Jakarta – Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, baru-baru ini membuat pernyataan yang menarik perhatian publik. Ia mengungkapkan tiga kontribusi penting kendaraan listrik yang ternyata jauh lebih luas dampaknya daripada sekadar mengurangi polusi udara. Pernyataan ini disampaikan dalam acara EVolution Indonesia Forum CNN Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2), menegaskan urgensi transisi menuju mobilitas hijau.
Urgensi Transisi Energi: Mengapa Kendaraan Listrik Penting?
Moeldoko menyoroti data mencengangkan mengenai jumlah kendaraan di Indonesia. Saat ini, ada sekitar 196 juta unit kendaraan yang beroperasi di jalanan, sebuah angka yang tentu saja berkontribusi besar terhadap emisi karbon dioksida (CO2). Kontribusi terbesar datang dari kendaraan penumpang, menyumbang 76 persen emisi di sektor darat, sementara truk dan bus sekitar 15 persen.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa tanpa upaya serius, target Net Zero Emission (NZE) 2060 yang dicanangkan pemerintah akan sulit tercapai. Oleh karena itu, penggunaan kendaraan listrik menjadi sangat krusial sebagai salah satu solusi utama untuk menekan laju emisi karbon. Moeldoko sendiri mengaku optimis melihat perkembangan mobil listrik yang sangat pesat belakangan ini.
Tiga Kontribusi Revolusioner Kendaraan Listrik Menurut Moeldoko
Lebih lanjut, Moeldoko membeberkan tiga kontribusi besar kendaraan listrik yang mungkin belum banyak disadari masyarakat. Ketiga poin ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kesejahteraan keluarga dan kesehatan keuangan negara. Ini adalah perspektif yang komprehensif mengenai dampak positif adopsi kendaraan listrik.
1. Hemat Pengeluaran Keluarga, Dompet Aman!
Kontribusi pertama yang disebutkan Moeldoko adalah manfaat langsung bagi pengguna kendaraan listrik. Ia menjelaskan bahwa penggunaan mobil listrik secara signifikan dapat mengurangi pengeluaran keluarga. Ini tentu menjadi angin segar bagi banyak rumah tangga di tengah kenaikan biaya hidup.
Penghematan ini terutama berasal dari biaya bahan bakar yang jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional. Listrik sebagai sumber energi jauh lebih murah per kilometer dibandingkan bensin atau solar. Selain itu, kendaraan listrik juga dikenal memiliki biaya perawatan yang lebih rendah karena komponen mesin yang lebih sedikit dan tidak memerlukan penggantian oli secara berkala.
2. Udara Bersih, Kesehatan Terjamin, Subsidi BPJS Berkurang
Poin kedua dari Moeldoko adalah kontribusi kendaraan listrik terhadap pengurangan emisi CO2, yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan masyarakat dan anggaran pemerintah. Dengan udara yang lebih bersih, risiko penyakit pernapasan akibat polusi udara dapat ditekan. Ini adalah manfaat jangka panjang yang sangat berharga bagi kualitas hidup.
Moeldoko bahkan berani mengaitkan hal ini dengan anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Menurutnya, jika masyarakat lebih sehat karena udara yang segar, maka jumlah orang yang sakit akan berkurang. Implikasinya, pemerintah bisa mengurangi subsidi untuk BPJS karena beban klaim kesehatan yang menurun, sebuah efek domino yang sangat positif.
3. APBN Sehat, Dana Melimpah untuk Rakyat!
Kontribusi ketiga dan mungkin yang paling mengejutkan adalah dampaknya terhadap keuangan negara. Moeldoko menyatakan bahwa adopsi kendaraan listrik dapat berkontribusi besar untuk negara melalui pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Subsidi BBM selama ini menjadi beban besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dengan berkurangnya kebutuhan subsidi BBM, APBN kita akan menjadi lebih sehat dan stabil. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk subsidi BBM bisa dialihkan untuk sektor-sektor penting lainnya. Misalnya, dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, atau program kesejahteraan rakyat lainnya, memberikan dampak langsung pada pembangunan nasional.
Tantangan dan Kolaborasi: Pemerintah dan Swasta Wajib Sinergi
Meskipun optimis, Moeldoko juga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendirian dalam mendorong penggunaan mobil listrik. Kolaborasi erat dengan pihak swasta menjadi kunci utama untuk mencapai tujuan ini. Pertanyaan krusial yang harus dijawab adalah apakah sudah ada keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) kendaraan listrik di Indonesia.
Jika masih ada kekhawatiran mengenai ekosistem kendaraan listrik, seperti ketersediaan stasiun pengisian daya atau produksi baterai, maka semua pihak harus bekerja lebih keras. Moeldoko sangat setuju dengan pandangan bahwa pemerintah memerlukan dukungan penuh dari sektor swasta. Ketika swasta mulai menunjukkan minat besar, maka regulasi yang ada juga harus beradaptasi dan berubah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Masa Depan Cerah Kendaraan Listrik di Indonesia
Perkembangan pesat mobil listrik di Indonesia menunjukkan bahwa transisi ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan. Dengan dukungan regulasi yang tepat dan kolaborasi kuat antara pemerintah serta swasta, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain kunci dalam industri kendaraan listrik. Ini adalah langkah strategis tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Visi Moeldoko tentang kontribusi kendaraan listrik yang begitu multidimensional ini memberikan perspektif baru bagi kita semua. Kendaraan listrik bukan hanya tentang teknologi baru atau gaya hidup modern, tetapi juga tentang solusi konkret untuk masalah lingkungan, ekonomi keluarga, kesehatan publik, dan stabilitas keuangan negara. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.


















