Impian Timnas Indonesia untuk diperkuat pemain diaspora top terus bergelora. Namun, tidak semua jalan menuju sana mulus. Dua nama besar yang kerap disebut, Pascal Struijk dan Jayden Oosterwolde, ternyata belum terpikirkan untuk mengenakan seragam Merah Putih dalam waktu dekat.
Keduanya, yang memiliki darah Indonesia, secara terang-terangan menyatakan prioritas mereka. Bukan untuk Tanah Air leluhur, melainkan untuk tim nasional Belanda. Sebuah pilihan yang mungkin menyisakan sedikit rasa kecewa bagi para penggemar sepak bola Indonesia.
Pascal Struijk: Benteng Kokoh Leeds yang Berharap Oranye
Pascal Struijk, bek tangguh berusia 26 tahun, adalah salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan Timnas Indonesia. Darah Indonesia mengalir dari sang ibu, dan Struijk kini menjadi pilar penting di lini pertahanan Leeds United, klub bersejarah di Liga Inggris. Meski berkompetisi di Championship, kilaunya tak pudar dengan ambisi besar Leeds kembali ke Premier League.
Sebagai wakil kapten tim asuhan Daniel Farke, Struijk menunjukkan kematangan dan kepemimpinan di lapangan. Kemampuannya membaca permainan, duel udara kuat, serta distribusi bola akurat menjadikannya bek modern idaman. Tak heran PSSI dan penggemar berharap ia bisa menjadi tembok kokoh bagi Timnas Indonesia.
Namun, Struijk punya impian lain. "Bermain untuk timnas Belanda masih selalu jadi impian saya," ungkapnya dikutip dari ESPN Belanda. Ia menambahkan, "Itu tergantung bagaimana performa saya di lapangan. Anda harus memastikan pelatih tidak bisa mengabaikan Anda. Sejauh ini saya bermain baik, jadi saya berharap bisa terus seperti ini." Pernyataan tegas ini menunjukkan fokusnya pada tim Oranye.
Jayden Oosterwolde: Bintang Fenerbahce yang Masih Memendam Asa Belanda
Tak jauh berbeda, Jayden Oosterwolde juga menjadi incaran Timnas Indonesia. Bek kiri berusia 24 tahun ini merumput di salah satu klub raksasa Turki, Fenerbahce, yang dikenal dengan atmosfer sepak bola panas dan kompetitif. Oosterwolde, dengan darah Indonesia dari ibunya dan Suriname dari ayahnya, adalah talenta muda berpotensi besar.
Performa apiknya di Liga Turki, salah satu liga top Eropa, membuatnya menarik perhatian. Kecepatan, kekuatan fisik, serta kemampuan menyerang dan bertahan seimbang adalah aset utamanya. Kehadirannya di lini belakang Fenerbahce kerap menjadi pembeda, baik dalam menghentikan serangan maupun membangun serangan dari sayap.
Meski PSSI dikabarkan terus menjalin komunikasi, Oosterwolde juga menyimpan mimpi yang sama. "Ya, masih menjadi mimpi saya untuk bermain bagi timnas Belanda," katanya dalam unggahan Youtube A Spor. Ia melanjutkan, "Jadi, mereka menghubungi saya setiap bulan menanyakan apakah saya ingin bermain untuk Indonesia atau Suriname, tetapi saya masih ingin bermain untuk tim nasional Belanda."
Mengapa Timnas Indonesia Begitu Menginginkan Mereka?
Ketertarikan Timnas Indonesia terhadap Struijk dan Oosterwolde bukan tanpa alasan. Sejak era Shin Tae-yong, PSSI gencar mencari pemain keturunan di Eropa untuk memperkuat skuad Garuda. Strategi ini terbukti efektif dengan masuknya Sandy Walsh, Jordi Amat, Ivar Jenner, Rafael Struick, dan Justin Hubner yang memberikan dampak signifikan.
