banner 728x250

Rem ABS Wajib di Semua Motor Indonesia? Kemenhub Beri Sinyal Hijau Demi Nyawa Pengendara!

rem abs wajib di semua motor indonesia kemenhub beri sinyal hijau demi nyawa pengendara portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Wacana mewajibkan teknologi Anti-lock Braking System (ABS) pada semua jenis sepeda motor di Indonesia kini semakin menguat. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara terang-terangan menyatakan dukungannya, menandai potensi perubahan besar dalam standar keselamatan berkendara di Tanah Air. Selama ini, fitur pengereman canggih ini memang lebih sering kita temui pada mobil atau sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 150 cc. Namun, seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan akan keselamatan, Kemenhub melihat peluang untuk memperluas penerapannya.

Sinyal Hijau dari Kemenhub: Rem ABS untuk Semua Motor

Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Yusuf Nugroho, menegaskan bahwa kemajuan teknologi keselamatan kendaraan kini sangat pesat. Hal ini membuka pintu lebar bagi implementasi fitur-fitur mutakhir di Indonesia, termasuk rem ABS. Menurut Yusuf, teknologi ABS bukan sekadar fitur tambahan, melainkan sebuah inovasi krusial yang mampu meningkatkan keselamatan berkendara secara signifikan. Ini juga berpotensi besar untuk menekan angka risiko kecelakaan di jalan raya yang masih tinggi.

banner 325x300

Ia menambahkan, tidak hanya rem ABS, sistem stability control juga menjadi salah satu teknologi yang bisa diimplementasikan. Keduanya dirancang untuk membantu pengendara bermanuver lebih aman dalam berbagai kondisi jalan, baik saat pengereman mendadak maupun saat menghadapi tikungan. Yusuf juga menegaskan bahwa integrasi teknologi keselamatan otomatis ini secara langsung akan meningkatkan stabilitas, kontrol pengereman, dan perlindungan bagi pengguna jalan bermotor.

Mengenal Lebih Dekat Rem ABS: Penyelamat di Jalan Raya

Bagi yang belum familiar, Anti-lock Braking System (ABS) adalah teknologi pengereman pintar yang didesain untuk mencegah roda terkunci saat pengendara melakukan pengereman mendadak. Ini adalah fitur vital yang bisa menyelamatkan nyawa. Dengan ABS, pengendara dapat mempertahankan kendali penuh atas kendaraannya, menghindari selip, dan meningkatkan stabilitas motor. Hasilnya, jarak pengereman bisa dipersingkat, bahkan dalam kondisi jalan yang licin sekalipun.

Bayangkan saat kamu harus mengerem mendadak karena ada kendaraan lain di depan atau tiba-tiba ada lubang. Tanpa ABS, roda bisa terkunci, motor oleng, dan kecelakaan tak terhindarkan. Dengan ABS, kamu punya peluang lebih besar untuk tetap aman, karena sistem akan mengatur tekanan rem secara otomatis agar roda tidak selip, memberikan kontrol lebih baik.

Data Bicara: Urgensi Peningkatan Keselamatan Motor

Lonjakan penjualan sepeda motor di Indonesia memang fantastis. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan, pada November 2025 saja, penjualan motor mencapai 523.591 unit, naik 2,1 persen. Namun, peningkatan jumlah kendaraan ini sayangnya belum diimbangi dengan standar dan sistem keselamatan yang memadai. Akibatnya, strategi edukasi pengendara saja seringkali tidak cukup untuk menahan laju angka fatalitas kecelakaan.

Data dari Korlantas Polri tahun 2024 mengungkapkan fakta yang mencengangkan: sekitar 44 persen kecelakaan sepeda motor dipicu oleh kegagalan fungsi pengereman. Angka ini jelas menunjukkan betapa krusialnya peran sistem pengereman yang efektif dan canggih untuk mengurangi insiden di jalan raya. Mayoritas pengendara di Indonesia menggunakan motor di bawah 150 cc, yang umumnya belum dilengkapi ABS, padahal merekalah yang paling rentan.

Studi UI dan Target Penurunan Fatalitas Kecelakaan

Sebuah kajian mendalam yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) semakin memperkuat argumen ini. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan rem ABS berpotensi menurunkan angka kecelakaan sepeda motor hingga 24 persen. Ini adalah angka yang signifikan dan tidak bisa diabaikan.

