Kekecewaan mendalam menyelimuti para penggemar sepak bola Tanah Air. Mimpi untuk melihat Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia 2026 harus kembali tertunda. Kegagalan ini, bagi sebagian pengamat, bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan sebuah "Agony of Doha" jilid kedua yang dialami skuad Garuda, mirip dengan apa yang pernah menimpa Timnas Jepang 32 tahun silam.
"Agony of Doha" atau "Doha no higeki" adalah istilah yang merujuk pada momen tragis dalam sejarah sepak bola Jepang. Tepatnya pada 28 Oktober 1993, di Stadion Al Ahli, Doha, Qatar, Jepang berjuang keras untuk meraih tiket pertama mereka ke Piala Dunia 1994. Sebuah mimpi yang sudah di pelupuk mata, namun buyar di detik-detik terakhir.
Agony of Doha: Pukulan Telak yang Mengubah Sejarah Sepak Bola Jepang
Saat itu, Jepang tampil perkasa di babak akhir Kualifikasi Piala Dunia 1994 zona Asia. Mereka butuh kemenangan melawan Irak untuk mengamankan posisi teratas dan melaju ke pesta sepak bola dunia. Pertandingan tersebut menjadi penentu nasib, dengan seluruh mata warga Jepang tertuju pada layar televisi.
Skuad Samurai Biru yang dilatih Hans Ooft, pelatih asal Belanda, sempat unggul cepat lewat gol Kazuyoshi Miura, sang "King Kazu", di menit kelima. Meski Irak sempat membalas di menit ke-54, Jepang kembali memimpin berkat gol Masashi Nakayama pada menit ke-69. Kemenangan 2-1 sudah di depan mata, euforia mulai terasa.
Namun, takdir berkata lain. Di masa injury time, tepatnya pada menit ke-90+1, tandukan Jaffar Omran membuyarkan segalanya. Gol penyeimbang Irak membuat skor menjadi 2-2, dan mimpi Jepang untuk lolos ke Piala Dunia 1994 seketika sirna. Mereka gagal hanya karena kalah selisih gol dari Korea Selatan, padahal perolehan poinnya sama.
Para pemain Jepang, termasuk Hajime Moriyasu yang kini menjadi pelatih timnas mereka, ambruk di lapangan. Kekecewaan tak terhingga terpancar dari wajah mereka. "Saya sudah mengabdikan diri untuk impian Piala Dunia. Kami begitu banyak menjalani pemusatan latihan sehingga lebih banyak menghabiskan waktu dengan rekan satu tim daripada keluarga saya. Saya sudah bisa melihat Piala Dunia ada di depan mata, tetapi kemudian lenyap begitu saja," kenang Moriyasu, menggambarkan betapa pahitnya momen itu.
Dejavu di Tanah Doha: Persamaan Nasib Timnas Indonesia dan Jepang
Melihat kegagalan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026, banyak persamaan yang mencolok dengan "Agony of Doha" Jepang. Bukan sekadar kebetulan, kemiripan ini terasa seperti cermin yang memantulkan sejarah. Pertama, kedua tim diperkuat pemain naturalisasi yang menjadi tulang punggung skuad.
Kedua, kedua tim juga dipimpin oleh pelatih asal Belanda; Hans Ooft untuk Jepang dan Shin Tae-yong (meskipun Korea Selatan, tapi filosofi sepak bolanya sering dikaitkan dengan gaya Eropa) untuk Indonesia. Ketiga, lawan yang menjadi penentu nasib adalah Irak, sebuah kebetulan yang menambah dramatisasi. Keempat, kedua peristiwa krusial ini terjadi di bulan Oktober, dan yang kelima, di wilayah Timur Tengah (Doha untuk Jepang, Qatar/Timur Tengah untuk kualifikasi Indonesia).
Persamaan-persamaan ini membuat kegagalan Timnas Indonesia terasa lebih pedih, seolah mengulang kembali luka lama yang pernah dialami Jepang. Namun, di balik kemiripan nasib ini, tersimpan sebuah pelajaran berharga yang bisa menjadi kunci kebangkitan.
