Dunia sepak bola dikejutkan dengan kabar pemecatan Thomas Frank dari kursi pelatih Tottenham Hotspur pada Rabu, 11 Februari 2026. Keputusan ini datang di tengah musim Premier League 2025/2026, memicu spekulasi dan pertanyaan besar di kalangan penggemar serta pengamat. Banyak yang menduga bahwa serangkaian hasil buruk adalah penyebab utama di balik keputusan drastis ini.
Rentetan Hasil Buruk yang Tak Termaafkan
Tottenham Hotspur memang sedang dalam periode yang kurang menguntungkan. Pemecatan Frank terjadi setelah timnya menelan kekalahan tipis 1-2 dari Newcastle United di Liga Inggris akhir pekan sebelumnya. Kekalahan itu menjadi puncak dari delapan pertandingan beruntun di Premier League tanpa kemenangan.
Dalam delapan laga tersebut, Spurs hanya mampu meraih empat hasil imbang dan menelan empat kekalahan. Statistik ini tentu saja sangat mengkhawatirkan bagi klub sekelas Tottenham yang selalu menargetkan posisi di papan atas dan kompetisi Eropa. Tekanan dari para suporter dan manajemen pun kian memuncak, membuat posisi Frank semakin tidak aman.
Bukan Sekadar Kalah: Ada Rival di Baliknya
Namun, siapa sangka, di balik rentetan hasil buruk itu, ada alasan yang jauh lebih mengejutkan dan mungkin terasa konyol bagi sebagian orang. Dikutip dari laporan Telegraph, bukan hanya performa di lapangan yang menjadi pemicu utama pemecatan Frank. Ada satu nama yang secara tak terduga menjadi "duri dalam daging" bagi sang pelatih: Arsenal.
Ya, rival abadi Tottenham Hotspur di London Utara, The Gunners, disebut-sebut menjadi faktor krusial di balik keputusan manajemen Spurs untuk mendepak Frank. Obsesi sang pelatih terhadap Arsenal ini ternyata telah menciptakan keretakan yang mendalam, baik di ruang ganti maupun di mata para suporter.
Awal Mula Blunder: Pujian di Konferensi Pers Perdana
Kesalahan Frank disebut-sebut sudah dimulai sejak hari pertamanya menjabat sebagai pelatih Tottenham. Dalam konferensi pers perdananya setelah direkrut, pelatih asal Denmark itu justru membuat blunder fatal. Alih-alih fokus pada visi dan misi bersama Spurs, ia malah melontarkan pujian kepada Arsenal.
Bayangkan, seorang pelatih baru yang seharusnya memompa semangat dan loyalitas terhadap klub barunya, justru memuji rival bebuyutan. Bagi para penggemar Tottenham, ini adalah sebuah tamparan keras. Mereka yang dikenal sangat membenci Arsenal, tentu saja merasa sangat kecewa dan terkhianati oleh pernyataan tersebut.
Ruang Ganti Memanas: "Tutup Mulut Saja Tentang Arsenal!"
Namun, pujian di depan publik hanyalah permulaan. Obsesi Frank terhadap Arsenal ternyata berlanjut dan bahkan semakin parah di ruang ganti pemain. Ia kerap menjadikan Arsenal sebagai rujukan utama saat berbicara kepada para pemainnya, baik sebelum maupun sesudah pertandingan.
Sumber dari Telegraph mengungkapkan bahwa sejumlah pemain Tottenham mulai merasa frustrasi dengan kebiasaan sang pelatih. "Dia terus-menerus bercerita kepada para pemain tentang Arsenal dan mereka langsung bosan," ujar salah satu sumber. "Bahkan sebelum dan sesudah pertandingan di Emirates, dia memberi tahu mereka betapa bagusnya Arsenal."
Kondisi ini menciptakan suasana tidak nyaman di antara para pemain. Mereka merasa bahwa fokus tim seharusnya ada pada performa Tottenham sendiri, bukan pada kehebatan rival. "Perasaan di antara beberapa pemain adalah ‘tutup mulut saja tentang Arsenal’," tambah sumber tersebut, menggambarkan betapa muaknya para penggawa Spurs.
