu terjadi, asalkan standar produksi kendaraan dan kualitas bahan bakar tetap terjaga.
Pemerintah sendiri berencana menerapkan E10 sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi dan pengurangan emisi karbon. Banyak negara lain sudah lama menggunakan campuran etanol dalam BBM tanpa masalah berarti. Ini menunjukkan bahwa dengan teknologi dan regulasi yang tepat, kekhawatiran tentang korosi tangki bisa diatasi.
Intinya, teknologi dan persiapan material tangki kendaraan modern sudah jauh lebih canggih dan adaptif. Selama kendaraan dan infrastruktur pendukung BBM etanol dirancang serta dipelihara dengan baik sesuai standar, risiko tangki berkarat akibat campuran etanol bisa diminimalisir secara signifikan. Masyarakat diharapkan tidak perlu terlalu cemas dan tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta para ahli yang kompeten di bidangnya.


