Bukan Sekadar Kegagalan, Tapi Titik Balik Revolusi Sepak Bola Jepang
"Agony of Doha" memang menjadi pukulan telak bagi Jepang, tetapi justru momen itulah yang menjadi titik balik revolusi sepak bola mereka. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan, Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) melakukan introspeksi mendalam dan mengambil langkah-langkah drastis untuk memperbaiki sistem. Mereka menyadari bahwa mimpi Piala Dunia tidak bisa diraih secara instan.
Fokus utama Jepang adalah pengembangan kompetisi domestik. J.League, yang baru bergulir pada tahun 1993, menjadi prioritas utama. Mereka merancang "J.League 100 Year Plan" yang ambisius, sebuah visi jangka panjang untuk mengembangkan klub-klub amatir menjadi tim profesional dengan infrastruktur dan manajemen yang mumpuni. Tujuannya jelas: menciptakan liga yang kompetitif dan melahirkan pemain-pemain berkualitas.
Hasilnya luar biasa. Dalam kurun waktu lima tahun, jumlah klub profesional di J.League meningkat pesat, dari 10 menjadi 18 tim. Liga yang semakin kompetitif ini menjadi kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda. Pemain-pemain seperti Hidetoshi Nakata mulai bermunculan dan bahkan menembus liga-liga top Eropa. Jepang menunjukkan bahwa dengan visi yang jelas, investasi yang tepat, dan kerja keras, kegagalan bisa diubah menjadi fondasi kesuksesan.
Jalan Terjal Timnas Indonesia: Belajar dari Sang Samurai Biru
Melihat kisah kebangkitan Jepang, Timnas Indonesia memiliki kesempatan emas untuk belajar dari pengalaman pahit ini. Kegagalan menuju Piala Dunia 2026 seharusnya tidak hanya menjadi momen kekecewaan, tetapi juga titik tolak untuk perubahan fundamental. Ini bukan hanya tentang mencari pelatih baru atau pemain naturalisasi tambahan, melainkan tentang membangun ekosistem sepak bola yang kuat dari akarnya.
Langkah pertama adalah evaluasi menyeluruh terhadap sistem kompetisi domestik, mulai dari Liga 1 hingga Liga 3, bahkan kompetisi usia dini. Perlu adanya perbaikan manajemen klub, infrastruktur yang memadai, dan pembinaan usia dini yang terstruktur dan berkelanjutan. Liga yang sehat dan kompetitif akan menjadi pabrik pencetak talenta-talenta lokal yang siap bersaing di level internasional.
PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola, harus memiliki visi jangka panjang yang jelas, seperti "J.League 100 Year Plan" milik Jepang. Ini berarti investasi pada pengembangan pelatih, wasit, dan fasilitas latihan di seluruh pelosok negeri. Mentalitas instan harus diubah menjadi mentalitas pembangun yang sabar dan konsisten.
Harapan dan Tantangan: Mampukah Indonesia Mengulang Sejarah Manis Jepang?
Tentu saja, jalan yang harus ditempuh Timnas Indonesia tidak akan mudah. Tantangan seperti infrastruktur yang belum merata, manajemen yang masih perlu ditingkatkan, dan mentalitas yang terkadang belum sepenuhnya profesional, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun, potensi Indonesia sangat besar, didukung oleh basis penggemar yang luar biasa fanatik dan semangat juang yang tinggi.
"Agony of Doha" bagi Jepang adalah penderitaan yang memicu revolusi. Bagi Timnas Indonesia, kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026 ini bisa menjadi "Catalyst of Change" yang sama. Jika kita mampu belajar dari sejarah, meniru langkah-langkah strategis Jepang dalam membangun fondasi sepak bola yang kokoh, bukan tidak mungkin mimpi Piala Dunia akan segera menjadi kenyataan. Mari kita jadikan kekecewaan ini sebagai bahan bakar untuk kebangkitan sepak bola Indonesia yang sesungguhnya.


