Kualitas liga tempat Struijk dan Oosterwolde bermain menjadi daya tarik utama. Liga Inggris (Championship) dan Liga Turki jauh lebih kompetitif dibandingkan Liga 1 Indonesia. Pengalaman bermain di level tinggi Eropa diyakini akan meningkatkan standar permainan Timnas Indonesia secara keseluruhan, baik taktik, fisik, maupun mentalitas.
Kehadiran bek tengah seperti Struijk dan bek kiri Oosterwolde akan mengisi pos-pos krusial. Keduanya menawarkan solusi untuk pertahanan solid, sekaligus memberikan opsi serangan variatif dari sayap. Harapan melihat Timnas Indonesia bersaing di level Asia bahkan dunia menjadi semakin besar dengan potensi kehadiran mereka.
Dilema Hati: Antara Darah Leluhur dan Impian Masa Depan
Pilihan Struijk dan Oosterwolde mencerminkan dilema pemain keturunan. Di satu sisi, ada panggilan Tanah Air leluhur yang menawarkan kesempatan menjadi pahlawan nasional dan dicintai jutaan penggemar. Di sisi lain, ada impian pribadi mencapai puncak karier internasional, seringkali berarti bermain untuk tim nasional dengan reputasi dan peringkat FIFA lebih tinggi.
Bagi Struijk dan Oosterwolde, timnas Belanda adalah simbol puncak impian tersebut. Belanda adalah kekuatan sepak bola dunia, dengan sejarah panjang melahirkan bintang legendaris dan selalu kontestan turnamen besar. Persaingan masuk skuad Oranye sangat ketat, menuntut performa konsisten di level tertinggi.
Meskipun Timnas Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat dan berhasil menembus Piala Asia, level kompetisi dan prestise timnas Belanda masih menjadi magnet kuat. Mereka melihat peluang bersaing dengan pemain kelas dunia di tim Oranye sebagai tantangan dan validasi kualitas.
Peluang di Masa Depan: Akankah Ada Perubahan Hati?
Meskipun saat ini Struijk dan Oosterwolde kukuh dengan pilihan mereka, dunia sepak bola selalu penuh kejutan. Banyak contoh pemain yang awalnya menolak panggilan negara leluhur, namun seiring waktu, akhirnya bergabung. Faktor seperti kurangnya kesempatan di tim nasional pilihan pertama, usia matang, atau dorongan emosional keluarga bisa menjadi pemicu perubahan hati.
PSSI dan penggemar Timnas Indonesia tentu tidak akan menyerah. Komunikasi intens dan berkelanjutan, ditambah peningkatan performa Timnas Indonesia di kancah internasional, bisa menjadi faktor penentu. Jika Timnas Indonesia mampu konsisten bersaing di level tertinggi Asia dan lolos Piala Dunia, daya tariknya tentu semakin besar.
Kita bisa melihat bagaimana Elkan Baggott atau Shayne Pattynama akhirnya memilih Indonesia setelah mempertimbangkan. Waktu akan menjawab apakah Struijk dan Oosterwolde akan mengikuti jejak mereka, atau tetap teguh pada impian Oranye. Yang jelas, pintu Timnas Indonesia akan selalu terbuka bagi putra-putra terbaik bangsa.
Keputusan Pascal Struijk dan Jayden Oosterwolde memprioritaskan timnas Belanda adalah hak prerogatif mereka. Ini menunjukkan tingginya ambisi mereka bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa. Meski demikian, harapan melihat mereka mengenakan seragam Garuda tetap menyala di hati para penggemar.
Perjalanan Timnas Indonesia menjadi kekuatan disegani di Asia masih panjang. Dukungan dari semua pihak, termasuk pemain diaspora, akan sangat berarti. Semoga di masa depan, impian menyatukan talenta-talenta terbaik keturunan Indonesia di bawah bendera Merah Putih bisa terwujud, demi kejayaan sepak bola Tanah Air.


















