banner 728x250

Terungkap! Alasan di Balik Banjirnya Pemain Diaspora ke Liga 1: Bukan Cuma Soal Nasionalisme!

terungkap alasan di balik banjirnya pemain diaspora ke liga 1 bukan cuma soal nasionalisme portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Fenomena "pulang kampung" para pemain diaspora ke Liga 1 Indonesia belakangan ini memang menyita perhatian publik. Deretan nama besar hingga talenta muda berdarah Indonesia yang sebelumnya berkarier di luar negeri, kini satu per satu merapat ke klub-klub Tanah Air. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah proses yang jauh lebih kompleks dan menarik untuk diulas.

Menurut pengamat sepak bola Indonesia, Mohamad Kusnaeni, derasnya arus pemain diaspora yang memilih Liga 1 adalah sebuah proses alamiah. Ia melihat keputusan ini sebagai langkah strategis bagi para pemain yang memang kesulitan mendapatkan menit bermain yang cukup di klub-klub luar negeri. Bukan berarti mereka tidak berkualitas, namun persaingan di level atas Eropa atau liga-liga lain memang sangat ketat.

banner 325x300

Mengapa Liga 1 Mendadak Jadi Magnet?

Bayangkan saja, seorang pemain profesional hidup dari sepak bola. Mereka butuh bermain, merasakan atmosfer pertandingan, dan terus mengasah kemampuan. Jika terus-menerus duduk di bangku cadangan, performa mereka akan menurun drastis. Inilah dilema yang kerap dihadapi para pemain diaspora.

Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan di Eropa atau negara lain tanpa jaminan menit bermain, atau mencoba peruntungan di tempat baru yang mungkin bukan zona nyaman, namun menawarkan kesempatan lebih besar. Liga 1, dengan segala perkembangannya, kini menjadi opsi yang sangat menarik. Ini bukan hanya soal gaji, tapi juga tentang keberlangsungan karier.

Daftar Panjang Pemain Diaspora yang Merapat

Sejak awal musim 2025, kita sudah melihat beberapa nama besar yang memutuskan untuk bergabung dengan klub-klub Liga Indonesia. Sebut saja Jordi Amat, bek tangguh yang sebelumnya membela Johor Darul Ta’zim (Malaysia), kini berseragam Persija Jakarta. Kehadirannya langsung memberikan dampak signifikan pada lini belakang Macan Kemayoran.

Tak ketinggalan, Rafael Struick yang pindah dari Brisbane Roar (Australia) ke Dewa United, serta Jens Raven dari FC Dordrecht (Belanda) yang kini memperkuat Bali United. Persib Bandung juga tak mau kalah, mereka berhasil mendatangkan Thom Haye dari Almere City dan Eliano Reijnders dari PEC Zwolle (Belanda). Ini adalah bukti nyata daya tarik Liga 1 yang terus meningkat.

Pada pertengahan musim, bursa transfer kembali memanas dengan bergabungnya Shayne Pattynama dari Buriram United (Thailand) ke Persija, dan Dion Markx dari TOP Oss (Belanda) ke Persib. Mereka adalah amunisi baru yang diharapkan mampu mendongkrak performa tim masing-masing. Kehadiran mereka juga menambah kedalaman skuad dan persaingan internal.

Yang terbaru, penyerang muda berbakat Mauro Zijlstra, yang sebelumnya bermain di Eredivisie 2025/2026 bersama FC Volendam, telah sepakat dengan kontrak dua setengah tahun bersama Persija. Tak hanya itu, Ivar Jenner juga meninggalkan FC Utrecht untuk berlabuh di Dewa United. Ini adalah sinyal kuat bahwa Liga 1 semakin diperhitungkan sebagai destinasi karier yang menjanjikan.

Dua Kategori Pemain Diaspora: Veteran Berpengalaman dan Talenta Muda Ambisius

Mohamad Kusnaeni membagi para pemain diaspora yang berlabuh di klub-klub Indonesia menjadi dua kategori besar. Kategori pertama adalah pemain yang sudah melewati masa produktif atau usia emas mereka. Contohnya adalah Jordi Amat yang kini berusia 33 tahun, dan Thom Haye yang menginjak 31 tahun.

Bagi para veteran ini, Liga 1 bisa menjadi tempat untuk melanjutkan karier, berbagi pengalaman, dan tetap berkontribusi di level profesional. Mereka membawa segudang pengalaman dari liga-liga top Eropa, yang sangat berharga untuk pengembangan pemain lokal dan kualitas liga secara keseluruhan. Kehadiran mereka juga bisa menjadi mentor bagi para pemain muda.

Kategori kedua adalah para pemain yang belum mencapai usia emas, bahkan masih sangat muda. Sebut saja Jens Raven (20 tahun) dan Mauro Zijlstra (21 tahun). Bagi mereka, Liga 1 bisa menjadi "batu loncatan" yang sangat strategis untuk karier mereka. Mereka mungkin kesulitan mendapatkan tempat di klub sebelumnya, sehingga berpindah ke Indonesia adalah keputusan logis.

Di Liga 1, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan menit bermain, meningkatkan performa, dan menunjukkan potensi terbaik mereka. Ini adalah investasi jangka panjang. Jika mereka berhasil tampil gemilang di Indonesia, bukan tidak mungkin mereka akan kembali dilirik oleh klub-klub Eropa atau liga lain yang lebih kompetitif di masa depan.

Membantah Anggapan "Terbalik"

Fenomena ini memang sempat memunculkan anggapan sebagian orang bahwa langkah tersebut justru terbalik dengan tujuan pemain-pemain Indonesia untuk bisa bermain di luar, terutama di Eropa. Namun, Kusnaeni punya pandangan berbeda. Ia menekankan bahwa setiap pemain membutuhkan kesempatan untuk berkembang.

"Para pemain diaspora yang masih muda kalau bertahan terus di Eropa belum tentu bisa berkembang atau survive, karena kalau di bench terus maka karier tidak akan berkembang," tegas Kusnaeni. Intinya, bermain adalah kunci. Tanpa menit bermain yang cukup, bakat sehebat apapun akan sulit berkembang dan bahkan bisa meredup.

Dampak Positif Bagi Sepak Bola Indonesia

Kehadiran para pemain diaspora ini membawa banyak dampak positif bagi sepak bola Indonesia. Pertama, kualitas Liga 1 akan meningkat secara signifikan. Mereka membawa standar permainan, profesionalisme, dan taktik yang lebih tinggi dari pengalaman mereka di luar negeri. Ini akan membuat pertandingan semakin menarik dan kompetitif.

Kedua, para pemain lokal akan mendapatkan pengalaman berharga dengan berlatih dan bermain bersama mereka. Mereka bisa belajar banyak tentang etos kerja, disiplin, dan cara bermain di level yang lebih tinggi. Ini adalah transfer ilmu yang tak ternilai harganya.

Ketiga, daya tarik Liga 1 akan semakin meningkat, baik di mata penonton domestik maupun internasional. Dengan adanya nama-nama pemain diaspora yang punya rekam jejak di Eropa, media internasional pun akan lebih sering melirik Liga 1. Ini tentu akan berdampak positif pada sponsor dan pendapatan liga.

Jadi, eksodus pemain diaspora ke Liga 1 bukanlah sekadar tren atau kebetulan. Ini adalah bagian dari evolusi sepak bola Indonesia yang semakin profesional dan menarik. Sebuah proses alamiah yang membuka babak baru bagi perkembangan talenta dan kualitas liga kita. Siapa tahu, dari sinilah lahir bintang-bintang baru yang akan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

banner 325x300