banner 728x250

Maxus EV Nyaris Tenggelam di Indonesia: Penjualan Anjlok, Siap Bangkit dengan Jurus Baru!

maxus ev nyaris tenggelam di indonesia penjualan anjlok siap bangkit dengan jurus baru portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Pasar mobil listrik di Indonesia semakin memanas, namun tidak semua pemain bisa menikmati manisnya persaingan. Salah satunya adalah Maxus Indonesia, merek yang tengah berjuang keras untuk memperkuat pondasi bisnis mobil listriknya di Tanah Air. Mereka berambisi meraih hasil yang jauh lebih baik di tahun ini, setelah kinerja yang kurang memuaskan di tahun sebelumnya.

Pada tahun 2023, performa penjualan Maxus diakui jauh dari harapan. Pangsa pasar mereka bahkan masih berada di bawah 0,1 persen, sebuah angka yang cukup memprihatinkan di tengah booming kendaraan listrik. Ini menunjukkan bahwa Maxus memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar untuk bisa bersaing.

banner 325x300

Kinerja Maxus yang Mengecewakan di Tahun Lalu

Sepanjang tahun 2023, data retail Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat Maxus hanya berhasil melego 192 unit mobil listrik. Angka ini tentu saja sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan merek-merek baru asal China lainnya yang baru saja masuk ke pasar Indonesia.

Ambil contoh Xpeng, merek yang baru memulai aktivitas retailnya pada Juli 2023. Dalam waktu kurang dari setengah tahun, Xpeng sudah mampu menjual 824 unit, dengan pangsa pasar mencapai 0,1 persen. Ini menunjukkan betapa cepatnya merek baru bisa menarik perhatian konsumen.

Tak hanya Xpeng, Denza yang mulai berjualan pada Februari 2023 bahkan mencatatkan penjualan yang jauh lebih fantastis. Mereka berhasil menjual 7.324 mobil listrik sepanjang tahun 2023, menguasai 0,9 persen pangsa pasar. Perbandingan ini jelas menunjukkan bahwa Maxus masih tertinggal jauh di belakang.

Mengapa Maxus Tertinggal? Ini Analisisnya

National Sales & DND Head Maxus Indonesia, Elisa Tobing, secara terbuka mengakui bahwa penjualan di tahun 2023 memang jauh dari kata memuaskan. Menurutnya, salah satu faktor utama penyebab kondisi ini adalah terbatasnya pengenalan merek Maxus di pasar Indonesia. Banyak konsumen yang belum familiar dengan Maxus.

Terlebih lagi, Maxus bermain di segmen kendaraan listrik premium yang persaingannya semakin ketat. Konsumen di segmen ini cenderung lebih selektif dan mencari merek yang sudah memiliki reputasi kuat atau inovasi yang menonjol. Maxus, dengan dua model MPV listriknya, Mifa 7 (Rp750 juta) dan Mifa 9 (Rp888 juta), harus berhadapan dengan nama-nama besar lainnya.

Keterbatasan pengenalan merek ini menjadi penghalang utama bagi Maxus untuk menarik minat pembeli potensial. Di tengah gempuran promosi dan inovasi dari kompetitor, Maxus harus bekerja ekstra keras untuk membangun citra dan kepercayaan di mata konsumen Indonesia.

Jurus Baru Maxus untuk Bangkit di Pasar Mobil Listrik Indonesia

Meski menghadapi tantangan berat, Elisa Tobing menegaskan bahwa Maxus tidak akan tinggal diam. Perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan memperbaiki kinerja di tahun ini. Ini adalah upaya serius untuk "menyelam" dan bangkit dari keterpurukan.

"Intinya kami coba angkat yang namanya brand image," kata Elisa saat ditemui di PIK, Rabu (4/2). Pernyataan ini menunjukkan fokus utama Maxus saat ini adalah membangun citra merek yang kuat dan dikenal luas oleh masyarakat. Tanpa brand image yang solid, sulit bagi mereka untuk bersaing.

Fokus pada Penguatan Brand Image dan Layanan Purnajual

Salah satu pilar strategi Maxus adalah penguatan brand image. Mereka menyadari bahwa konsumen perlu mengenal siapa Maxus, apa keunggulan produknya, dan nilai apa yang ditawarkan. Ini akan dilakukan melalui berbagai aktivitas pemasaran yang lebih agresif dan terarah.

Selain itu, Maxus juga akan meningkatkan layanan purnajual (after-sales). Layanan purnajual yang prima adalah kunci untuk membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan, terutama di segmen premium. Konsumen menginginkan jaminan dan kemudahan dalam perawatan kendaraan mereka.

Ekspansi Jaringan Dealer: Target 20 Dealer Baru

Untuk menjangkau lebih banyak konsumen, Maxus berencana untuk memperkuat jaringan diler mereka. Elisa menjelaskan bahwa perusahaan akan terus menambah jaringan penjualan hingga 20 diler selama tahun 2024 dan 2025. Ini adalah langkah krusial untuk memperluas cakupan pasar.

"Kami enggak ada target spesifik sebelum 20 dealer running, dan memang kami sedang benahi ini," ungkap Elisa. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa ekspansi jaringan diler adalah prioritas utama sebelum menetapkan target penjualan yang lebih ambisius. Dengan diler yang lebih banyak, akses konsumen terhadap produk dan layanan Maxus akan semakin mudah.

Tantangan dan Harapan Maxus di Tengah Persaingan Ketat

Meski telah menyiapkan berbagai strategi, Maxus masih harus menghadapi tantangan besar di pasar mobil listrik Indonesia. Persaingan tidak hanya datang dari merek China lainnya, tetapi juga dari pemain global yang sudah mapan. Inovasi teknologi dan harga yang kompetitif menjadi kunci untuk memenangkan hati konsumen.

Terkait penambahan produk, Maxus Indonesia belum mau memberikan informasi lebih lanjut. Namun, kehadiran model-model baru yang lebih bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan pasar bisa menjadi salah satu faktor pendorong penjualan di masa depan. Diversifikasi produk bisa menarik segmen pasar yang lebih luas.

Dengan berbagai upaya tersebut, Maxus optimistis kinerja penjualan pada tahun 2024 dapat menunjukkan perbaikan signifikan. Mereka tidak muluk-muluk, fokus utama adalah bagaimana tetap eksis dan melayani pasar Indonesia dengan pelayanan terbaik. Ini adalah pertarungan maraton, bukan sprint.

Mampukah Maxus bangkit dari keterpurukan dan bersaing ketat di lautan mobil listrik Indonesia yang semakin ramai? Hanya waktu dan implementasi strategi yang konsisten yang akan menjawabnya. Yang jelas, Maxus telah menyatakan kesiapannya untuk berjuang lebih keras lagi.

banner 325x300