banner 728x250

Kontroversi Ballon d’Or 2025: Lamine Yamal ‘Dicurangi’ Usia, Bos La Liga Buka Suara!

Pemain muda Spanyol memegang trofi, latar belakang kerumunan dan rumput hijau.
Lamine Yamal tampil bersama trofi, sorotan pencapaiannya meski kalah dari Dembele di Ballon d'Or 2025.
banner 120x600
banner 468x60

Pengumuman pemenang Ballon d’Or 2025 baru saja mengguncang dunia sepak bola, meninggalkan jejak perdebatan panas di kalangan penggemar dan pakar. Nama Ousmane Dembele dari Paris Saint-Germain (PSG) keluar sebagai pemenang, mengalahkan sensasi muda Barcelona, Lamine Yamal, dan rekan setimnya, Vitinha. Namun, di balik gemerlap trofi, ada narasi yang lebih dalam, terutama dari Presiden La Liga, Javier Tebas, yang menyebut usia sebagai faktor krusial di balik kegagalan Yamal.

Kamis, 25 September 2025, menjadi tanggal yang tercatat dalam sejarah, bukan hanya karena Dembele meraih penghargaan individu tertinggi, tetapi juga karena pernyataan kontroversial yang menyertainya. Tebas, sosok yang tak pernah sungkan menyuarakan pendapatnya, secara blak-blakan menyoroti usia Lamine Yamal sebagai penghalang utama. Menurutnya, talenta muda Spanyol itu seharusnya sudah mengangkat trofi emas tersebut jika saja ia beberapa tahun lebih tua.

banner 325x300

Drama di Balik Panggung Ballon d’Or 2025

Musim 2024/2025 memang menyajikan persaingan yang ketat di level tertinggi sepak bola Eropa. Ousmane Dembele, yang selama ini dikenal dengan kecepatan dan dribel mematikannya, berhasil membawa PSG meraih treble winner yang fantastis, termasuk gelar Liga Champions yang diidam-idamkan. Kontribusinya tak terbantahkan, menjadikannya kandidat kuat untuk penghargaan individu.

Di sisi lain, Lamine Yamal, dengan usianya yang baru menginjak 21 tahun saat penghargaan ini diberikan, telah menunjukkan performa yang luar biasa bersama Barcelona. Ia menjadi motor serangan tim, mengantarkan Blaugrana meraih dua gelar domestik yang prestisius. Tak hanya itu, Yamal juga turut membawa timnas Spanyol menjadi runner-up di UEFA Nations League, membuktikan kualitasnya di panggung internasional.

Javier Tebas: Usia Jadi Penghalang Utama Yamal?

Pernyataan Javier Tebas menjadi sorotan utama. Ia berpendapat bahwa jika Lamine Yamal sudah berusia di atas 23 tahun, trofi Ballon d’Or 2025 pasti sudah dalam genggamannya. "Jika usianya lebih dari 23 tahun, dia pasti juga akan memenangkannya, saya yakin, tetapi karena dia lebih muda, mereka memberinya yang lain [Kopa Trophy]," kata Tebas, seperti dikutip dari ESPN.

Argumen ini sontak memicu perdebatan sengit. Apakah adil jika usia menjadi faktor penentu dalam penghargaan seprestisius Ballon d’Or? Tebas seolah menyiratkan adanya "aturan tak tertulis" bahwa seorang pemain harus mencapai kematangan usia tertentu sebelum dianggap layak meraih penghargaan tertinggi ini, terlepas dari performa gemilangnya.

Kopa Trophy: Penghargaan Konsolasi atau Pengakuan Potensi?

Meski gagal membawa pulang Ballon d’Or, Lamine Yamal tidak pulang dengan tangan kosong. Ia berhasil meraih Trofi Kopa, penghargaan yang diberikan kepada pemain muda terbaik di dunia. Ini adalah pengakuan atas bakat luar biasa dan potensi tak terbatas yang dimilikinya. Namun, bagi sebagian pihak, termasuk mungkin Yamal sendiri, Kopa Trophy terasa seperti "penghargaan konsolasi" di tengah ambisi besar untuk meraih Ballon d’Or.

Kemenangan Kopa Trophy ini seharusnya menjadi pemicu semangat bagi Yamal. Ini membuktikan bahwa dunia mengakui kehebatannya di usia yang sangat muda. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apakah ada bias usia dalam penilaian Ballon d’Or yang membuat pemain muda, sebrilian apapun, harus menunggu giliran?

Joan Laporta: Liga Champions adalah Kunci

Berbeda dengan Tebas, Presiden Barcelona, Joan Laporta, memiliki pandangan lain mengenai kegagalan Yamal. Menurut Laporta, kunci utama dalam perebutan Ballon d’Or adalah kesuksesan di Liga Champions. Musim lalu, Barcelona harus menelan pil pahit setelah disingkirkan Inter Milan di babak semifinal Liga Champions. Inter Milan sendiri akhirnya harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan PSG di final.

Pandangan Laporta ini memperkuat asumsi bahwa penghargaan Ballon d’Or sangat dipengaruhi oleh prestasi tim, terutama di kompetisi paling bergengsi seperti Liga Champions. Dembele, dengan treble winner PSG termasuk gelar Liga Champions, jelas memiliki keunggulan signifikan dalam aspek ini. Ini menimbulkan pertanyaan, seberapa besar bobot performa individu dan seberapa besar bobot kesuksesan tim dalam penilaian Ballon d’Or?

Yamal dan Sejarah yang Tertunda

Andai saja Lamine Yamal berhasil memenangkan Ballon d’Or 2025, ia akan mencetak sejarah sebagai pemenang termuda sepanjang masa. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menunjukkan kematangan dan skill di atas rata-rata. Namun, sejarah itu harus tertunda, setidaknya untuk saat ini.

Kisah Yamal mengingatkan kita pada talenta-talenta muda lain yang harus bersabar. Lionel Messi meraih Ballon d’Or pertamanya di usia 22 tahun, Cristiano Ronaldo di usia 23 tahun. Yamal, dengan usia 21 tahun saat ini, masih memiliki banyak waktu untuk mengukir namanya di daftar pemenang. Potensinya tak terbantahkan, dan banyak yang percaya ini hanyalah masalah waktu.

Masa Depan Cerah Menanti Lamine Yamal

Kegagalan meraih Ballon d’Or 2025 bukanlah akhir dari segalanya bagi Lamine Yamal. Justru, ini bisa menjadi motivasi tambahan untuk terus berkembang dan membuktikan diri. Dengan bakat alami, etos kerja, dan dukungan dari klub sebesar Barcelona, masa depannya terlihat sangat cerah.

Dunia sepak bola akan terus menantikan kiprah Yamal. Apakah ia akan mampu membawa Barcelona meraih kejayaan Liga Champions di masa depan? Apakah ia akan mematahkan "kutukan usia" yang disinggung Tebas? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, perdebatan seputar Ballon d’Or 2025 ini telah membuka diskusi penting tentang kriteria penilaian dan peran usia dalam penghargaan individu paling prestisius di sepak bola.

banner 325x300