Pasar otomotif premium di Indonesia sedang memanas, terutama di segmen MPV mewah. Sebuah merek baru, Denza, yang merupakan lini mewah dari raksasa otomotif Tiongkok BYD, tiba-tiba merangsek naik ke puncak penjualan. Namun, ada satu pemain lama yang tampaknya tak bergeming: Lexus, merek mewah andalan Toyota.
Mengapa Lexus Tak Anggap Denza Rival?
Di tengah gempuran Denza yang mencatat angka penjualan fantastis, Lexus justru menunjukkan sikap yang sangat tenang. Ima Nurbani Rahmah, General Manager Lexus Indonesia, dengan tegas menyatakan bahwa mereka belum menganggap Denza sebagai rival serius. Pernyataan ini tentu saja memicu pertanyaan besar: mengapa bisa begitu?
Menurut Ima, konsumen Lexus di Indonesia memiliki karakter yang sangat unik dan berbeda. Mereka tidak hanya mencari sebuah kendaraan, melainkan sebuah paket lengkap yang mencakup pengalaman istimewa dan layanan eksklusif. Inilah yang menjadi fondasi kepercayaan diri Lexus, membuat mereka yakin bahwa loyalitas pelanggan tak akan mudah goyah.
Loyalitas Pelanggan: Kunci Kepercayaan Diri Lexus
Bagi Lexus, penjualan bukan sekadar angka unit yang terjual. Mereka percaya bahwa pelanggan setianya membeli sebuah "experience" atau pengalaman, bukan hanya sekadar mobil. Pengalaman ini mencakup segala hal, mulai dari momen pertama melihat mobil, proses pembelian yang personal, hingga layanan purna jual yang tak tertandingi.
"Kami melihat customer kita masih belum meng-consider (Denza sebagai rival). Karena ya tadi, konsumen kami selalu pikirnya, apa yang didapatkan adalah carinya experience. Jadi mereka enggak gampang berpindah hati," kata Ima Nurbani Rahmah di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) ICE BSD Tangerang, belum lama ini. Ini menunjukkan bahwa Lexus berinvestasi besar pada ikatan emosional dengan konsumennya.
Denza D9: Sang Pendatang Baru yang Mengguncang Pasar
Meski Lexus tampak santai, fakta di lapangan menunjukkan Denza D9, MPV mewah andalan mereka, telah membuat gebrakan besar. Hanya dengan satu model yang dijual, Denza berhasil melesat ke posisi puncak merek mobil premium terlaris di Indonesia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa bagi merek pendatang baru.
Data penjualan retail menunjukkan Denza D9 mengoleksi 6.757 unit dalam periode Januari-Oktober 2025. Angka ini jauh melampaui Lexus, yang hanya berhasil menjual 1.335 unit di periode yang sama. Dominasi Denza D9 ini jelas menjadi sorotan utama di pasar otomotif mewah.
Duel MPV Mewah: Denza D9 vs. Lexus LM350
Denza D9 memang secara langsung menjadi rival utama Lexus LM350 dalam persaingan ketat di kelas MPV premium. Namun, ada perbedaan fundamental yang memisahkan keduanya. Denza D9 adalah mobil listrik berbasis baterai (BEV) sepenuhnya, mewakili era baru mobilitas ramah lingkungan.
Di sisi lain, Lexus LM350, yang dibangun di atas platform Toyota Alphard yang sudah terbukti, hanya tersedia dalam varian hybrid. Perbedaan teknologi ini menjadi salah satu faktor penentu pilihan konsumen di tengah tren elektrifikasi global. Dalam hal penjualan wholesales, LM350 jelas kalah telak, hanya terlego 895 unit hingga Oktober 2025.
Bukan Hanya Mobil, Tapi Pengalaman dan Privilese
Meskipun angka penjualan LM350 tertinggal jauh, Ima Nurbani menegaskan bahwa hal itu tidak menjadi masalah besar bagi Lexus. Filosofi mereka tetap sama: menjual pengalaman, bukan sekadar unit mobil. Mereka percaya bahwa konsumen memilih Lexus karena mencari sesuatu yang lebih dari sekadar transportasi mewah.
"Karena tadi, nyarinya tuh bukan cuma mobil, bukan cuma MPV. Tapi ya MPV yang bisa kasih experience beda, services yang beda, personalisasi. Karena tadi, privilege-privilege yang mereka enggak akan dapatkan kalau mereka enggak di Lexus. Seperti itu sih kondisinya," ucap Ima. Ini menggambarkan bagaimana Lexus membangun ekosistem eksklusif di sekitar merek mereka.
Faktor Ekonomi Nasional: Alasan di Balik Penurunan Penjualan Lexus
Lexus juga tidak menampik bahwa penjualan mereka mengalami penurunan pada tahun 2025. Namun, Ima Nurbani dengan tegas membantah bahwa penurunan ini secara langsung disebabkan oleh kehadiran merek premium lain seperti Denza. Menurutnya, akar masalahnya justru bermuara pada kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya membaik.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan retail Lexus terhantam cukup parah selama 10 bulan pertama tahun ini, hanya mencapai 1.335 unit. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 44,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fluktuasi ekonomi, inflasi, dan daya beli konsumen memang seringkali menjadi faktor penentu dalam penjualan barang mewah.
Masa Depan Pasar Otomotif Premium Indonesia
Fenomena Denza yang meroket dan sikap tenang Lexus ini menggambarkan dinamika menarik di pasar otomotif premium Indonesia. Di satu sisi, ada pendatang baru yang agresif dengan teknologi listrik penuh dan harga kompetitif. Di sisi lain, ada pemain lama yang mengandalkan reputasi, loyalitas, dan pengalaman eksklusif.
Pertanyaan besar yang muncul adalah, apakah strategi Lexus yang berfokus pada "pengalaman" dan "privilese" akan mampu membendung gelombang elektrifikasi dan persaingan harga dari merek-merek baru? Atau justru Denza akan terus mendominasi dengan tawaran teknologi dan efisiensi yang lebih modern? Pasar otomotif premium Indonesia kini menjadi medan pertempuran yang semakin seru dan patut untuk terus dicermati perkembangannya.


















