Kabar mengejutkan datang dari pemerintah terkait insentif mobil listrik. Siapa sangka, insentif impor mobil listrik dalam bentuk Completely Build Up (CBU) dipastikan tidak akan diperpanjang setelah Desember 2025. Namun, jangan panik dulu, karena pemerintah justru punya "hadiah" lain yang jauh lebih menggiurkan dan bersifat jangka panjang!
Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa berakhirnya insentif CBU ini bukan berarti dukungan pemerintah terhadap ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia ikut sirna. Justru sebaliknya, dukungan fiskal yang signifikan masih terus mengalir.
Mengapa Insentif CBU Dihentikan? Bukan Tanpa Alasan!
Keputusan untuk tidak memperpanjang insentif impor CBU ini bukan tanpa dasar. Pemerintah melihat bahwa tujuan awal dari insentif tersebut, yaitu untuk merangsang pasar mobil listrik nasional, telah tercapai dengan sangat baik. Insentif impor CBU memang sejak awal dirancang sebagai stimulus sementara.
Bayangkan saja, populasi mobil listrik di Indonesia melonjak drastis! Dari hanya sekitar 17 ribuan unit pada tahun 2023, angka tersebut diproyeksikan tembus 103 ribuan unit pada tahun 2025. Peningkatan yang luar biasa ini menjadi bukti nyata bahwa pasar EV di Tanah Air sudah semakin matang dan tidak lagi membutuhkan "dorongan instan" dari insentif impor CBU.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pun mengamini lonjakan ini. Distribusi mobil listrik yang menembus 103.931 unit membuat kontribusinya terhadap wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) nasional mencapai lebih dari 12 persen. Angka ini jelas menunjukkan bahwa kendaraan listrik bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat.
Bukan Berakhir, Ini Dia Insentif yang Justru Makin Menggila!
Jadi, kalau insentif CBU berakhir, apakah artinya kita tidak bisa lagi menikmati harga mobil listrik yang lebih terjangkau? Tentu saja tidak! Pemerintah justru masih memberikan dukungan fiskal yang jauh lebih substansial dan bersifat jangka panjang, yang dijamin bikin kamu melongo.
Rachmat Kaimuddin memaparkan, kebijakan ini meliputi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) EV nol persen, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) nol persen, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) nol persen. Semua ini adalah implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2023 yang bertujuan untuk mempercepat pengembangan ekosistem EV di Indonesia.
"Insentif jadi masih ada, cukup besar, dan signifikan," kata Rachmat. Ia menambahkan bahwa insentif seperti bea balik nama 0 persen, PPnBM 0 persen (yang seharusnya 15 persen), dan PKB 0 persen sudah berlangsung sejak dulu dan masih berlanjut hingga sekarang. Ini artinya, dukungan pemerintah terhadap kendaraan listrik di Indonesia bukan kaleng-kaleng!
Hematnya Bukan Main! Pikirkan Saja Angka Nol Persen Ini!
Coba bayangkan, berapa banyak uang yang bisa kamu hemat dengan adanya insentif ini? PKB nol persen berarti kamu tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya pajak tahunan yang biasanya cukup memberatkan. PPnBM nol persen juga sangat signifikan, mengingat pajak ini bisa mencapai 15 persen dari harga kendaraan.
Lalu, ada lagi BBNKB nol persen, yang berarti kamu tidak perlu membayar biaya balik nama kendaraan saat pertama kali membeli atau saat terjadi perpindahan kepemilikan. Semua insentif ini secara kumulatif memberikan keuntungan finansial yang sangat besar bagi konsumen, membuat harga mobil listrik menjadi jauh lebih kompetitif dan terjangkau. Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik di masyarakat.
Investasi Tetap Aman, Pabrikan Makin Berdatangan!
Mungkin ada yang khawatir, apakah berakhirnya insentif impor CBU ini akan membuat iklim investasi di sektor otomotif listrik jadi lesu? Rachmat Kaimuddin memastikan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Mengapa? Karena semua pabrikan otomotif yang masuk ke Tanah Air, terutama mereka yang telah menikmati skema insentif impor BEV, diwajibkan untuk melanjutkan komitmen berinvestasi di Indonesia.
Ini adalah strategi cerdas pemerintah untuk memastikan bahwa insentif yang diberikan tidak hanya dinikmati sesaat, tetapi juga membawa dampak jangka panjang berupa investasi, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi. Dengan kata lain, pemerintah mendorong pabrikan untuk tidak hanya menjual, tetapi juga memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri.
Buktinya, jumlah pabrikan yang berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia terus bertambah. Jika sebelumnya hanya ada dua pabrikan besar, kini sudah lebih dari sepuluh merek global yang siap meramaikan pasar EV Tanah Air. Sebut saja Hyundai, Wuling, Chery, Neta, MG, Polytron, Geely, BYD, Vinfast, Volkswagen, Xpeng, Citroen, GWM, hingga Maxus.
Komitmen Jangka Panjang Industri Otomotif Tanah Air
Kehadiran puluhan pabrikan ini menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap potensi pasar Indonesia dan kebijakan pemerintah yang mendukung. Mereka tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi kendaraan listrik untuk regional. Ini adalah langkah maju yang sangat penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai hub produksi EV global.
Dengan adanya komitmen investasi ini, Indonesia akan semakin mandiri dalam memproduksi kendaraan listrik, dari hulu hingga hilir. Mulai dari perakitan, produksi komponen, hingga pengembangan baterai, semua akan dilakukan di dalam negeri. Ini akan menciptakan ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan, serta membuka banyak peluang kerja bagi masyarakat Indonesia.
Masa Depan Cerah Mobilitas Listrik Indonesia
Jadi, jangan salah paham. Berakhirnya insentif impor mobil listrik CBU bukanlah akhir dari segalanya. Justru ini adalah fase baru yang lebih matang, di mana pasar telah tumbuh signifikan dan dukungan pemerintah beralih ke insentif fiskal yang lebih fundamental dan berkelanjutan.
Dengan PKB nol persen, PPnBM nol persen, dan BBNKB nol persen, pemerintah memastikan bahwa transisi menuju mobilitas listrik tetap menarik dan terjangkau bagi masyarakat. Ditambah dengan komitmen investasi dari berbagai pabrikan global, masa depan kendaraan listrik di Indonesia terlihat semakin cerah dan menjanjikan. Ini adalah langkah besar menuju Indonesia yang lebih hijau dan mandiri energi!


















