Jakarta – Tahun 2025 diprediksi akan menjadi periode paling kelam bagi Hino, produsen kendaraan komersial raksasa asal Jepang di Indonesia. Bukan tanpa alasan, gelombang invasi truk impor dari China yang semakin masif menjadi momok utama yang menekan kinerja industri mereka di Tanah Air. Situasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan ribuan pekerja dan investasi triliunan rupiah yang telah ditanamkan.
Prediksi Suram Hino di Tahun 2025
Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan, mengungkapkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, yang memiliki kapasitas produksi tahunan hingga 75 ribu unit, kini hanya beroperasi pada 35-45 persen kapasitas terpakai. Namun, proyeksi untuk tahun 2025 jauh lebih buruk.
"Tahun 2025 tahun paling suram buat kami, sisa sekitar 25 persen. Karena tahun lalu banyak truk China masuk," kata Harianto dengan nada prihatin pada Rabu (21/1) di pabriknya. Angka ini menunjukkan penurunan drastis yang bisa berujung pada konsekuensi serius bagi operasional perusahaan.
Angka-angka yang Menjerit: Penurunan Produksi Hino
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) semakin memperkuat gambaran suram ini. Angka produksi Hino pada tahun 2025 diperkirakan akan anjlok 22,6 persen, hanya mencapai 18.450 unit. Penjualan wholesales juga diproyeksikan turun menjadi 18.367 unit, sementara retailnya sekitar 20.517 unit.
Perbandingan dengan tahun sebelumnya menunjukkan betapa signifikan penurunan ini. Pada tahun 2024, Hino berhasil mencatatkan wholesales sebanyak 24.158 unit dan retail 22.925 unit. Penurunan tajam ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan tekanan pasar yang luar biasa akibat persaingan yang tidak seimbang.
Investasi Triliunan dan Ribuan Pekerja Terancam
Kondisi ini tentu sangat disesalkan, mengingat Hino telah menanamkan investasi yang sangat besar di Indonesia. Mereka membangun pabrik megah di area seluas 296.000 m², dengan bangunan lebih dari 169.000 m², yang didukung oleh 1.548 tenaga kerja terampil.
Fasilitas produksi ini tidak main-main, dikhususkan untuk manufaktur truk ringan (light duty), truk menengah (medium duty), hingga bus. Total nilai investasi yang telah dikucurkan Hino di Indonesia mencapai US$112,5 juta, atau setara dengan sekitar Rp1,9 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen jangka panjang Hino terhadap perekonomian nasional.
Hino, Juara TKDN yang Terjepit
Lebih jauh, Hino juga bangga mengklaim diri sebagai merek kendaraan komersial dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi di Indonesia. Klaim ini bukan sekadar slogan, melainkan bukti nyata komitmen Hino dalam mendukung industri otomotif nasional dan memperkuat ekosistem manufaktur lokal.
Harianto menjelaskan bahwa hingga kini, Hino telah mengantongi sertifikasi TKDN untuk 31 jenis kendaraan niaga, baik bus maupun truk. Persentase TKDN yang dicapai bervariasi antara 44,35 persen hingga 57,26 persen, jauh di atas rata-rata industri. Ini menunjukkan upaya keras Hino dalam memaksimalkan penggunaan komponen lokal.
Ancaman Nyata bagi Industri Karoseri Lokal
Gempuran truk China tidak hanya memukul Hino, tetapi juga membawa dampak domino yang merugikan bagi industri karoseri lokal. Harianto menjelaskan bahwa truk impor utuh (Completely Built Up/CBU) dari China datang dalam kondisi siap pakai, lengkap dengan bodi yang sudah terpasang.
Hal ini sangat berbeda dengan model bisnis kendaraan niaga buatan Indonesia, yang umumnya menggandeng produsen karoseri lokal untuk pembuatan bodi. "Asosiasi karoseri sangat berat kenapa, karena kalau dari kami itu keluarnya (produk) lari ke karoseri. Kalau truk China itu (sudah termasuk) bodi jadi tinggal pakai," ujarnya. Ini berarti hilangnya potensi pekerjaan dan pendapatan bagi ratusan perusahaan karoseri di Indonesia.
Apa yang Membuat Truk China Begitu Agresif?
Pertanyaan besar muncul: apa yang membuat truk China begitu dominan dan agresif di pasar Indonesia? Salah satu faktor utama adalah harga yang kompetitif, seringkali jauh lebih murah dibandingkan produk lokal atau Jepang. Selain itu, kecepatan mereka dalam menghadirkan model-model baru dengan fitur-fitur modern juga menjadi daya tarik tersendiri.
Strategi mereka untuk menjual unit CBU lengkap dengan bodi juga memangkas rantai pasok dan biaya bagi pembeli, sekaligus mempercepat proses pengadaan. Ini menjadi keuntungan besar bagi konsumen yang mencari solusi praktis dan efisien, namun menjadi mimpi buruk bagi industri lokal yang bergantung pada proses perakitan dan kustomisasi.
Bertahan di Tengah Badai: Komitmen Hino Tanpa PHK
Meski dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, Harianto memastikan bahwa Hino akan terus berjuang untuk mempertahankan karyawannya. "Kebetulan seperti yang saya sampaikan turun jauh, tapi kami belum ada PHK sampai sekarang. Kami masih bertahan," tegasnya.
Komitmen ini menunjukkan tanggung jawab sosial Hino terhadap ribuan karyawannya. Namun, tanpa adanya perubahan kebijakan atau strategi yang signifikan, mempertahankan kondisi ini akan menjadi tantangan yang semakin berat di masa depan. Perusahaan harus mencari cara inovatif untuk tetap relevan dan kompetitif.
Masa Depan Industri Otomotif Nasional di Persimpangan Jalan
Kisah Hino ini bukan hanya tentang satu merek, melainkan cerminan dari tantangan yang lebih besar bagi industri otomotif nasional secara keseluruhan. Jika produsen dengan investasi dan komitmen TKDN sebesar Hino saja terancam, bagaimana dengan pemain lain yang lebih kecil?
Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu segera mencari solusi strategis untuk melindungi industri dalam negeri. Kebijakan yang mendukung produk lokal, insentif bagi investasi, serta regulasi yang adil bagi semua pemain pasar, baik lokal maupun impor, menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan ribuan lapangan kerja dan ekosistem manufaktur yang telah dibangun bertahun-tahun.
Tahun 2025 memang menjadi penentu bagi Hino dan mungkin juga bagi masa depan industri kendaraan komersial di Indonesia. Gempuran truk China adalah realitas yang tidak bisa dihindari, namun bagaimana Indonesia meresponsnya akan menentukan apakah kita akan menjadi pasar semata atau tetap menjadi pemain industri yang kuat dan berdaya saing. Pertarungan ini jauh dari selesai, dan taruhannya sangat besar.


















