Dua nama besar yang selama ini menjadi pilar utama Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam dan Pratama Arhan, kembali absen dari daftar skuad Garuda. Keputusan pelatih Patrick Kluivert ini sontak memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar sepak bola Tanah Air.
Keduanya tidak masuk dalam 28 pemain yang dipanggil untuk putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, yang akan digelar di Arab Saudi. Absennya Asnawi dan Arhan kali ini bukan yang pertama, mengindikasikan adanya pergeseran signifikan dalam strategi dan pilihan pemain di bawah kepemimpinan Kluivert.
Kabar Mengejutkan dari Skuad Garuda
Ini bukan kali pertama Asnawi dan Arhan ‘menghilang’ dari daftar panggil Timnas Indonesia. Sebelumnya, mereka juga absen dalam dua laga uji coba penting pada awal September 2025.
Saat itu, skuad Garuda menghadapi Taiwan dan Lebanon di Surabaya, Jawa Timur, tanpa kehadiran dua bek sayap andalan tersebut. Konsistensi absennya mereka menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran di benak para pendukung setia Timnas.
Dari Andalan STY, Kini Terpinggirkan
Situasi yang dialami Asnawi dan Arhan saat ini tentu sangat berbeda dengan era kepelatihan Shin Tae-yong (STY). Di bawah STY, keduanya adalah jaminan mutu dan tak tergantikan di lini belakang Timnas Indonesia.
Asnawi bahkan sempat mengemban ban kapten selama bertahun-tahun, menjadi pemimpin di lapangan dengan karakternya yang lugas dan tak kenal lelah. Ia adalah simbol semangat juang Garuda di setiap pertandingan penting.
Sementara Pratama Arhan, dengan lemparan ke dalam khasnya yang mematikan, selalu menjadi senjata rahasia yang kerap merepotkan lawan. Kontribusinya dalam membangun serangan dan memberikan assist tak terhitung jumlahnya.
Peran krusial mereka di era STY membuat banyak pihak terkejut melihat keduanya kini semakin terpinggirkan. Seolah-olah, ada lembaran baru yang dibuka di Timnas Indonesia, meninggalkan jejak-jejak lama.
Pilihan Baru Patrick Kluivert: Siapa Saja Penggantinya?
Patrick Kluivert, legenda sepak bola Belanda yang kini menukangi Timnas Indonesia, tampaknya memiliki visi dan preferensi pemain yang berbeda. Keputusannya untuk tidak memanggil Asnawi dan Arhan bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari perombakan skuad.
Untuk Pratama Arhan, meskipun sempat dipanggil untuk FIFA Matchday Maret dan Juni 2025, ia tidak pernah masuk dalam daftar susunan pemain inti. Ini menunjukkan bahwa Kluivert sedang mencari opsi lain yang lebih sesuai dengan skema permainannya.
Kluivert tampaknya lebih condong pada nama-nama baru dan pemain naturalisasi untuk mengisi posisi bek kiri. Sebut saja Calvin Verdonk, Dean James, Shayne Pattynama, dan Yance Sayuri yang kini menjadi pilihan utama.
Nasib Asnawi tak jauh berbeda. Bek Port FC ini sama sekali tidak dilirik Kluivert dalam dua pertandingan pertamanya sebagai pelatih, yakni saat Timnas Indonesia kalah 1-5 dari Australia dan menang 1-0 atas Bahrain pada Maret 2025.
Meskipun sempat dipanggil untuk laga melawan China dan Jepang pada Juni 2025, Asnawi juga tak masuk dalam daftar susunan pemain. Ia kini harus bersaing ketat dengan nama-nama seperti Kevin Diks, Sandy Walsh, Eliano Reijnders, dan Yakob Sayuri di posisi bek sayap kanan.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa Kluivert tidak ragu untuk bereksperimen dan memberikan kesempatan kepada wajah-wajah baru. Ia tampaknya ingin membangun tim dengan karakter dan gaya bermain yang sepenuhnya baru, terlepas dari sejarah atau popularitas pemain.
Masa Depan Asnawi dan Arhan di Timnas: Sebuah Pertanyaan Besar
Pergeseran drastis ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan Asnawi Mangkualam dan Pratama Arhan di skuad Garuda. Apakah ini sinyal bahwa era mereka di Timnas Indonesia perlahan mulai berakhir?
Kluivert, dengan visinya sendiri, tampaknya sedang membangun fondasi tim yang berbeda, mengutamakan pemain yang sesuai dengan strateginya. Ini bisa berarti bahwa adaptasi atau perubahan gaya bermain menjadi kunci bagi Asnawi dan Arhan jika ingin kembali ke tim utama.
Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat kontribusi besar keduanya selama ini. Namun, sepak bola adalah tentang regenerasi, persaingan, dan adaptasi. Setiap pelatih memiliki filosofi yang berbeda, dan para pemain harus bisa menyesuaikan diri.
Penggemar Timnas Indonesia kini hanya bisa menunggu dan melihat, bagaimana performa skuad Garuda tanpa kehadiran dua ikon ini di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Apakah keputusan Kluivert akan membuahkan hasil positif, atau justru menimbulkan kerinduan akan kehadiran Asnawi dan Arhan?
Hanya waktu yang akan menjawab apakah Asnawi dan Arhan akan menemukan kembali tempat mereka di masa mendatang, ataukah ini adalah awal dari babak baru dalam karier internasional mereka. Yang jelas, persaingan di Timnas Indonesia kini semakin ketat dan menarik untuk disimak.


















