Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) baru saja membuat gebrakan besar di industri otomotif Tanah Air. Mereka resmi mengakuisisi saham Nissan Motor Indonesia (NMI) dari prinsipalnya, Nissan Motor Co., Ltd. Langkah ini sontak menarik perhatian banyak pihak, mengingat sejarah panjang pabrik tersebut.
Akuisisi ini secara efektif menghidupkan kembali fasilitas produksi Nissan di Indonesia yang sempat "mati suri" sejak beberapa tahun lalu. Ini menandai sebuah babak baru yang strategis bagi Indomobil Group, dengan potensi dampak yang signifikan bagi pasar otomotif nasional.
Mengapa Indomobil Butuh Pabrik Baru?
Jusak Kertowidjojo, Direktur Utama IMAS, menjelaskan alasan utama di balik keputusan akuisisi ini. Menurutnya, perusahaan sangat membutuhkan pusat produksi baru yang lebih mumpuni dan terintegrasi. Fasilitas ini nantinya akan menopang berbagai merek otomotif yang telah menjalin kerja sama dengan Indomobil.
Ini adalah langkah proaktif untuk mengantisipasi pertumbuhan portofolio merek mereka dan mengamankan kapasitas produksi di masa depan. Indomobil melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memiliki fasilitas produksi sendiri yang bisa mengakomodasi berbagai jenis kendaraan.
Deretan Merek di Bawah Naungan Indomobil
Indomobil memang bukan pemain sembarangan; mereka adalah salah satu raksasa di industri otomotif Indonesia. Portofolio merek yang mereka naungi sangatlah beragam, mencakup segmen mobil penumpang hingga kendaraan komersial.
Sebut saja Maxus, JAC Motors, GWM, Changan, Jeep, Mercedes-Benz, Aion, Citroen, Land Rover, Jaguar, Kia, Suzuki, Nissan, Volvo, Hino, Volkswagen, dan yang terbaru, Hongqi. Dengan daftar sepanjang ini, kebutuhan akan fasilitas produksi yang terintegrasi, efisien, dan siap mengakomodasi berbagai teknologi, termasuk kendaraan listrik, menjadi sangat mendesak.
Masa Depan Produksi Mobil Nissan di Indonesia
Sebelumnya, spekulasi beredar luas bahwa akuisisi ini akan berujung pada lokalisasi kembali produksi mobil-mobil Nissan di Indonesia. Hal ini tentu menjadi harapan besar bagi para penggemar Nissan yang rindu melihat mobil-mobil kesayangan mereka kembali diproduksi secara lokal.
Jusak Kertowidjojo sendiri belum bisa memberikan kepastian mutlak mengenai hal tersebut. Namun, ia juga tidak menyanggah kemungkinan tersebut, menyisakan ruang untuk harapan dan antisipasi dari publik.
Peran PT National Assemblers dan Kewajiban EV
Akuisisi saham Nissan Motor Co., Ltd. ini dilakukan melalui anak usaha IMAS, yaitu PT National Assemblers (NA). NA sendiri bukan nama asing di Kementerian Perindustrian. Perusahaan ini terdaftar sebagai peserta program insentif mobil listrik impor Completely Built Up (CBU) yang bebas Bea Masuk dan PPnBM.
NA menaungi merek-merek seperti Aion, Citroen, Maxus, dan Volkswagen dalam program ini. Sebagai bagian dari program tersebut, NA memiliki kewajiban penting: mereka harus memproduksi mobil listrik di dalam negeri sesuai jumlah unit CBU yang telah diimpor untuk keempat merek tersebut. Kewajiban ini berlaku mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027.
Dengan akuisisi 99,9 persen saham NMI, NA kini memegang kendali penuh atas pabrik Nissan di Purwakarta, Jawa Barat. Ini memberikan mereka platform strategis yang kokoh untuk tidak hanya memenuhi komitmen produksi EV, tetapi juga untuk ekspansi produksi merek-merek lain di bawah naungan Indomobil.
Sejarah Singkat Pabrik Nissan Purwakarta
Pabrik Nissan di Purwakarta memiliki sejarah yang cukup panjang sebelum akhirnya ditutup permanen pada tahun 2020. Penutupan ini merupakan bagian dari strategi efisiensi global perusahaan yang dilakukan di berbagai belahan dunia.
Meski pabrik ditutup, Nissan tetap menjalankan bisnisnya di Indonesia dengan mengandalkan model-model yang didatangkan utuh secara impor. Uniknya, satu model Nissan, Livina, tetap diproduksi di Indonesia, namun bukan di pabrik Nissan sendiri. Livina diproduksi oleh rekan aliansi Nissan di dalam negeri, yaitu Mitsubishi. Ini menunjukkan fleksibilitas strategi Nissan di pasar Indonesia, namun juga menyoroti potensi besar yang kini bisa dimanfaatkan oleh Indomobil.
Langkah Selanjutnya Indomobil
Saat ini, Indomobil sedang dalam tahap persiapan intensif untuk pabrik tersebut. Jusak menjelaskan bahwa proses inventarisasi pabrik diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua bulan. Inventarisasi ini penting untuk memahami secara detail kondisi dan kapasitas fasilitas yang ada.
Setelah inventarisasi selesai, barulah rencana produksi yang lebih detail dapat disusun. Ini termasuk menentukan merek mana saja yang akan diproduksi di sana, baik itu model-model Nissan yang mungkin akan dilokalisasi kembali, maupun kendaraan dari merek lain di bawah payung Indomobil.
Pembelian ini, yang tertuang pada Akta Jual Beli Saham No. 80 dan ditandatangani pada 29 Agustus 2025, diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha Indomobil Group secara signifikan. Ini adalah investasi jangka panjang yang berpotensi mengubah peta persaingan industri otomotif nasional.
Akuisisi pabrik Nissan oleh Indomobil ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa. Ini adalah sinyal kuat akan ambisi Indomobil untuk menjadi pemain kunci yang tak hanya berdagang, tetapi juga memproduksi dan berinovasi dalam lanskap otomotif nasional. Dengan kapasitas produksi yang kini di tangan, Indomobil siap menyambut era baru, memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, dan memperkuat posisinya sebagai salah satu konglomerat otomotif terbesar di Indonesia.


















