banner 728x250

Gagal Lolos Piala Dunia 2026, Kantor PSSI Jatim ‘Diserbu’ Pesan Menohok: Siapa Saja yang Kena Semprot?

gagal lolos piala dunia 2026 kantor pssi jatim diserbu pesan menohok siapa saja yang kena semprot portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Gelombang kekecewaan suporter sepak bola Indonesia mencapai puncaknya di Surabaya. Kantor Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur mendadak menjadi pusat perhatian, bukan karena prestasi, melainkan karena ‘serbuan’ protes keras. Kejadian ini dipicu oleh kegagalan Timnas Indonesia melaju ke putaran final Piala Dunia 2026, sebuah mimpi yang kembali kandas.

Pemandangan tak biasa terlihat di bagian depan kantor Asprov PSSI Jatim pada Senin (13/10). Puluhan poster bernada sindiran tajam dan karangan bunga ‘berduka’ memenuhi area tersebut. Aksi ini jelas menyuarakan kekecewaan mendalam para penggemar setia sepak bola Tanah Air.

banner 325x300

Target utama dari protes ini bukan hanya Asprov Jatim semata. Sebagian besar pesan yang terpampang nyata ditujukan langsung kepada pengurus pusat PSSI dan, yang paling disorot, adalah pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert. Ini menjadi bukti betapa besar harapan yang digantungkan pada pundak mereka.

Gelombang Kekecewaan Melanda Surabaya

Kekecewaan suporter Timnas Indonesia memang tak terbendung. Setelah impian berlaga di Piala Dunia 2026 harus pupus, energi negatif itu tumpah ruah dalam bentuk protes di kantor PSSI Jatim. Lokasi ini dipilih sebagai representasi federasi sepak bola di tingkat regional.

Beberapa poster dan karangan bunga yang terpasang memiliki pesan yang sangat lugas dan menusuk. Salah satunya berbunyi, "Silakan Pergi jika Tidak dengan Hati," sebuah sindiran keras bagi mereka yang dianggap tidak sepenuh hati mengurus sepak bola nasional. Pesan ini mencerminkan tuntutan suporter akan komitmen penuh dari para petinggi PSSI.

Tak hanya itu, ada juga tuntutan yang lebih spesifik dan berani. Poster lain menyerukan, "Segera Kirim Surat Pengeluaran Erick Thohir, Arya Sinulingga, Patrick Kluivert ke Kantor PSSI Pusat." Ini menunjukkan bahwa suporter tidak hanya kecewa pada hasil, tetapi juga menuntut pertanggungjawaban dari individu-individu kunci dalam federasi.

Sekretaris Asprov PSSI Jatim, Djoko Tetuko, mengungkapkan bahwa pihaknya baru mengetahui adanya kiriman poster dan karangan bunga tersebut pada Senin pagi. "Poster-poster kecil itu ditempel di pintu, karangan bunga yang hitam itu, terus yang putih isinya sama. Tahunya pagi tadi," kata Djoko. Ia menambahkan bahwa tidak ada yang tahu kapan tepatnya protes itu dipasang, mengingat kantor tutup pada Sabtu dan Minggu.

Asprov Jatim Angkat Bicara: "Kami Tak Ada Kaitan Langsung dengan Timnas"

Menanggapi gelombang protes ini, Djoko Tetuko segera memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa Asprov PSSI Jatim tidak memiliki hubungan langsung dengan Timnas Indonesia. Menurutnya, urusan tim nasional sepenuhnya menjadi kewenangan federasi pusat di Jakarta.

"Kalau karangan bunganya, pasti hubungannya dengan Timnas. Karena kan bunyi-bunyinya itu untuk mengkritisi segera kita disuruh kirim [surat ke federasi]," ucap Djoko. Ia merasa Asprov Jatim hanya menjadi perantara, bukan pihak yang bertanggung jawab langsung atas performa Timnas.

Djoko menjelaskan lebih lanjut mengenai peran Asprov PSSI Jatim. "Asprov tidak ada kaitannya dengan Timnas. Kita ini hanya ngurusi liga amatir seperti Liga 4, Suratin, dan SSB," tambahnya. Ini menunjukkan adanya pemisahan tugas yang jelas antara federasi pusat dan regional.

Meskipun demikian, Asprov PSSI Jatim tetap terbuka menerima masukan dari masyarakat sepak bola di daerah. Namun, Djoko menegaskan bahwa mereka tidak memiliki mekanisme formal untuk menindaklanjuti aspirasi atau surat terkait Timnas. "Timnas itu di PSSI pusat. Jadi dia berdiri sendiri," katanya.

