banner 728x250

Honda di Vietnam ‘Kelepek-kelepek’ Dihantam Motor Listrik, Kok AHM Indonesia Santai Aja?

honda di vietnam kelepek kelepek dihantam motor listrik kok ahm indonesia santai aja portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Di satu sisi, raksasa otomotif Honda sedang menghadapi tantangan serius di pasar sepeda motor Vietnam. Penjualan mereka anjlok dihantam gelombang motor listrik yang didukung penuh pemerintah setempat. Namun, di sisi lain, Astra Honda Motor (AHM) di Indonesia justru terlihat santai dan tidak terlalu khawatir.

Mereka mengklaim penetrasi motor listrik di Tanah Air belum berdampak signifikan pada dominasi penjualan motor konvensional mereka. Sebuah kontras yang menarik, bukan?

banner 325x300

AHM: "Indonesia Beda, Gak Perlu Panik!"

Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication AHM, menegaskan bahwa karakter konsumen Indonesia punya keunikan tersendiri. Ia merasa tidak perlu cemas jika tren motor listrik akan mengganggu bisnis motor bensin yang sudah mapan. Menurutnya, apa yang terjadi di negara lain belum tentu akan terulang di Indonesia.

"Apakah yang terjadi di negara lain akan terjadi di Indonesia? Saya kira karakter konsumen kita berbeda," ujar Muhibbuddin di Jakarta, Jumat (10/10). Ia menambahkan bahwa masing-masing segmen, baik motor listrik maupun konvensional, memiliki ekspektasi dan ruang konsumen yang berbeda.

Ia percaya bahwa motor konvensional dan motor listrik dapat berkembang di jalurnya masing-masing tanpa harus saling berebut pasar. "Jadi, sejauh ini tidak ada gangguan, keduanya tumbuh di ruang yang berbeda," tambahnya, menunjukkan optimisme AHM terhadap pasar domestik.

Gelombang Listrik yang Mengguncang Vietnam

Pernyataan AHM ini muncul di tengah laporan yang menunjukkan dominasi Honda di pasar Vietnam sedang diuji. Pemerintah Vietnam gencar mendorong percepatan transisi ke motor berbasis baterai, menciptakan tekanan besar bagi produsen motor konvensional.

Data terbaru menunjukkan penurunan penjualan sepeda motor Honda di Vietnam yang cukup drastis. Pada Agustus lalu, penjualan mereka anjlok hampir 22 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dan turun 13 persen dari tahun lalu. Penurunan ini terjadi tak lama setelah kebijakan pemerintah Hanoi diumumkan.

Reaksi Honda Vietnam: Protes Kebijakan Terlalu Cepat

Menanggapi situasi ini, perwakilan Honda di Vietnam memilih bungkam, namun diketahui mereka tidak tinggal diam. Bersama sejumlah produsen motor lainnya, Honda telah mengirimkan surat protes kepada otoritas setempat. Mereka mengkritik kebijakan transisi yang dianggap terlalu cepat diberlakukan.

Larangan motor berbahan bakar fosil beroperasi di pusat ibu kota Hanoi dalam waktu 12 bulan, yang berlaku mulai Juli lalu, menjadi pemicu utama. Larangan tersebut bahkan akan diperluas pada tahun 2028, memaksa konsumen dan produsen untuk beradaptasi lebih cepat.

AHM Tetap Main Dua Kaki: Konvensional dan Listrik

Meski tetap optimistis dengan pasar konvensional, AHM tidak menutup mata terhadap potensi motor listrik di Indonesia. Mereka juga berupaya keras untuk bersaing di segmen ini, menyadari bahwa tren elektrifikasi adalah keniscayaan di masa depan. Muhibbuddin mengakui bahwa penetrasi kendaraan listrik di Indonesia masih memerlukan waktu dan penyesuaian.

AHM telah meluncurkan tiga model motor listrik andalannya di Indonesia: Icon e:, CUV e:, dan EM1 e:. Motor-motor ini awalnya dibanderol dengan harga yang relatif tinggi, bahkan salah satunya mencapai Rp50 juta. Namun, berkat diskon besar-besaran yang diberikan pada Juli lalu, harga motor listrik Honda kini lebih kompetitif.

Strategi ini membuat harga motor listrik Honda bisa bersaing dengan merek lain, terutama yang berasal dari China dan produsen lokal. "Kami berharap motor konvensional dan motor listrik dapat diterima dengan baik oleh konsumen di Indonesia," kata Muhibbuddin, menunjukkan komitmen AHM pada kedua segmen.

Konsumen Vietnam Berpaling ke Listrik, Bagaimana di Indonesia?

Di Vietnam, perubahan sikap konsumen terhadap motor listrik terlihat sangat jelas. Survei yang dilakukan pada September oleh lembaga riset pasar Asia Plus Inc. menunjukkan bahwa 54 persen responden, yang 80 persen di antaranya adalah pemilik motor Honda, berencana membeli motor listrik di masa depan. Hanya 24 persen yang masih berencana membeli motor berbahan bakar bensin.

Alasan utama mereka adalah dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang mendukung kendaraan listrik. Di Hanoi, 60 persen responden bahkan menyatakan akan memilih motor listrik. Menariknya, separuh peserta survei masih mempertimbangkan membeli motor Honda, sementara 32 persen melirik merek lokal VinFast.

Kengo Kurokawa, kepala Asia Plus, menyoroti dampak kebijakan pemerintah. "Dukungan kebijakan yang cepat, seperti larangan bertahap, insentif, dan kampanye publik, telah membentuk sikap konsumen secara signifikan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ini berpotensi mempercepat perubahan pasar lebih cepat dari yang diperkirakan oleh produsen motor tradisional.

Pasar Vietnam yang Menggiurkan, Tapi Penuh Tantangan

Pasar motor di Vietnam adalah kue besar yang menggiurkan, diperkirakan akan bernilai USD 4,6 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 6 miliar pada 2030. Angka ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar, namun juga penuh tantangan bagi pemain lama.

Pada tahun lalu, Honda berhasil mendominasi dengan menjual 2,6 juta unit motor, yang mencakup lebih dari 80 persen penjualan sepeda motor nasional. Sementara itu, merek lokal VinFast melaporkan telah menjual 71 ribu unit motor listrik, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di segmen EV. Sama seperti di Indonesia, Honda juga telah meluncurkan motor listrik di Vietnam, namun angka penjualannya hingga kini belum diumumkan.

Situasi di Vietnam menjadi cerminan tantangan yang mungkin akan dihadapi produsen motor konvensional di masa depan. Meski AHM di Indonesia masih bisa bernapas lega, mereka tak bisa sepenuhnya mengabaikan gelombang elektrifikasi. Strategi bermain dua kaki, fokus pada konvensional sambil menggarap pasar listrik, tampaknya menjadi kunci bagi AHM untuk tetap relevan di tengah perubahan lanskap otomotif global.

banner 325x300