Kisah loyalitas seorang penggemar sepak bola memang seringkali unik, bahkan ekstrem. Namun, apa yang dialami Frank Ilett, seorang fans Manchester United, baru-baru ini sungguh di luar dugaan. Nazar uniknya untuk tidak memotong rambut hingga Setan Merah meraih lima kemenangan beruntun, justru berujung pada serangan fisik dari sesama suporter di Old Trafford.
Insiden ini terjadi di tengah pertandingan krusial Liga Inggris, menambah drama pada kisah yang sudah viral di media sosial. Frank Ilett, yang dikenal dengan rambut panjangnya yang khas, menjadi sorotan bukan hanya karena nazarnya, tetapi juga karena perlakuan tak menyenangkan yang ia terima. Kejadian ini sontak memicu perdebatan tentang batas loyalitas dan fanatisme dalam dunia sepak bola.
Nazar Unik yang Bikin Geger Jagat Medsos
Semua bermula dari sebuah janji yang dibuat Frank Ilett di media sosial pada Oktober 2024 lalu. Ia dengan berani menyatakan tidak akan menyentuh gunting rambutnya sampai tim kesayangannya, Manchester United, berhasil memenangkan lima pertandingan secara berturut-turut. Sebuah nazar yang terdengar sederhana, namun ternyata sangat sulit diwujudkan.
Nazar ini awalnya hanyalah sebuah lelucon, respons atas performa MU yang kala itu sedang terseok-seok dan jauh dari harapan para penggemar. Frank Ilett mungkin tidak menyangka, tantangan iseng itu justru menarik perhatian banyak orang dan membuat pengikut media sosialnya melonjak drastis. Rambutnya yang terus memanjang menjadi simbol perjuangan dan harapan yang tak kunjung tiba bagi para fans Setan Merah.
Old Trafford Memanas: Insiden Penyerangan di Laga Krusial
Insiden tak terduga itu terjadi saat Manchester United menjamu Chelsea di Old Trafford pada Sabtu, 20 September 2025. Di tengah riuhnya pertandingan Liga Inggris pekan kelima Premier League 2025/2026 yang dimenangkan MU 2-1 itu, suasana di tribune mendadak tegang. Kemenangan penting ini seharusnya membawa kegembiraan, namun bagi Ilett, momen itu justru diwarnai kejadian pahit.
Frank Ilett yang sedang asyik menyaksikan laga, tiba-tiba dihampiri seorang oknum suporter MU lainnya. Tanpa peringatan, pria tersebut langsung menjambak rambut panjang Ilett dengan kasar. Momen mengejutkan ini terekam dan segera menyebar, memperlihatkan betapa cepatnya suasana bisa berubah dari euforia menjadi ketegangan.
Situasi sempat memanas, meski beberapa orang di sekitar mencoba menenangkan, penyerang itu tetap berusaha mengejar Ilett. Alasan di balik amukan ini cukup mengejutkan: Ilett dianggap bukan fans sejati MU oleh penyerangnya. Sebuah tuduhan yang ironis, mengingat nazarnya justru menunjukkan loyalitas yang luar biasa, meski dengan cara yang tidak konvensional.
Bukan Sekadar Rambut Panjang Biasa
Sejak nazar itu diucapkan, sudah 351 hari berlalu. Selama periode itu, Manchester United memang belum pernah berhasil meraih lima kemenangan beruntun. Sebuah fakta yang membuat rambut Ilett terus tumbuh tanpa henti, menjadi sangat panjang, lebat, dan mengembang, menjadikannya ciri khas yang tak bisa disembunyikan.
Rambut panjangnya bukan hanya sekadar gaya, melainkan sebuah penanda dari janji yang belum terpenuhi. Sebelum insiden fisik ini, Ilett memang sering menjadi sasaran hujatan di media sosial karena nazarnya. Banyak yang menganggapnya mencari sensasi atau bahkan membawa sial bagi tim. Namun, insiden di Old Trafford ini adalah kali pertama ia mengalami serangan fisik secara langsung, sebuah pengalaman yang tentu saja mengejutkan dan menyakitkan.
Tetap Teguh, Optimisme Frank Ilett Tak Goyah
Meski baru saja menjadi korban penyerangan, semangat Frank Ilett sama sekali tidak padam. Ia tetap teguh pada nazarnya dan tidak berniat memotong rambutnya sedikit pun. Baginya, janji adalah janji, dan ia akan terus menanti momen kemenangan beruntun itu tiba.
Bahkan, setelah kemenangan MU atas Chelsea, ia langsung mengunggah pesan optimis di media sosial pribadinya. "’Tempat yang luar biasa. Rambut basah, tapi tetap tersenyum! Kemenangan besar hari ini! Pertandingan yang gila di akhir! 1 poin, 4 poin lagi. AYO UNITED,’ tulis Ilett penuh semangat." Pesan ini menunjukkan bahwa insiden tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya.
Ilett percaya, kemenangan lima laga beruntun yang ia nantikan akan segera terwujud, mungkin bahkan sebelum akhir tahun ini. Optimisme ini menjadi kekuatan baginya untuk terus mempertahankan nazarnya, terlepas dari segala tantangan dan cibiran yang ia terima. Ia membuktikan bahwa loyalitas sejati tidak mudah luntur oleh tekanan.
Fenomena Fans Garis Keras: Batasan Antara Loyalitas dan Obsesi
Insiden yang menimpa Frank Ilett ini memunculkan pertanyaan besar tentang batas antara loyalitas dan obsesi dalam dunia suporter sepak bola. Bagaimana bisa sebuah nazar yang awalnya hanya lelucon, berujung pada tindakan kekerasan dari sesama penggemar? Ini menunjukkan bahwa di balik kecintaan yang mendalam, terkadang fanatisme yang berlebihan bisa mengaburkan nalar dan memicu tindakan yang tidak pantas.
Kecintaan pada tim memang bisa sangat mendalam, menjadi bagian dari identitas diri. Namun, kasus Ilett menunjukkan betapa rentannya seseorang menjadi target amarah, hanya karena dianggap tidak ‘cukup’ loyal atau berbeda dari mayoritas. Ini adalah pengingat penting bahwa dukungan harus selalu dilandasi rasa hormat dan sportivitas, bukan kekerasan.
Kisah Frank Ilett adalah pengingat bahwa di balik euforia kemenangan dan kekecewaan kekalahan, ada dinamika kompleks dalam komunitas suporter. Semoga saja, nazar rambut panjang Ilett segera berakhir dengan kebahagiaan, dan insiden kekerasan seperti ini tidak terulang lagi di masa depan. Loyalitas sejati seharusnya merangkul, bukan memukul.


