Demokrasi Sepak Bola yang "Tertib"

Meski menjadi sasaran protes, Asprov PSSI Jatim justru melihat aksi ini dari sisi positif. Djoko Tetuko menganggap bahwa protes tersebut mencerminkan demokrasi yang sehat dalam dunia sepak bola, terutama karena dilakukan tanpa perusakan. Ini adalah bentuk penyampaian aspirasi yang tertib dan beradab.

"Kalau suporter yang berani ke sini dan tertib, itu kan tertib kita anggap kan ya. Ya tertib," ucap Djoko. Ia menambahkan bahwa pihaknya tidak akan mengambil langkah hukum atas kejadian ini. Hal ini menunjukkan sikap toleransi dan pemahaman terhadap kekecewaan suporter.

Djoko juga berharap agar ke depannya, jika ada aliansi suporter yang ingin menyampaikan aspirasi, mereka bisa melakukannya dengan cara yang lebih formal. "Misalnya kalau aliansi suporter itu lebih tertib lagi, dia kirim surat yang tertuju pada, yang isinya apa, poin 1, poin 2, poin 3, dan jelas ada pengirimnya. Itu andaikata seperti itu. Kita bisa menyampaikan ke PSSI, bahwa kita dikirim surat ini kita sampaikan saja," jelasnya. Ini adalah ajakan untuk dialog yang lebih konstruktif.

Sorotan Tajam untuk Pelatih dan Manajemen PSSI Pusat

Tuntutan untuk memecat Patrick Kluivert menjadi salah satu poin utama dalam protes tersebut. Djoko Tetuko menilai hal itu sebagai sesuatu yang lumrah dalam dunia sepak bola. "Jadi kalau cuma, kalau intinya kan mengganti pelatih gitu kan ya? Patrick Kluivert diganti, ya saya kira kalau itu kan hampir semua pengamat, lain-lain, karena gagal ya [responnya seperti itu] biasa kan ya," ujarnya.

Kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia memang selalu menjadi pemicu kritik keras terhadap pelatih. Ekspektasi publik yang tinggi terhadap Timnas membuat setiap kegagalan terasa begitu menyakitkan. Ini bukan hanya tentang kalah dalam pertandingan, tetapi juga tentang pupusnya harapan jutaan penggemar.

Namun, kritik tidak hanya berhenti pada pelatih. Nama-nama seperti Erick Thohir dan Arya Sinulingga yang merupakan bagian dari manajemen PSSI pusat juga turut disebut. Ini menunjukkan bahwa suporter melihat masalah ini sebagai kegagalan sistemik yang melibatkan berbagai elemen di federasi. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari seluruh jajaran yang terlibat dalam pengelolaan Timnas.

Bukan Kali Pertama: Sejarah Protes di Sepak Bola Indonesia

Kejadian serupa, di mana protes dengan bentuk karangan bunga dan poster terjadi, bukanlah hal baru dalam sejarah sepak bola Indonesia. Djoko Tetuko mengungkapkan bahwa protes semacam ini juga pernah terjadi pada masa awal kepemimpinan pelatih Shin Tae Yong. Kala itu, performa Timnas dianggap belum memuaskan, dan suporter pun menyuarakan kekecewaannya.

Ini menunjukkan bahwa suporter Indonesia memiliki semangat dan keberanian untuk menyuarakan aspirasi mereka. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika sepak bola nasional, yang selalu menuntut yang terbaik dari tim kebanggaan. Protes ini adalah cerminan dari kecintaan yang mendalam, yang terkadang berubah menjadi kekecewaan yang berapi-api.

Apa Selanjutnya? Harapan dan Tantangan di Depan

Kegagalan Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026 harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran bagi PSSI pusat. Protes suporter di Surabaya ini adalah alarm keras yang tidak bisa diabaikan. Federasi dituntut untuk segera merespons dengan langkah konkret dan transparan.

Tantangan ke depan tidaklah mudah. PSSI harus mencari solusi terbaik untuk Timnas, mulai dari evaluasi pelatih, strategi pengembangan pemain, hingga perbaikan tata kelola federasi secara menyeluruh. Harapan jutaan masyarakat Indonesia untuk melihat Timnas berlaga di kancah dunia tidak boleh lagi kandas begitu saja.

Para suporter, dengan segala kekecewaan dan harapan mereka, akan terus mengawasi. Mereka adalah "wasit" terpenting yang akan selalu menuntut perbaikan dan prestasi. Semoga, dari setiap protes yang muncul, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk kemajuan sepak bola Indonesia di masa mendatang.

banner 325x300