Mengingat target pemerintah untuk menurunkan fatalitas kecelakaan hingga 50 persen pada tahun 2030, rem ABS bukan lagi sekadar pilihan, melainkan salah satu solusi teknologi paling penting. Ini adalah investasi nyata untuk keselamatan jalan, yang akan berdampak langsung pada penurunan angka kematian dan cedera serius akibat kecelakaan.

Perspektif Global dan Kritik dari Praktisi Lokal

Isu keselamatan jalan di Indonesia bahkan menarik perhatian dunia. Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Keselamatan di Jalan Raya, Jean Todt, menyoroti bahwa 80 persen kecelakaan fatal di Indonesia melibatkan kendaraan roda dua. Lebih mirisnya lagi, dua pertiga dari korban meninggal dunia tersebut tidak memiliki lisensi berkendara. Jean Todt menekankan, "Kombinasi edukasi pengendara dan standar keselamatan berbasis teknologi menjadi kunci untuk menurunkan risiko fatal di jalan raya."

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pendekatan komprehensif, yang tidak hanya fokus pada perilaku pengendara tetapi juga pada teknologi kendaraan, adalah jalan terbaik untuk menciptakan jalanan yang lebih aman. Di sisi lain, Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, menyoroti bahwa isu keselamatan jalan belum sepenuhnya terintegrasi sebagai agenda lintas sektor dalam kebijakan pemerintah. Menurut Rio, upaya yang ada seringkali berjalan parsial, hanya fokus pada peningkatan perilaku pengguna jalan atau penguatan standar kendaraan, tanpa kerangka yang seimbang dan saling menguatkan. Ini seperti berjalan dengan satu kaki.

Ia mencontohkan India, di mana banyak organisasi nonpemerintah secara konsisten fokus pada isu keselamatan jalan. "Aspirasi yang mereka suarakan benar-benar didengar, ditampung, dan ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah," kata Rio. Rio menekankan bahwa kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, industri, hingga masyarakat sipil, adalah kekuatan penting untuk membenahi tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Tujuannya adalah melahirkan kebijakan yang konkret dan berdampak nyata.

Belajar dari India: Wajib ABS Tanpa Pandang Kapasitas Mesin

Pemerhati dari lembaga nonpemerintah Road Safety India, Rajni Gandhi, juga ikut angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa perencanaan penerapan ABS pada seluruh sepeda motor sangat penting. Rajni menambahkan, "Agar sistem itu dapat membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik serta meningkatkan stabilitas dan jarak pengereman dalam berbagai kondisi." Ini adalah pelajaran berharga dari negara tetangga.

Di Indonesia, penerapan teknologi pengereman ABS masih sangat terbatas pada sepeda motor berkapasitas mesin besar. Padahal, mayoritas pengendara di Indonesia menggunakan motor dengan kapasitas di bawah 150 cc, yang notabene lebih rentan terhadap kecelakaan akibat pengereman yang kurang optimal. Berbeda dengan Indonesia, Rajni mengungkapkan bahwa pemerintah India akan mewajibkan rem ABS pada seluruh sepeda motor dan skuter baru mulai Januari 2026. Aturan ini berlaku tanpa memandang kapasitas mesin, sebuah langkah progresif yang patut dicontoh.

Masa Depan Keselamatan Berkendara di Indonesia

Dengan dukungan Kemenhub dan data yang solid dari berbagai penelitian serta pengalaman negara lain, wacana mewajibkan rem ABS di semua motor bukan lagi sekadar mimpi. Ini adalah kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan nyawa. Langkah ini tentu akan menjadi terobosan besar yang akan mengubah lanskap keselamatan berkendara di Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana mengimplementasikannya secara efektif, adil, dan tanpa membebani masyarakat terlalu berat, terutama bagi segmen motor berkapasitas kecil.

Namun, satu hal yang pasti, setiap nyawa yang terselamatkan berkat teknologi ini adalah investasi tak ternilai bagi bangsa. Integrasi teknologi keselamatan canggih seperti ABS akan membawa Indonesia menuju jalanan yang lebih aman dan mengurangi beban sosial serta ekonomi akibat kecelakaan. Mari kita nantikan kebijakan konkret yang akan membawa Indonesia menuju jalanan yang lebih aman dan berbudaya keselamatan.

banner 325x300