Skandal Kopi Arsenal: Puncak Kemarahan Suporter
Kekecewaan terhadap Frank tidak hanya terbatas di kalangan pemain. Para suporter Tottenham juga memiliki perasaan yang sama, bahkan mungkin lebih intens. Puncaknya terjadi dalam sebuah insiden yang sulit dilupakan. Frank terlihat berjalan-jalan di Stadion Vitality, markas Bournemouth, sembari memegang cangkir kopi berlogo Arsenal.
Momen ini terjadi sebelum pertandingan di mana Tottenham akhirnya kalah 2-3 dari Bournemouth. Bayangkan kemarahan para suporter yang melihat pelatih tim kesayangan mereka terang-terangan menunjukkan "afeksi" kepada rival abadi, sesaat sebelum tim mereka menelan kekalahan. Ini adalah pemandangan yang sangat melukai hati dan memicu kemarahan massal.
Meme dan Candaan Pahit: Otoritas yang Tergerus
Insiden cangkir kopi Arsenal itu dengan cepat menyebar dan menjadi viral di media sosial. Para suporter Tottenham tidak tinggal diam. Mereka mulai membuat dan menyebarkan gambar-gambar yang mengolok-olok Frank, menggambarkannya sebagai seorang penggemar Arsenal yang menyamar. Meme-meme ini membanjiri lini masa, menunjukkan betapa dalamnya rasa kecewa dan penghinaan yang dirasakan.
Yang lebih parah, gambar-gambar ejekan tersebut tidak hanya beredar di kalangan suporter. Laporan menyebutkan bahwa meme dan candaan pahit itu bahkan sampai ke staf hingga para pemain Tottenham sendiri. Ini adalah pukulan telak bagi otoritas dan kredibilitas seorang pelatih. Ketika staf dan pemain mulai meragukan loyalitas dan profesionalisme manajer mereka, maka kehancuran tim tinggal menunggu waktu.
Rivalitas Abadi: Garis Merah yang Tak Boleh Dilanggar
Rivalitas antara Tottenham Hotspur dan Arsenal, yang dikenal sebagai North London Derby, adalah salah satu yang paling sengit dan berakar dalam di dunia sepak bola. Ini bukan sekadar pertandingan biasa; ini adalah pertarungan harga diri, identitas, dan dominasi di kota London. Bagi seorang manajer Spurs, menunjukkan rasa hormat, apalagi kekaguman, terhadap Arsenal adalah pelanggaran garis merah yang tak termaafkan.
Sejarah panjang persaingan, momen-momen dramatis, dan perbedaan filosofi telah membentuk kebencian yang mendalam antara kedua klub. Seorang pelatih diharapkan menjadi simbol dari semangat dan perlawanan terhadap rival. Ketika Frank gagal memahami esensi rivalitas ini, ia secara tidak langsung telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh klub dan para penggemar.
Akhir Tragis Sebuah Obsesi
Pada akhirnya, kombinasi dari hasil buruk di lapangan dan obsesi "terlarang" terhadap Arsenal menjadi resep sempurna bagi kejatuhan Thomas Frank. Manajemen Tottenham Hotspur, yang mungkin awalnya bisa memaklumi hasil yang kurang memuaskan, tidak bisa lagi mentolerir perilaku yang secara fundamental merusak semangat dan identitas klub.
Pemecatan Frank menjadi pelajaran berharga bagi setiap pelatih yang akan datang. Di dunia sepak bola, khususnya dalam rivalitas sengit seperti North London Derby, loyalitas bukan hanya tentang performa di lapangan, tetapi juga tentang pemahaman mendalam terhadap budaya, sejarah, dan sentimen para penggemar. Sebuah cangkir kopi berlogo rival, atau pujian yang salah tempat, bisa menjadi awal dari akhir sebuah karier. Tottenham kini harus mencari nakhoda baru yang benar-benar memahami arti dari "COYS" (Come On You Spurs) dan membenci Arsenal, sejati-sejati.


















